
Teropongindonesianews.com
Situbondo, Jawa Timur – Gabungan aktivis dan media di Kabupaten Situbondo menyoroti proyek rekonstruksi jalan ruas Asramaan-Pedati yang dikerjakan oleh CV. Karunia Jaya senilai hampir lima miliar rupiah,
Proyek yang diduga dikerjakan tidak sesuai dengan petunjuk teknis ini menuai kecaman dan kekhawatiran terkait kualitas pekerjaan.
Saat meninjau lokasi proyek, gabungan aktivis dan media menemukan sejumlah kejanggalan. Proses pengerjaan yang dilakukan secara manual tanpa menggunakan finisher menjadi sorotan utama. Keterlambatan dalam proses tersebut diduga menjadi penyebab munculnya gumpalan pada hotmix.
“Pengerjaan yang dilakukan secara manual membuat prosesnya menjadi lambat. Hotmix yang terlalu lama menunggu di lokasi mengakibatkan suhu panasnya berkurang dan akhirnya menggumpal,” ujar salah satu aktivis yang enggan disebutkan namanya. Kondisi cuaca di lokasi yang tergolong dingin semakin memperparah masalah ini.
Kekhawatiran mengenai kualitas pekerjaan pun diungkapkan oleh para aktivis. “Sebagai bagian dari masyarakat Situbondo, kami sangat menyayangkan proses pengerjaan yang dilakukan secara manual tanpa menggunakan finisher. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan,” ungkap salah satu aktivis.
“Kami menduga ini adalah kegagalan perencanaan. Seharusnya pihak terkait sudah mempertimbangkan secara matang sebelum mengajukan proyek. Apakah lokasi tersebut memang efektif untuk diaspal atau tidak?” imbuhnya.

Para aktivis dan media berharap pihak terkait, khususnya Dinas PUPP Bidang Binamarga, dapat menindaklanjuti temuan ini dengan melakukan evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat terhadap proyek tersebut. Mereka mendesak agar proses pengerjaan dihentikan sementara waktu hingga standar kualitas dan keamanan terpenuhi.
Kejanggalan yang ditemukan dalam proyek ini perlu diinvestigasi lebih lanjut untuk memastikan bahwa anggaran yang telah digelontorkan untuk proyek ini digunakan secara efektif dan menghasilkan hasil yang sesuai dengan harapan masyarakat.
Saat salah satu aktivis menanyakan gambar yang menjadi acuan dalam pekerjaan, pihak pengawas dari Dinas PUPP tidak dapat memperlihatkan gambar tersebut. Alasannya, saat mengawasi mereka sudah memahami gambar. Namun, bertolak belakang dengan penyampaian pengawas dari Dinas PUPP, justru ditemukan beberapa dugaan penyimpangan.
Gabungan aktivis sudah mengantongi data dan jika dalam teknis pekerjaan tidak ada perubahan, maka gabungan aktivis tersebut akan melaporkan kegiatan di atas secara kelembagaan masing-masing.
BiroTIN/STB








