
Teropongindonesianews.com
SITUBONDO – Gelombang tuntutan terhadap transparansi dan inklusivitas Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jawa Timur kian memanas. Bertempat di Resto dan Cafe NEEM TREE, Desa Sumberkolak, para aktivis lintas elemen di Kabupaten Situbondo resmi mendeklarasikan pembentukan Gerakan Aktivis Situbondo (GAS) pada Selasa sore (10/02/2026).
Aliansi ini dibentuk sebagai respons kolektif atas kekhawatiran masyarakat terhadap proyek raksasa Bandara KASA di Banongan, Desa Wringinanom, yang diprediksi menelan anggaran fantastis mencapai Rp3 triliun.
Pertemuan konsolidasi tersebut menyepakati struktur kepemimpinan aliansi untuk mengawal pergerakan ke depan:
• Ketua Koordinator: Deny Rico (LSM TRABAS)
• Sekretaris: Aka (LSM KOREKSI)
• Bendahara: Fajar Gondrong (PENJARA INDONESIA)
Deklarasi ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh sentral dari berbagai organisasi besar seperti LSM Teropong, LBH Cakra, LBH Topan, MPC Pemuda Pancasila, hingga LSM BBI.
Ketua Koordinator GAS, Deny Rico, menegaskan bahwa pembentukan aliansi ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah “gerakan moral” untuk memastikan kedaulatan warga lokal di tengah masifnya pembangunan infrastruktur.
”Kami menolak keras jika putra daerah hanya dijadikan penonton dalam proyek sebesar Bandara KASA. Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tapi soal dampak sosial-ekonomi bagi warga Situbondo. Aksi unjuk rasa yang akan kami gelar adalah pesan tegas: keterlibatan masyarakat lokal adalah harga mati,” ujar Deny dengan nada lugas.
Inisiatif ini mendapat suntikan moral dari berbagai pihak, termasuk Bang Ipoel, Ketua Satgas Anti Premanisme. Ia menegaskan dukungannya selama pergerakan tersebut tetap berada dalam koridor hukum demi kepentingan rakyat.
”Selama tujuannya adalah kebaikan dan kemajuan masyarakat Situbondo, kami mendukung penuh. Aspirasi ini harus sampai ke meja pengambil kebijakan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, GAS tengah merumuskan strategi taktis untuk menggelar unjuk rasa damai di lokasi proyek dalam waktu dekat. Tuntutan utama mereka berfokus pada:
1 . Prioritas Tenaga Kerja Lokal: Memastikan penyerapan SDM Situbondo dalam operasional maupun konstruksi.
2 . Transparansi Proyek: Kejelasan andil daerah dalam manajemen proyek senilai Rp3 triliun tersebut.
3 . Dampak Lingkungan & Sosial: Mitigasi nyata bagi warga terdampak di Kecamatan Asembagus.
Gerakan ini menandai babak baru bagi aktivisme di Situbondo, di mana sinergi antar-LSM kini menjadi kekuatan penyeimbang dalam mengawal PSN agar benar-benar berpihak pada kesejahteraan rakyat setempat.
BiroTIN/STB







