
Teropongindonesianews.com
SIPIROK, TAPSEL – Di tengah dampak dahsyat bencana alam yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, Sekretaris Persatuan dan Pemerhati Wartawan Angkola Sipirok (PERWASI) Tapanuli Selatan (Tapsel), MAHMUDA MORA SIREGAR, menyuarakan keprihatinan mendalam atas penderitaan warga terdampak. Ia menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera menetapkan status Bencana Nasional agar penanganan dan pemulihan dapat dilakukan secara lebih efektif dan komprehensif.
Laporan dari berbagai titik terdampak bencana, termasuk Desa Garoga Kecamatan Batangtoru, Desa Tandihat Kecamatan Angkola Selatan (yang warganya terpaksa mengungsi akibat tanah retak), serta sejumlah desa di Kecamatan Sayurmaginggi (yang dilanda banjir bandang) dan Kecamatan Tano Tombangan Angkola (yang mengalami longsor), menggambaran situasi yang memilukan. Mora Siregar menyaksikan langsung bagaimana bencana merenggut nyawa, merusak mata pencaharian, dan meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.
“Saya melihat ketakutan sekaligus harapan di mata mereka. Mereka menunggu negara hadir lebih kuat,” ujar Mora Siregar, yang sehari-hari menerima laporan dari lapangan. Ia menyoroti bahwa banyak warga masih dihantui oleh “detik-detik maut” saat banjir bandang menerjang dan longsor menghancurkan rumah-rumah. “Kami hanya sempat lari menyelamatkan diri. Barang-barang, rumah… semua hilang,” ungkap Sumarni, seorang pengungsi di Batangtoru.
Mora Siregar menekankan bahwa bencana ini bukan hanya menghancurkan fisik, tetapi juga merampas rasa aman dan kesejahteraan psikologis masyarakat. Ia menyoroti pentingnya bantuan psikososial, selain bantuan logistik, untuk membantu warga pulih dari trauma.
Selain itu, Mora Siregar juga menyoroti terputusnya akses jalan dan jembatan, yang menyebabkan terhambatnya distribusi logistik, hilangnya pendapatan pekerja harian, dan penutupan sekolah. Ia menegaskan bahwa suara rakyat ini harus didengar hingga ke tingkat pusat.
“Ini bukan bencana kecil,” tegas Mora Siregar, yang menilai penetapan Bencana Nasional sangat penting. “Dengan status tersebut, alat berat bisa dikerahkan lebih cepat, logistik nasional bisa masuk tanpa hambatan, tenaga medis tambahan dapat dikirim, dan operasi penyelamatan dapat dilakukan lebih luas.”
“Ketika negara turun sepenuhnya, masyarakat merasa tidak sendirian. Dan itu hal terpenting bagi mereka saat ini,” tambahnya.
Mengakhiri pernyataannya, Mora Siregar mengutip pesan mengharukan dari seorang pengungsi lansia di Kecamatan Sayurmatinggi: “Nak, bilang pada pemerintah… kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin hidup kembali.” Kalimat sederhana itu, menurut Mora Siregar, adalah pengingat bahwa bencana ini bukan hanya tentang data dan angka, tetapi tentang perjuangan ribuan keluarga untuk bangkit dari puing-puing kehidupan mereka.
Tim






