
Teropongindonesianews.com
SITUBONDO, Jawa Timur – Ambisi Bupati Rio untuk membangun infrastruktur berkualitas di Situbondo, kini tercoreng oleh dugaan praktik buruk dalam proyek peningkatan jalan hotmix Ruas Baderan-Taman Kursi (R.84) di Kecamatan Sumbermalang. Proyek senilai Rp370.624.511,88 yang dikerjakan oleh CV. JITARA JAYA, dengan volume sepanjang 565 meter, kini menjadi sorotan tajam akibat diduga kuat dikerjakan asal jadi, mengorbankan kualitas demi keuntungan pribadi.
Investigasi mendalam yang dilakukan mengungkap praktik pengerjaan yang jauh dari standar. Sumber internal, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan fakta mencengangkan:
“Pengerjaan proyek dilakukan tanpa menggunakan Asphalt Finisher. Aspal langsung dibuang dari truk dan diratakan secara manual, baru kemudian dipadatkan. Ini jelas melanggar prosedur dan mengindikasikan adanya upaya untuk memangkas biaya.”ungkapnya
Metode pengerjaan “ala kadarnya” ini, yang jelas-jelas bertentangan dengan standar pengerjaan jalan hotmix, memicu kekhawatiran serius. Lokasi proyek di daerah pegunungan yang ekstrem, rentan terhadap perubahan cuaca , seharusnya menuntut standar pengerjaan yang lebih tinggi. Namun, fakta di lapangan justru berbanding terbalik.

Kecurigaan semakin menguat setelah pengamatan kritis dari Hepi, warga Situbondo yang dikenal vokal menyuarakan kebenaran. Setelah melakukan peninjauan langsung, Hepi menemukan sejumlah kejanggalan yang mengarah pada dugaan pengurangan ketebalan aspal, yang berpotensi merugikan negara. “Potensi kerugian negara akibat kualitas buruk proyek ini diperkirakan mencapai Rp73.248.000,” ungkap Hepi dengan nada geram.
“Proyek di daerah pegunungan seharusnya dikerjakan secara maksimal, karena jalan ini akan digunakan dalam jangka waktu yang sangat lama. Ini bukan sekadar jalan, tapi investasi bagi masa depan. Jika dikerjakan asal-asalan, dampaknya akan dirasakan masyarakat,” tegas Hepi, sekaligus menyoroti lemahnya pengawasan dari Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Pemukiman (PUPP) Kabupaten Situbondo.
Hepi mendesak Dinas PUPP untuk segera bertindak tegas, sebelum kerugian negara semakin membengkak. “Kami menuntut Dinas PUPP untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil kerja CV. JITARA JAYA. Selain itu, kami mendesak peningkatan pengawasan yang ketat, serta penindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam praktik curang ini. Jangan biarkan proyek infrastruktur menjadi ladang korupsi!”
Kasus ini menjadi ujian berat bagi Pemerintah Kabupaten Situbondo Publik menanti ketegasan uxntuk membersihkan praktik-praktik kotor dalam pembangunan daerah. Akankah proyek jalan Baderan-Taman Kursi menjadi preseden buruk, atau justru menjadi momentum untuk membuktikan komitmen pemberantasan korupsi di Situbondo? Waktu akan menjawabnya.
BiroTIN/STB








