
Teropongindonesianews.com
Manggarai – Pekerjaan peningkatan jalan lapen pada ruas Ruis–Copu, Kabupaten Manggarai, diduga tidak sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Di beberapa titik, material batu yang digunakan tampak berwarna putih dan diduga memiliki daya rekat rendah terhadap aspal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait ketahanan jalan tersebut.
Informasi yang diperoleh media ini, Sabtu (08/11/2025), menunjukkan bahwa sebagian permukaan jalan terlihat tidak rata dan lapisan aspal tampak tidak merata dalam proses penyiraman. Sejumlah warga sekitar menilai pengerjaan proyek tersebut terkesan terburu-buru dan minim pengawasan.
“Kami melihat di beberapa titik menggunakan batu putih. Kami khawatir aspalnya tidak merekat dengan baik dan bisa saja sewaktu-waktu terkelupas,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Kondisi jalan tersebut juga menjadi perbincangan di media sosial. Seorang pengguna Facebook bernama Bony menyoroti kualitas pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan persyaratan teknis.
“Pemeliharaan periodik ruas jalan Ruis–Copu sangat memprihatinkan. Hamparan batu pecah (karang putih) tidak sesuai syarat teknis karena tidak menjamin daya rekat aspal. Prime coat dan tack coat pada struktur setiap lapisan perkerasan juga tidak sesuai takaran teknis sebagaimana syarat pekerjaan lapen.
Dinas Teknis PUPR dan konsultan pengawas diharapkan segera memantau pekerjaan ini agar dilaksanakan sesuai syarat teknis yang tertuang dalam kontrak kerja kontraktor pelaksana. Bandingkan syarat teknis dan fakta di lapangan,” tulisnya.
Menanggapi hal tersebut, PPK Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai, Chitra Ayu Purwarini, ST, membenarkan adanya kondisi serupa di lapangan. Ia mengakui bahwa terdapat sekitar 7 hingga 10 meter ruas jalan yang mengalami masalah tersebut.
Menurut Chitra, hal itu terjadi karena proses pembakaran aspal yang terlalu panas. Untuk memadamkan api, pekerja menyiramkan air yang telah dicampur deterjen (rinso) ke dalam drum untuk mematikan Api yang sedang menyala.
“Kami sudah menerima laporan dari konsultan pengawas dan direksi. Kejadian itu karena aspal terlalu panas hingga menyala, jadi untuk mematikan api pekerja menyiramkan air rinso ke dalam drum, sebenarnya itu tidak boleh.Perbaikan akan dilakukan setelah seluruh pekerjaan selesai, karena alat saat ini sudah berada jauh di belakang,” jelasnya.
Chitra juga menegaskan bahwa material yang digunakan dalam proyek tersebut telah melalui uji laboratorium dan dinyatakan layak pakai.
“Kalau material tidak layak, tentu tidak kami izinkan untuk digunakan dalam pekerjaan lapen,” tegasnya.
Terkait permukaan jalan yang terlihat terkelupas dan menampakkan batu putih, Chitra menduga hal itu disebabkan oleh kurangnya pengalaman pekerja di lapangan.
“Kemungkinan pekerjanya belum berpengalaman. Sebenarnya penyiraman air rinso itu hanya boleh dilakukan di luar drum, bukan di dalam drum.Tapi secara keseluruhan, kondisi pekerjaan masih dalam batas aman,” pungkasnya.
Ketika media ini meminta nomor kontak kontraktor pelaksana untuk melakukan konfirmasi lebih lanjut, Chitra menyatakan bahwa dirinya harus meminta izin terlebih dahulu kepada pihak kontraktor sebelum memberikan no handphone tersebut. HRM








