
(Mengenang Kepergiannya Kepada Keabadian)
OPINI
Oleh Dionisius Ngeta
Pemerhati Orang Dengan Sakit Jiwa
Teropongindonesianews.com
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Paus Fransiskus adalah nabi revolusioner dan visioner terkait dengan pemahaman, penghayatan dan pewartaannya tentang Tuhan dan alam ciptaan-Nya. Dia adalah seorang seorang nabi dan teolog ekologis. Suara kenabiannya sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik terkait dengan ekologi tidak hanya menggemah seantero jagat tapi menggugah dan mengetuk nurani umat manusia.
Suaranya yang berseru-seru di tengah padang kekeringan moral dan ketamakan manusia dalam memandang dan memperlakukan alam ciptaan Tuhan adalah kemendesakan. Paus Fransiskus adalah nabi zaman ini yang kritis, visioner bahkan revolusioner dalam pemikiran tentang alam ciptaan dan Penciptanya. Baginya, beriman bukan hanya memandang Tuhan sebagai tujuan perziarahan hidup manusia. Tapi juga melihat dan memperlakukan bumi dan segala Ciptaan-Nya dengan penuh tanggungjawab moral demi keberlanjutan ekosistimnya.
Ekologi spiritual dan inklusifivitas tak bersyarat adalah warisan teologis-ekologis yang menggambarkan kedalaman pemahaman dan penghayatan imannya akan Allah dan pandangannya tentang dunia ciptaan-Nya. Bumi dan segala ciptaan Tuhan tidak saja benda fana hanya untuk digarap tapi juga tubuh hidup yang empunya hak untuk dihargai dan dipertimbangkan kelestarian dan keberlanjutannya.
Ekologis bukan saja ilmu dan teori abstrak semata, tapi makhluk spiritual yang harus dirawat agar tidak terluka apalagi hilang-punah karena keserakahan manusia. Bumi dan segala isinya adalah personifikasi Allah dan cinta-Nya yang mesti dihormati hak dan keberadaannya sebagaimana kita manusia.
Suara kenabiannya tentang keserakahan industry menukik tajam dan mengulik kesadaran iman kita. Bahwa industri telah melahirkan budaya sampah yang menjadikan alam dan manusia sebagai barang pakai-buang. Bumi dan segala isinya tidak dipandang sebagai saudara serahim dari Pencipta. Tapi sebagai objek eksploitasi demi pertumbuhan dan peningkatan ekonomi.
Karena itu dia menawarkan ekonomi ekologi sebagai solusi. Yaitu sebuah sistim ekonomi dan ekosistim alam dengan memperhatikan dampak, keberlanjutan dan keadilan sosial. Melalui Ensiklik Laudato Si, Paus Frasiskus mengajak bahkan mengharuskan untuk mewujudkan ekonomi ekologis yang berkeadilan social bagi kepentingan manusia, keutuhan dan keberlanjutan ekologi.
Menurutnya, ketika kegiatan ekonomi tanpa memperhatikan nilai-nilai moral ekologis, maka akan berakibat pada kerusakan alam dan merugikan manusia, secara khusus kaum miskin dan papa. Ekonomi harus menyertai etika dan moral. Kebijaksanaan ekonomi harus mempertimbangkan martabat manusia, kesejahteraan bersama, keseimbangan, keutuhan dan keberlanjutan ekologi.
Alam Semesta Bukan Milik Kita
Sebagai milik Allah, alam semesta memiliki dimensi Ilahi. Rasul Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose menegaskan bahwa dalam Kristus yang bangkit, segala sesuatu mengambil bagian dalam Allah, di mana Kristus adalah pusatnya. Segala sesuatu diciptakan dalam Dia dan dipersatukan dalam Dia (Kol, 1:15).
Pamela Smit menegaskan bahwa manusia bukanlah pemilik alam semesta. Manusia hanya memiliki hak memanfaatkan sumber daya alam dan membuat keputusan yang bijaksana tentang bagaimana alam semesta dipelihara dan dipertahankan. “Alam dan isinya tidak memiliki nilai-nilai intrinsik, sebaliknya nilai-nilai yang ada padanya mengalir atau bersumber pada Allah Pencipta sebagai pemilik utama”.
Untuk itu sikap semena-mena terhadap alam siptaan adalah sebuah pelanggaran moral dan etika seorang beriman kepada Sang Pencipta. Kita mesti memiliki kesadaran iman ala Santo Fransiskus. Baginya, seluruah elemen alam ciptaan adalah saudara dan saudari serahim dari Pemilik, Allah itu sendiri. Bahkan ia melihat dunia sebagai “God’s book”, buku yang menggambarkan tentang kekuatan, kasih dan perhatian Allah terhadap manusia. Ia meyakini bahwa inkarnasi menyucikan semua kehidupan dan Allah menyatakan diri-Nya dalam seluruh ciptaan dalam keilahian-Nya.
Ketamakan Sumber Krisis Spiritual.
Paus Fransiskus menyebut ketamakan atau keserakahan industri telah melahirkan “kebudayaan sampah”. Alam ciptaan Tuhan bahkan Manusia dianggap sebagai barang semata yang bisa digarap dengan semena-mena, tanpa etika dan moral.
Manusia kontemporer cenderung berpikir bahwa ketersediaan sumber daya alam adalah untuk dieksploitasi semata demi keuntungan dan peningkatan ekonomi tak terbatas. Meraka merasa berhak atasnya dan mengeksploitasinya tanpa etika dan rasa solidaritas sebagai sesama ciptaan.
Mentalitas dan kecenderungan ini berakar antara lain pada ketamakan atau keserakahan. Selain pemahaman yang tidak tepat seolah-olah sumber daya alam tersedia secara tak terbatas. Walaupun pada kenyataan ketersediaan sumber daya alam selalu terbatas.
Karena itu manusia mesti mampu mengendalikan diri dalam pemanfaatannya. Memakainya dengan kesewenangan yang mutlak dapat menimbulkan bahaya yang gawat bagi persediaannya baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi yang akan datang. Kesewenangan mutlak pemanfaatan sumber daya alam adalah keserakahan. Dan itu adalah dosa yang menuntut pertobatan.
Paus Fransiskus hadir dengan suara kenabiannya di tengah ketamakan manusia itu. Suara kenabiannya menegaskan kembali visi kekristenan yakni tentang ekologi yang berciri teosentris. Bukan antroposentris.
Allah diimani sebagai pusat dan inti dari segala sesuatu. Dia sumber dan asal dari segala sesuatu. Mandat yang diberikan kepada manusia untuk menguasai alam ciptaan dimengerti dalam perspektif teosentris, keberlanjutan ekosistim dengan asas solidaritas dan cinta kasih sebagai sesama ciptaan. Bukan dengan ketamakan atau keserakahan.
Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Solicitudo Rei Socialis (SRS) mengingatkan bahwa alam ciptaan itu bernilai pada dirinya. Beliau menggarisbawahi keterkaitan antar makhluk ciptaan Tuhan sebagai suatu sistim yang tertata (ekosistim). Ia juga mengingatkan keterbatasan sumber daya alam dan tanggungjawab moral terhadap generasi yang akan datang.
Tanggungjawab ini mengandung tuntutan etis-moral dalam pemanfaatan sumber-sumber daya alam untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan manusia. Artinya pemanfaatannya harus secukupnya, tetap memperhatikan keharmonisan, keseimbangan dan keberlanjutan, jauh dari keserakahan dan kesewenang-wenagan mengeksploitasinya secara berlebihan.
Seruan Pertobatan Ekologis
Suara kenabian tentang pertobatan ekologis adalah salah satu solusi spiritual yang ditawarkannya dan sebuah kemendesakan. Paus Fransiskus sadar bahwa kita sedang mengalami krisis spiritual yakni memandang alam ciptaan Tuhan sebagai objek semata, bukan sebagai saudara yang memiliki hak yang sama.
Karena itu hemat saya, seruan pertobatan Paus Fransiskus dan kebangkitan ekologis saat ini adalah sebuah kemendesakan di tengah krisis ekologi yang kian fenomenal. Perspektif dan perilaku yang memandang rendah alam semesta dan memperlakukannya sebagai objek semata serta ketamakan yang mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan adalah paham usang antroposentrisme. Hal itu merupakan perilaku yang jauh dari kesadaran iman, etika dan solidaritas sebagai sesama ciptaan. Singkatnya, sebuah sikap masih jauh dari spirit pertobatan ekologis.
Memulai hidup dengan perspektif dan perilaku baru terutama dalam memandang dan memperlakukan alam ciptaan sebagai saudara adalah salah satu ciri khas manusia Paskah yang telah bertobat dan hidup dalam terang kebangkitan. Kita adalah manusia kebangkitan, hidup sebagai anak-anak terang.
Memiliki paradigma bahwa semua ciptaan adalah saudara-saudari serahim dari Pencipta yang satu dan sama merupakan salah satu ciri khas manusia beriman yang telah mengalami transformasi pemikiran dan perilaku sebagai buah dari kebangkitan Kristus. Tidak semena-mena terhadap alam ciptaan-Nya adalah ciri khas hidup manusia baru yang telah diterbus dengan darah Kristus.
Kita tak bisa mencintai Pencipta, jika terus serakah mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutan ekosistimnya. Memiliki transformasi pemikiran dan perilaku baru adalah buah dari pertobatan yang memandang alam ciptaan sebagai sesama saudara dan hamparan kasih sayang Allah yang harus dijaga keberlanjutannya.
Kebangkitan Kristus dari alam maut mendorong kita untuk tobat dan bangkit dari kesadaran dan perilaku ekologis yang bermartabat dan berkeadilan. Bahwa bumi adalah rumah kita bersama. Alam ciptaan adalah sama saudara dari satu Pencipta yang sama memiliki hak. Semua ciptaan adalah satu keluarga Allah. Dan semuanya memiliki hak yang sama untuk keberlanjutan.
Bertobat dan segera bangkit untuk melihat dan memperlakukan alam ciptaan lainnya sebagai saudara dan bumi sebagai “rumah” kita bersama dengan konsep dan tatanan ekonomi baru yang berwajah humanis sekaligus ekologis adalah sebuah keniscayaan yang segera. Bumi ini “rumah kita” bersama, tapi bukan milik kita. Semua beranggungjawab atas kelestarian dan keberlanjutan semua yang ada di dalamnya.
Karena agama dan iman kita tidak hanya melihat dan menyembah Dia yang di atas tanpa perduli dengan sesame dan alam ciptaan. Kita berhenti bicara surga eskatologis, jika bumi menangis kita abai. Stop doakan keselamatan jiwa umat manusiapada Pencipta, jika diabaikan keselamatan alam ciptaan-Nya.
Maumere, 25 April 2025.








