
Teropongindonesianews.com
RAGAM BISNIS – HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy yang Akrab Di Panggil Jhi Lilur raja Tambang Indonesia baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Gresik, Jawa Timur, untuk meninjau konsesi tambang dolomit miliknya dan melihat lokasi potensial untuk pembangunan pabrik.
Kunjungan ini mengungkap potensi besar dari cadangan dolomit yang ia miliki dan sekaligus menyoroti masalah penambangan dan pabrik ilegal yang merugikan negara.
Dalam perjalanannya dari Surabaya ke Kecamatan Panceng, Gresik, Jhi Lilur mengunjungi tiga konsesi tambang miliknya ,Ia menemukan bahwa potensi dolomit di sana sangat besar, dengan kedalaman deposit mencapai sekitar 50 meter dan cadangan diperkirakan mencapai ratusan juta ton.
Sahlawiy membandingkan potensi ini dengan pengalaman rekan-rekannya di Kalimantan Selatan yang menjadi konglomerat dari tambang batu bara berkalori rendah dengan kedalaman serupa. Meskipun margin keuntungan batu bara hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per ton, volume penjualan yang mencapai puluhan juta ton per tahun membuat mereka kaya raya.
“Margin dolomit jauh lebih menguntungkan,Harga dolomit mess 100 mencapai Rp600.000 per ton, dengan biaya produksi maksimal Rp250.000, menyisakan margin keuntungan Rp350.000 per ton. Jika kita membangun pabrik besar dengan produksi 1 juta ton per bulan, kita bisa menghasilkan Rp600 miliar per bulan.”Kata Jhi Lilur
Ancaman Pabrik dan Tambang Ilegal
Saat ini, Jhi Lilur adalah salah satu dari sedikit pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi legal di Kabupaten Gresik. Sementara itu, banyak pabrik dolomit di wilayah tersebut, khususnya di Kecamatan Panceng, beroperasi tanpa izin dan disuplai oleh tambang ilegal.
“Ada 12 pabrik dolomit di Panceng yang berdiri kokoh dan angkuh, namun tidak punya tambang dan disuplai dari tambang ilegal,” ungkapnya.
“Mereka sudah beroperasi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.”
Pabrik-pabrik ilegal ini diduga menjual produknya ke berbagai sektor, termasuk Kementerian Pertanian, AGRINAS, dan perkebunan kelapa sawit nasional, yang membutuhkan jutaan ton dolomit setiap tahunnya.
Seruan untuk Penegakan Hukum
Jhi Lilur menegaskan bahwa pasokan dolomit yang sah ke pasar nasional harus diprioritaskan. Ia mendesak pihak berwenang seperti Polri, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas tambang dan pabrik ilegal ini.
“Jika penindakan hukum pada suplai dolomit ilegal ini dilakukan, maka saya akan menjadi satu-satunya pemilik tambang dolomit legal di Indonesia,” ujarnya.
Dalam sebuah momen refleksi, Jhi Lilur berdoa agar Indonesia dapat mengelola kekayaan alamnya demi kesejahteraan rakyat. “Yaa Allah, Negeriku ini Engkau buat Kaya, tapi Rakyatnya masih miskin papa. Beri hamba kekuatan untuk membawa Rakyat Indonesia bahagia melalui pendidikan dan tebalnya keimanan,” demikian doanya.
Ia menutup pernyataannya dengan salam keadilan sosial, menegaskan komitmennya untuk membangun industri dolomit yang legal dan berkelanjutan di Indonesia.
BiroTIN/STB







