
Teropong Indonesia News
BOLMUT— Suasana laga besar pembuka turnamen Jagung Balap Cup 2026 antara Lagada melawan Busisingo FC yang berlangsung di Lapangan Busisingo Utara, Jumat (31/7/2026) sore, berakhir penuh tanda tanya dan kecaman. Pertandingan yang dimulai sekitar pukul 15.30 Wita itu memicu gelombang protes dari masyarakat pecinta sepak bola, khususnya warga Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, menyusul dugaan keputusan yang sangat kontroversial dari Asisten Wasit I yang bertugas.
Menurut pantauan di lapangan, terlihat jelas bahwa tiga pemain Lagada telah berada dalam posisi terperangkap offside. Namun, alangkah herannya, Asisten Wasit I sama sekali tidak mengangkat bendera sebagai tanda pelanggaran — padahal posisi pelanggaran terlihat sangat jelas dari berbagai sudut pandang. Keputusan tersebut dinilai sangat merugikan pihak Busisingo FC yang dibina di bawah arahan Pelatih Kepala Stenly Mokodompit.
Keputusan yang terkesan tidak berpihak pada kebenaran itu pun langsung memicu gelombang kecaman luas dari penonton dan pengamat sepak bola yang hadir di lokasi. Masyarakat mempertanyakan kelayakan serta keberpihakan petugas garis dalam menjalankan tugasnya.
Menyusul peristiwa tersebut, masyarakat dan pendukung Busisingo FC secara luas menyampaikan harapan agar Asosiasi Provinsi PSSI Sulawesi Utara segera mengambil sikap tegas. Di antaranya adalah dengan melakukan evaluasi mendalam dan mencabut lisensi Asisten Wasit I yang bertugas pada laga tersebut, guna menjadi peringatan sekaligus menjaga keadilan dan kejujuran dalam setiap pertandingan.
Keadilan dan kejujuran dalam mengemban tugas adalah harga mati yang harus dijunjung tinggi oleh setiap Asisten Wasit 1 dalam pertandingan. Jangan sampai sepak bola kita ternoda oleh keputusan-keputusan yang mengundang tanda tanya besar di mata masyarakat. STEN







