Oleh : Jhon Gipedi Nawipa

Status pendidikan : Sedang berkuliah di kota jakarta Timur
Asal daerah : Asli Papua
Dari tahun 2011 sampai tahun 2022 Empat putra Papua terbiasa melintasi keliling di gunung berantara pedalaman yang mereka cintai  seperti;  di hutang, gunung, puncak, tebing, lembah, daratan, hingga rawa disekitaran provinsi Papua tengah
Antara tiga orang ini bernama: Jhon, saat  dia berusia 18 tahun waktu menduduki di bangku SMP kelas 3 (tiga)  melihat suasana di sekitaran Papua tengah unik dan menarik saat itu kalau tinggal satu orang sendiri atau merasa keluarga yang hilang akan mendung air mata dan akan  menetes air mata  di kedua pipi karena bukan kenapa tapi, merasa sedih dan sendiri sepinya.

Dari tahun 2020, setelah natal bersama dengan keluarga  di kampung, lima orang ini merasa mau balik asal sekolah mereka, dari kabupaten Paniai   ke kabupaten timika asal sekolah dan antara kedua kabupaten itu, jaraknya dekat namun, dengan adanya gunung, berlapis-lapis ketebalan dan sungai-sungai yang begitu luar biasa akhirnya terganggu semua aktifitas seperti, Putus jembatan, loncor jalan, roboh rumah, banjir air diatas kebun dan lain-lain.
Adapun tujuan dan maksud mereka jalan jarak jauh antara kedua kabupaten itu mereka pun pengen menambah pengalaman baru untuk melatih diri kemampuan mental jiwa  maupun  kemampuan mental fisik jarak jauh.
Setelah natal itu mereka berempat pulang dari kampung masing-masing berkumpul di titik kumpul yaitu kota kabupaten Enarotali dan di tengah kota itu ramai setiap kali natal pulang dari tempat asal mereka di kota masing-masing dan di bandara itu biasannya setelah natal  akan penampung penumpang dari mana-mana saja, dan Putra ber empat pun demikian mengingat dengan jadwal persekolahan mereka.
Setelah mereka  bertemu di titk kumpul kemudian mereka kembali membahas akan  mengatur waktu dalam perjalanan mereka besok antara Deiyai ke timika.
Sekaligus ambil keputusan untuk  jalan kaki serta olahraga dalam hal ini mengeluarkan lemak tadinya makan gemuk dangin babi melalui berkat  hari raya besar oleh kelahiran Tuhan.
Dalam dua hari sebelumnya, mereka ber-empat mulai kesiapan dan persiapan barang-barang yang perlu dibawakan tersebut seperti, snek, botol Aqua,  jass hujan, sepatu, kacamata, baju, celana pendek, dan mengumpulkan uang harga transportasi dari kota ke ujung jalan, terkumpul: 1.000.000rb (Satu juta) rupia , sekaligus memastikan sopir. untuk menghemat kan dalam perjalanan mereka.
Mereka pun persiapannya hanya dalam satu hari. lalu ke-esokan harinya mereka mulai star karena mengingat dengan waktu  jadwal persekolahan
Di malam hari itu mereka  berempat bermalam bersama di satu rumah karena takut keterlambatan jam keberangkatan mereka.
Di pagi subuh jam 4.00 WIT mereka menaiki mobil, Mobil yang akan antar mereka ke ujung jalan dan tiba di ujung jalan pada pukul: 8.00 pagi dan terakhir salam sapa seorang sopir sebelum berpisah diatas hutang berantara.
Kebersamaan mereka memperat hubungan melintasi berantara hutang dan empat orang tersebut adalah: Jhon Gipedi, Melian Muyapa, Fredi Tenouye, dan Agus kudiai, sebelum star jalan mengawali dengan doa, Doa sebagai simbol komunikasi kepada Tuhan agar dalam perjalanan bagi mereka meminta kebebasan dan kelancaran dalam tempat tujuan dan doa dipimpin oleh Melianus Muyapa, salah satu Gembala selesai dari sekolah teologi STP Di Kebo ll Paniai.
Di hutang berantara mereka ber-empat terhitung dalam perjalanan sehari dan semalam di antara itu signal pun tidak mengjangkau karena keterlambatannya penyambungan jalan aspal kabupaten maupun  jaringan.
Oleh karena itu mereka berempat  setibanya diatas gunung botak, mereka akan mencari signal berkali-kali namun tak terjangkau, tidak apa-apa.! karena dengan jaraknya.
Dari gunung botak itu setelah mereka melewati satu kilometer, otomatis handphone berdering salah satu handphone antara mereka berempat, handphone yang berdering adalah ternyata handphone saudara melianus Muyapa, posisinya handphone itu dalam Tass celana samping, tidak berlama-lama saudara pun angkatnya,  “hallo salam sapa! bagimana? “Tanyanya, wajah mereka berempat  dengan tersenyum, baru saja telpon ini dan ia bertanya kalian sudah menuju dimana? “Katanya.” saudara Melianus merespon  kaka tolong jemput kami, kami sudah sampai di gunung botak.
Dan untuk harga bensin kami siap tangung yang penting kami meminta kepada saudara tolong jemput di ujung jalan kasar kami akan menunggu disini.
Mereka menuju di ujung jalan kasar  dan satu jam mereka beristirahat di tengah jalan dan dua jam kemudian tadinya telpon itu telah tiba di tempat mereka, dimana mereka empat  beristirahat.
Tidak lama lagi! sopir bilang Ade-ade kalian luar biasa Kaka bangga ade-ade punya kaki panjang itu dan kalian bisa sampai kesini, kalian langsung naik saja ya,, sungai-sungai ini kalau banjir kita tidak bisa menyebrang, kalian istrahat dalam mobil saja.
Perjalanan mereka dari titik jemput hingga kota, dalam waktu  lima jam tiba di kota asal sekolah pada pukul: 18.00 WIT malam , waktu Indonesia Timur dan cerita pun selesai. [05/02/2020].

