
(Sekenanya Saja Di Masa Prapaskah)
Oleh Dionisius Ngeta
Komsos Paroki Nangahure
Teropongindonesianews.com
Di beberapa paroki, sering kali disampaikan himbauan pastoral kepada umat saat memasuki Masa Prapaskah, di antaranya adalah menjaga ketenangan dan keheningan. Tentang Ketenangan dan Keheningan, mengapa harus mendapatkan perhatian? Apakah makin punah dan betapa mahalnya mendapatkan ketenangan dan keheningan di zaman ini?
Zaman ini memang zaman sibuk, bahkan bising alias gaduh. Tidak saja di dunia nyata sekitar kita dan dunia maya, media sosial. Tapi dalam diri kita juga. Ketenangan dan keheningan terus terusik dari kehidupan. Sibuk, gaduh dan bising seolah-olah menjadi indikasi zaman ini selain seolah-olah penting, dibutuhkan dan berguna. Jadwal penuh, notifikasi ramai, chat tak pernah sepi, story WhatsAp selalu di-up-date-kan, bahkan saat sendiri pun jarang benar-benar diam dalam hening dan refleksi.
Ada musik selalu terhubung di telinga, video always on di layar ponsel, tiktok terus diskrol, dinding dan profil Fece Book terus berubah, chatingan yang tak pernah berujung, musik yang tak kenal waktu, pikiran yang terus dipaksa bekerja, amarah yang terus membara, freming dan labelisasi politik yang terus terjadi, emosi yang terus terusik dan masih banyak litania kesibukan dan kegaduhan di sekitar, media sosial dan dalam diri kita.
Jika ketenangan dan keheningan tiba, reaksi pertama adalah gelisah. Diam sepertinya kekosongan yang harus segera diisi. Padahal sesungguhnya kita justeru terlalu penuh-sesak terisi dengan kesibukan dan kegaduhan/kebisingan. Keheningan justeru nyaris punah terusik.
Ketenangan dan Keheningan sesungguhnya adalah kejujuran. Ia tidak menawarkan kenyamanan instan. Ia memang tidak ramah. Menantang kita untuk masuk pada kedalam jiwa yang justeru selama ini sudah terlalu penuh-sesak dengan kebisingan, kegaduhan dan kesibukan.
Ketenangan dan Keheningan tidak pernah memaksa kita untuk menjawab. Ia hanya menyediakan dan membutuhkan ruang untuk jujur. Bahkan ketika kejujuran itu menyakitkan. Ruang untuk jujur mengakui bahwa ada hal-hal yang belum selesai. Emosi yang belum beres, dendam politik yang terus membara, pertobatan yang masih jauh, iri hati yang tak pernah bertepi, marah berkepanjangan, pergaulan yang lupa diri, mabuk-mabukan hingga fatal untuk kesehatan dan lupa akan identitasnya, hati yang masih terluka, relasi yang masih terputus, rencana dan cita-cita yang belum tercapai, sukses yang masih tertunda dan sebagainya.
Ketenangan dan Keheningan mengajarkan kita bahwa tidak apa-apa untuk pelan dan mengenal diri tanpa topeng. Termasuk juga ajarkan bahwa segala sesuatu ada batas dan waktunya. Ada batas dan waktu emosi, ada batas dan waktunya dendam, ada batas dan waktunya untuk marah, ada batas pergaulan, ada batas kemampuan, ada batas dan waktu sibuk, gaduh dan bising, ada batas moral dan etika dan seterusnya.
Ketenangan dan Keheningan memungkinkan kita mengenal lebih dalam dan lebih luas rencana dan kehendak Allah. Keheningan adalah sarana spiritual mengenal kehendak Allah di tengah dunia yang penuh dengan kebisingan, kegaduhan dan kesikbukan. Keheningan memampukan kita memenangkan jiwa, mendengarkan suara hati dan merasakan kehadiran dan perkataan Allah.
Santa Theresia dari Kalkuta pernah berkata: “Dalam keheningan hati, Tuhan berbicara”. Hening bukan sekedar tidak ada suara, melainkan momentum di mana kita memberikan kesempatan lebih banyak kepada Tuhan untuk berbicara. Hening membiarkan Firman Allah meraja dalam kehidupan. Dan ini yang kurang di zaman ini.
Mazmur 46:10 mengingatkan, “Tenanglah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” Ketenangan dan keheningan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah dan mendekatkan kita kepada-Nya. Ketenangan dan keheningan membantu kita membedakan kehendak Allah yang baik, berkenan dan sempurna. Ketenangan dan Keheningan menggerakan hati kita untuk tidak fokus pada diri sendiri, melainkan pada kehendak Allah, kasih-Nya dan pelayanan kepada sesama terutama yang menderita.
Ketenangan dan keheningan memampukan kita merespon penderitaan sesama dan pergumulan hidup bersama Tuhan, bukan sekedar memikirkan diri sendiri dan jalan keluar menurut logika manusia. Dalam keheningan kita dimampukan untuk membedakan suara Tuhan dari kebisingan dan kegaduhan dunia. Dalam Ketenangan dan Keheningan kita mampu memahami kehendak Allah di tengah kegaduhan bathin dan dunia sekitar.
Kita belajar untuk cukup dan berhenti sejenak dalam diam di tengah dunia yang super sibuk, gaduh dan bising. Cukup dan berhenti dalam diam bukan berarti menyerah. Tapi memberi ruang pada diri untuk sebuah refleksi. Berhenti sejenak dalam diam bukan berarti tanda lembah dan kalah. Tapi sebuah kepedulian pada diri sendiri, sesama dan lingkungan sekitarnya.
Kita belajar untuk diam dalam keheningan untuk sebuah refleksi. Diam adalah emas dan bentuk tertinggi dari kebijaksanaan untuk merenung, memproses emosi dan menjernihkan pikiran. Diam bukan berarti tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Diam merupakan bentuk kebijaksanaan dalam menimbang kata-kata. Ia adalah sebuah respon terbaik menghindari konflik dan menjaga kedamaian batin.
Ketenangan dan Keheningan adalah ruang yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kedamaian bathin tanpa harus selalu tampil sibuk. gaduh dan bising. Dalam diam (ketenangan dan keheningan), kehendak yang paling benar dan suara paling jernih dari Tuhan tentang siapa saya sebenarnya ditemukan. Diam dalam Ketenangan dan keheningan merupakan sebuah wujud tobat agar Tuhan lebih banyak bicara dan kehendak-Nya lebih banyak meraja dalam kehidupan kita.







