Teropong Indonesia news
BANYUWANGI – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi berkah bagi ribuan anak sekolah dan balita di Kecamatan Wongsorejo, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi warga Dusun Badolan, Desa Bajulmati. Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bajulmati kini dikelilingi protes keras akibat bau busuk menyengat yang diduga berasal dari limbah dapur dan kerusakan fatal pada Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).
Bau tidak sedap ini tidak hanya mengganggu warga yang tinggal di sekitar lokasi, tetapi juga tercium oleh para pengguna jalan yang melintas. Pencemaran udara ini telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir, mengindikasikan adanya kelalaian dalam pengelolaan limbah dari ribuan paket makanan yang diproduksi setiap hari.
Ketegangan di Lokasi: Wartawan Dihalangi Dokumentasi Bukti
Situasi memanas ketika tim VIVA News mencoba mendokumentasikan sumber bau di saluran air got depan lokasi SPPG. Upaya jurnalistik tersebut dihadang secara fisik oleh Asisten Lapangan (Aslap) SPPG, Diah Ayu, yang melarang pengambilan gambar. Ketegangan sempat terjadi antara awak media dan pihak lapangan yang terlihat gugup menutupi kondisi sanitasi yang buruk.
Dalam keterangannya, Diah Ayu akhirnya mengakui kebocoran sistem. “Kami sudah mendengar keluhan dari masyarakat dan berupaya mengurangi serta menghilangkan bau yang ada disini. Kami sadar IPAL yang kami gunakan masih mengeluarkan cairan ke selokan,” ujar Diah Ayu, menyampaikan pesan dari Kepala SPPG Bajulmati, Hamzah.
Pengakuan ini sangat mencolok: Pihak pengelola sadar alat mereka rusak dan membuang limbah cair langsung ke lingkungan, namun tetap beroperasi.
Solusi “Tambal Sulam” Gagal Total
Alih-alih memperbaiki infrastruktur IPAL yang rusak, SPPG Bajulmati hanya mengandalkan solusi kimiawi sementara. Diah Ayu menyebutkan bahwa mereka rutin menaburkan kaporit dan batu gamping setiap kali ada keluhan. “Tapi masih tetap memunculkan bau ini,” akunya jujur.
Mitra SPPG, H. Erna, juga mengakui ketidakmampuan mereka menangani limbah. “Kami berupaya melakukan penyedotan pada limbah kami dan membuangnya pada tempat lain, tapi ternyata masih belum bisa menghilangkan bau secara sepenuhnya,” kata H. Erna.
Skala Produksi vs Kapasitas Lingkungan
Setiap harinya, SPPG Bajulmati memproduksi 2.326 paket menu MBG yang disebarkan ke 17 sekolah dan 22 posyandu di 39 titik. Dengan dukungan 51 orang staf dan relawan, volume limbah organik yang dihasilkan sangatlah masif. Namun, kapasitas pengolahan limbah tampaknya tidak sebanding dengan beban produksi, menyebabkan “membludaknya” limbah yang akhirnya mencemari udara warga.
Publik mempertanyakan: Bagaimana mungkin program gizi nasional yang mulia ini dijalankan dengan standar sanitasi yang abai terhadap kesehatan warga sekitar? Perbaikan IPAL bukan lagi opsi, melainkan kewajiban mendesak sebelum dampak kesehatan yang lebih serius muncul.
(Adi-1)

