Teropongindonesianews.com
SITUBONDO – Pencemaran debu ampas tolato dari Pabrik Gula PG Asembagus menjadi keluhan tak berujung bagi warga sekitar ,Dampak limbah udara tahunan yang muncul setiap musim giling ini tak kunjung menemukan titik terang. Polusi itu seakan menjadi momok yang harus ditelan warga.
Keluhan paling mendalam datang dari warga Desa Trigonco, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Pemukiman di Kampung Timur dan Kampung Tengah berjarak sangat dekat dengan operasional PG Asembagus, sehingga warga berada di garis terdepan yang terdampak.
“Baru ditinggal satu hari saja, debu ampas tolato sudah menumpuk di lantai dan perabotan rumah. Ini terjadi setiap tahun dan seolah tidak pernah ada solusi permanen dari pihak pengelola,” ujar salah seorang warga Kampung Timur, Desa Trigonco.
Dampak tumpukan debu tidak hanya merusak kebersihan dan kenyamanan hunian. Debu halus itu juga berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan, khususnya anak-anak dan lansia. Warga terpaksa bekerja ekstra setiap hari untuk membersihkan rumah.
Kekesalan memuncak dirasakan warga Kampung Tengah, Desa Trigonco. Selain mengotori rumah, debu mulai mengganggu pernapasan.
“Selain mengotori rumah, debu ini juga mengganggu pernapasan dan kesehatan kami. Jika tidak segera diatasi, saya yakin akan berdampak buruk bagi lingkungan sekitar pabrik. Baik dari sisi kesehatan, pencemaran udara, maupun teror kotoran tolato yang setiap hari menghantui warga,” tegas warga Kampung Tengah berinisial T.
Masyarakat menaruh harapan besar agar manajemen PG Asembagus dan dinas terkait di Pemkab Situbondo segera bertindak.
Warga menilai solusi teknis penanganan limbah udara sangat mendesak. Aktivitas industri harus bisa berjalan harmonis tanpa mengorbankan hak warga atas lingkungan yang bersih dan sehat.
BiroTIN/STB

