
Teropongindonesianews.com
Tapanuli Selatan – Ketua DPD LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Tabagsel, Marahalim Harahap, mengumumkan rencana menggelar aksi unjuk rasa tunggal dengan aksi ekstrem: menanam atau mengubur dirinya sendiri di depan Kantor Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel). Aksi ini direncanakan berlangsung mulai Selasa, 16 September 2025, hingga waktu yang tidak ditentukan.
Rencana aksi tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan Unjuk Rasa yang dilayangkan ke pihak berwenang dengan Nomor: 051/DPD-LIRA Tabagsel/UnRas/IX/2025. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Marahalim Harahap selaku Sekjen DPD LIRA Tabagsel.
“Aksi ini saya lakukan secara pribadi dan tunggal. Saya siap dikubur di depan Pendopo Kantor Bupati Tapsel sebagai bentuk keputusasaan rakyat terhadap korupsi yang diduga melibatkan tokoh-tokoh nasional dan lokal,” tegas Marahalim saat ditemui awak media di Gedung Adam Malik, Kota Padang Sidempuan, Pada Jumat (12/9/2025).
Marahalim menyampaikan bahwa aksinya membawa tiga tuntutan utama yang bersifat nasional dan daerah:
1. Meminta Presiden RI dan Ketua Umum Partai Gerindra untuk memecat Gus Irawan Pasaribu sebagai kader partai, karena diduga mencederai cita-cita luhur bangsa dan terlibat dalam skandal dugaan korupsi dana CSR BI/OJK tahun 2020–2023.
2. Mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera memeriksa dan menetapkan Gus Irawan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
3. Mendorong KPK melakukan penyelidikan terhadap dugaan mafia proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapsel, yang diduga melibatkan oknum ASN berinisial CRD dan warga sipil berinisial GG.
Marahalim mengaku siap melakukan aksi ini tanpa batas waktu hingga tuntutannya didengar oleh negara dan aparat penegak hukum.
“Saya siap dikubur di depan Pendopo Tapsel mulai tanggal 16 September 2025, sampai negara merespons aspirasi rakyat yang saya suarakan,” ungkapnya.
“Lebih baik mati miskin daripada menjadi koruptor yang mengkhianati bangsa. Bagi saya, koruptor itu lebih rendah moralnya dari binatang. Binatang saja mencari makan untuk keluarganya, sedangkan koruptor mencari makan untuk satu yayasan korupsi,” tegasnya dengan nada emosional.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam tuntutan tersebut, termasuk dari Dinas terkait di Tapanuli Selatan, Partai Gerindra, maupun KPK. (A.hrp)







