
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta
Koordinator Program
Pada tanggal 16 Februari 2026 unit pelayanan sosial CIJ, Panti Santa Dymphna Yayasan Bina Daya St. Vinsensius yang beralamat di Jl. Litbang Wairklau Napunglangir Maumere Flores menerima satu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) agresif, yakni Yohanes Yonas (Yonas). Yonas berasal dari Desa Nirangkliung Kecamatan Nita Kabupaten Sikka.
Pria kelahiran 01 Juli 1974 ini mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2012. Selama lima (5) tahun terakhir ia mendapatkan perawatan medis berupa pemberian obat-obatan dari Puskesmas Nita.

Beberapa bulan terakhir, Yonas menjadi sangat agresif. Ia menyerang keluarga dan orang-orang yang melayaninya. Ia bahkan pernah melakukan pembunuhan terhadap salah satu keluarga (saudarinya) hingga dilarikan ke Puskesmas dan Rumah Sakit.
Keluarga melaporkan kasus tersebut kepada polisi di Mapolsek Kecamatan Nita. Aparat kepolisian langsung terjun ke tempat kejadian. Yonas akhirnya dievakuasi secara dramatis oleh pihak keamanan. Ia kemudian dibawa dalam pengawalan dan ditahan beberapa saat di Mapolsek Nita.
Berdasarkan pertimbangan aspek kejiwaan bapak Yonas, pihak Polsek Nita akhirnya berkordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Sikka dan Panti Santa Dymphna terkait penanganan dan perawatan Bapak Yonas. Hasil kesepakatan bersama Pimpinan Panti Santa Dymphna, Sr. Lucia, CIj, Bapak Yonas akhirnya dirawat di Panti Santa Dymphna. Bapak Yonas kemudian dihantar langsung oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka, keluarga dan dikawal oleh beberapa aparat kepolisian dari Polsek Nita menuju panti.

Yohanes Yonas dirawat di ruang khusus
Sejak diterima untuk direhabilitasi 16 Februari 2026, bapak Yonas langsung ditempatkan di ruang khusus yang disiapkan oleh panti untuk pasien-pasien agresif-deskruktif. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan klien lain, para pekerja dan yang bersangkutan selain agar perawatannya lebih intensif dan terfokus. “Pasien-pasien ODGJ dengan karakter agresif disiapkan ruang khusus yang disebut Ruang Rilaksasi. Sarana atau ruangan ini penting selain supaya klien tersebut mendapatkan perhatian yang lebih tapi juga pertimbangan keselamatan dan keamanan pasien lain dan para pekerja. Jadi mereka tetap mendapatkan perawatan dan pelayanan bahkan lebih fokus dan intensif. Biasanya tidak terlalu lama mereka berada di ruangan ini. Dan kebanyakan yang sembuh dari ruang ini”, demikian Pimpinan Panti Santa Dymphna, Sr. Lucia, CIJ.
Hanya dua hari Yonas dirawat di Ruang Relaksasi
Bapak Yonas termasuk salah satu pasien agresif yang tidak lama dirawat di ruang relaksasi. Hanya dalam waktu dua hari Bapak Yohanes Yonas mendapatkan perawatan khusus dan intensif di ruang tersebut. Pada tanggal 19 Februari 2026, Bapak Yonas kembali bergabung mengikuti berbagai kegiatan teraphi dengan klien yang lain. Bapak Yonas menempati asrama ODGJ untuk laki-laki bersama yang lain. Ia dipastikan tidak lagi agresif walaupun para pekerja (tenaga psikologi dan perawat) tetap waspada dan berjaga-jaga dalam melakukan observasi lebih lanjut dan berbagai kegiatan pendampingan lainnya seperti bimbingan Rohani (doa, novena, misa pagi, Rosario), psikologi, bimbingan fisik (senam, lari, mandi, makan-minum, sikat gigi, gunting rambut dan kuku) dan lain-lain. Sejauh ini bapak Yonas cukup pro-aktif dalam berbagai kegiatan tersebut bahkan ia bisa diajak ngobrol.
Ada 12 penyintas dipulangkan di tahun 2025
Berdasarkan dokumen panti (register panti), ada 12 penyintas (pasien yang sembuh) telah dipulangkan oleh panti kepada orangtua/wali atau keluarga. Mereka yang dipulangkan tersebut tentu telah mengalami berbagai tahapan pelayanan termasuk resosialisasi sebalum mereka dipulangkan. Karena itu lembaga/panti di bawah Pimpinan Sr. Lucia, CIJ merasa bahwa selalu saja terjadi mukjizat di Panti Santa Dymphna. “Panti ini selalu mengalami pengalaman iman yang menunjukkan betapa besar mukjizat dan belas kasih Allah. Klien kami selalu mengalami penyembuhan. Selalu ada yang dipulangkan kembali kepada keluarga/orangtua/wali. Dan ketika panti ini mengalami kesulitan biaya-biaya operasional, selalu ada orang yang membantu”, demikian kesaksian Sr. Lucia, CIJ, pimpinan panti.
Tantangan panti
Data terakhir (Register Panti Maret 2026), jumlah ODGJ Panti Santa Dymphna adalah 136 orang. Dengan rincian, 16 ODGJ laki dan 120 ODGJ Perempuan. Jumlah yang relative banyak ini tentu berdampak pada peningkatan kebutuhan dan biaya-biaya operasional panti. “Tidak mudah kami mengurus 136 klien ODGJ di panti. Selain kami harus berhadapan dengan 136 karakter mereka, tapi juga bagaimana membiayai hidup dan memenuhi berbagai kebutuhan pokok mereka. Terutama pemenuhan kebutuhan makan-minum, kesehatan maupun rehabilitasi sarana dan fasilitas yang sering rusak akibat perilaku klien. Ini tidak mudah, penuh tantangan”, demikian Sr. Lucia, CIJ yang sudah puluhan tahun hidup bersama ODGJ di panti.
Karena itu Sr. Lucia, CIJ selaku Pimpinan Panti Santa Dymphna sangat mengharapkan dukungan dan partisipasi keluarga yang telah menghantar ODGJ ke Panti Santa Dymphna. “Kami sangat mengharapkan partisipasi dan peran serta orangtua, wali dan keluarga dalam memenuhi tanggung jawabnya. Agar kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi. Kondisi saat ini tidak baik-baik saja, baik secara global maupun nasional. Dampaknya sungguh terasa. Ada peningkatan harga barang-barang kebutuhan pokok dan menurunnya dukungan para donator terhadap panti”, demikian harapan Pimpinan panti.
Sr. Lucia, CIJ juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga yang selalu setia berkontribusi baik dalam bentuk barang atau uang untuk klien yang dihantar ke panti. Juga disampaikan ucapan terima kasih kepada para donator yang masih setia menyumbang panti. “Tidak lebih dari 10 keluarga klien yang setia mendukung panti ini baik dalam bentuk barang maupun uang. Ada banyak keluarga yang tidak pernah kunjung dan berkontribusi setelah klien ODGJ dihantar ke panti. Kami harus menanggung resiko dan tantangan ini. Terima kasih untuk keluarga klien yang merasa bertanggungjawab penuh terhadap kebutuhan klien dengan terus memenuhi kewajibannya. Demikian juga kesetiaan dan kerelaan para donator dalam mendukung pelayanan kami terhadap ODGJ di Panti Santa Dymphna”, demikian Sr. Lucia, CIJ, yang pernah menikmati pendidikan tinggi di Stipas St. Cyrilus Ruteng Manggarai ini.







