
Penulis
FERDI FERNANDO PUTRA
Mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi
Email: ferdifernando390@gmail.com
Instagram : @ferdifernandop
Banyuwangi hari ini sering dipuja sebagai “The Sunrise of Java” dan ikon pariwisata Jawa Timur. Dari Kawah Ijen hingga festival-festival budaya, wajah Banyuwangi dikemas cantik dalam ruang digital. Media sosial penuh dengan narasi keberhasilan pembangunan yang menampilkan wisatawan asing, event meriah, dan citra modernitas. Namun, di balik layar megah itu, ada sisi lain Banyuwangi yang sering terlupakan: nasib petani dan ketahanan pangan lokal.
Sebagai mahasiswa Agribisnis Politeknik Negeri Banyuwangi, saya, Ferdi Fernando Putra, memandang bahwa Banyuwangi sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, pariwisata memang memberi dampak positif terhadap ekonomi. Tetapi di sisi lain, glorifikasi pariwisata kerap menutupi realitas pahit: sulitnya petani mendapatkan pupuk subsidi, anjloknya harga gabah, hingga minimnya akses pasar bagi hasil bumi Banyuwangi.
Manipulasi Narasi dalam Ruang Digital
Fenomena ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan apa yang disebut McCombs dan Shaw sebagai agenda setting. Apa yang ditampilkan media membentuk persepsi publik, dan yang tidak ditampilkan dianggap tidak penting. Dalam kasus Banyuwangi, yang ditonjolkan adalah kemegahan festival, bukan realitas desa.
Padahal, Banyuwangi adalah salah satu lumbung pangan strategis Jawa Timur. Ironis ketika “branding pariwisata” begitu kuat, tetapi “branding pangan” hampir tak terdengar. Akibatnya, isu vital seperti krisis pupuk atau harga panen justru terpinggirkan dari ruang publik. Ini bisa berbahaya, karena jika sektor pertanian terganggu, ketahanan pangan daerah ikut terancam.
Generasi Muda sebagai Penjaga Narasi
Generasi muda Banyuwangi tidak boleh pasif melihat fenomena ini. Kita harus menjadi pengimbang narasi—tidak menolak pariwisata, tetapi juga tidak membiarkan pertanian terpinggirkan.
<span;><span;>- Pertama, mahasiswa harus berani mengisi ruang digital dengan wacana kritis. Jika media mainstream lebih suka menyoroti festival, maka mahasiswa bisa menyoroti harga gabah yang anjlok.
<span;><span;>- Kedua, mahasiswa perlu memperkuat literasi publik agar tidak mudah termakan euforia pembangunan semu. Kemajuan sejati bukan diukur dari jumlah wisatawan, melainkan dari seberapa sejahtera rakyat desa.
<span;><span;>- Ketiga, mahasiswa bisa menjadi penghubung antara petani dan kebijakan. Melalui riset, organisasi, atau advokasi, mahasiswa dapat mendorong agar suara petani Banyuwangi tidak terkubur di balik gemerlap panggung pariwisata.
Demokrasi yang Berpihak
Demokrasi sejati bukan hanya soal pesta politik lima tahunan. Demokrasi berarti menghadirkan ruang publik di mana suara rakyat—terutama kelompok rentan seperti petani—mendapat tempat utama. Jika ruang digital terus dikuasai oleh narasi sepihak, maka kita sebenarnya sedang melestarikan demokrasi semu.
Sebagai mahasiswa, saya menegaskan bahwa Banyuwangi butuh keseimbangan. Pariwisata penting, tetapi pangan adalah fondasi. Festival bisa menjadi wajah, tetapi sawah adalah jantung. Tanpa sawah yang terjaga, wajah Banyuwangi yang cantik hanya akan menjadi topeng rapuh.
Penutup
Banyuwangi memang tengah bersinar di mata dunia, tetapi sinar itu jangan sampai menyilaukan mata kita dari kenyataan desa. Generasi muda harus memastikan bahwa pembangunan tidak hanya elitis, melainkan inklusif.
Saya percaya, masa depan Banyuwangi bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak turis yang datang, melainkan oleh seberapa kuat kita menjaga petani, pangan, dan martabat rakyatnya. Karena sejatinya, Banyuwangi yang hebat adalah Banyuwangi yang tidak melupakan akar: tanah, sawah, dan keringat petani.








