
Teropongindonesianews.com
Lampung Tengah– Gelombang spekulasi politik mulai menerpa Kabupaten Lampung Tengah pasca operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Ardito Wijaya beserta empat kroninya beberapa hari lalu. Kekosongan kepemimpinan ini membuka peluang bagi munculnya sejumlah nama baru yang digadang-gadang akan mendampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati, l Komang Koheri, dalam melanjutkan roda pemerintahan di Bumi ‘Beguwai Jejamo Waway’.
Setidaknya sembilan nama telah beredar dalam daftar kandidat calon Wakil Bupati (Wabup). Nama-nama tersebut didominasi oleh politisi, antara lain Nessi Kalvia Mustafa (istri mantan Bupati Mustafa), Sumarsono (mantan Ketua DPRD Lamteng), Sura Jaya (anggota DPRD Provinsi Lampung), Edwar Rasyid (anggota DPRD Provinsi Lampung), Miswan Rody (anggota DPRD Provinsi Lampung), Elsan Tomi Sagita (anggota DPRD Provinsi Lampung), Febriyantoni (Ketua DPRD Lamteng), Firdaus Ali (anggota DPRD Lamteng) dan Agustam (Ketua KONI Lamteng).
Namun, di tengah ramainya percaturan politik dari kalangan elit partai, satu nama justru mencuri perhatian publik dan media: Nurwenda Ratu, yang akrab disapa Uncu Wenda. Sosoknya yang bukan berasal dari kalangan politisi maupun pejabat daerah, melainkan seorang penggiat media sosial dan Ketua LSM NGO JPK Koorda Lamteng, justru dinilai memiliki potensi yang kuat untuk mendampingi kepemimpinan Kabupaten Lampung Tengah ke depan.
Uncu Wenda, wanita kelahiran Gunung Sugih pada 10 November 1968, dikenal luas di kalangan masyarakat bawah dan pengguna aktif media sosial di Lampung Tengah. Ia tak jarang menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan nasib para tenaga honorer, masyarakat kurang mampu, bahkan tak sungkan menyuarakan kritik konstruktif terhadap kebijakan Bupati Ardito, terutama jika dianggap tidak pro-rakyat. Salah satu contohnya adalah kritiknya terhadap minimnya perubahan ornamen pada perayaan HUT RI ke-80 di Kecamatan Gunung Sugih, yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten.
Menariknya, ketika namanya disodorkan dalam sebuah survei informal atau poling di kalangan masyarakat, khususnya di Kecamatan Gunung Sugih, Uncu Wenda mendapatkan respons positif yang mengagumkan. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran persepsi masyarakat yang mulai jenuh dengan dominasi calon-calon dari partai politik, dan mulai melirik sosok independen yang dinilai lebih murni dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.
Seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan harapannya. “Kami berharap sosok independen seperti Uncu Wenda bisa mendampingi l Komang Koheri sebagai Wakil Bupati. Kami melihat partai politik saat ini justru merusak demokrasi. Uncu Wenda punya potensi untuk itu, jika memang sesuai aturan yang berlaku. Kami masyarakat kelas menengah ke bawah sangat mendukung,” ujarnya.
Ketika dikonfirmasi mengenai isu pencalonannya sebagai Wabup, Uncu Wenda merespons dengan senyuman khasnya, “Dang Lawang (jangan gila). Biarkan masyarakat yang menentukan,” tuturnya singkat pada Sabtu, (13/12/2025). Ia juga menyampaikan rasa empati dan keprihatinannya atas musibah yang menimpa Bupati Ardito Wijaya. “Semua orang bisa diuji, dan kita semua harus saling mengingatkan,” tambahnya.
Pakar hukum tata negara dari Fakultas Hukum Universitas Lampung, Dr. Yusdianto, S.H., M.H., menegaskan bahwa posisi Bupati Ardito Wijaya secara otomatis digantikan sementara oleh Wakil Bupati l Komang Koheri.
“Tidak boleh ada kekosongan jabatan dalam pemerintahan daerah. Nantinya, setelah ada putusan inkracht (keputusan hukum tetap), baru akan ada pemberhentian tetap dan pengangkatan Wabup menjadi Bupati,” jelasnya.
Munculnya nama Uncu Wenda dalam bursa calon Wabup ini menjadi indikator penting tentang dinamika politik di Lampung Tengah, di mana suara rakyat mulai mencari representasi yang lebih otentik, terlepas dari ‘garis partai’ yang terkadang dianggap membatasi ruang gerak pembangunan yang pro-rakyat.(*)
Nizar







