
Teropongindonesianews.com
Padangsidimpuan, SUMUT – Udara di lingkungan Jalan Ompu Sarudak, Kelurahan Hutaimbaru, terasa begitu tenang namun sarat makna pada siang itu. Tepat pada hari Minggu, 26 April 2026, genap seratus hari berpulangnya Erik Sagala. Ratusan orang berkumpul dengan hati yang khidmat, menyatukan suara dalam lantunan tahlil yang mengalun syahdu, menjadi bukti nyata akan kenangan dan rasa hormat yang abadi terhadap sosok yang selama hidupnya menjadi perekat dan penyejuk di tengah kehidupan bermasyarakat.
Peringatan 100 hari ini bukan sekadar memenuhi tradisi, melainkan menjadi ruang bagi seluruh keluarga besar, kerabat, dan warga untuk merenungkan kembali jejak-jejak kebaikan yang telah ditinggalkan. Bagi Ani Nasution, istri tercinta, hari ini menjadi momen untuk menguatkan hati di tengah rasa kehilangan yang masih terasa. Sejak pagi menjelang siang, tamu dan pelayat terus berdatangan, menciptakan suasana yang hangat sekaligus penuh penghormatan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa meski raga almarhum telah tiada, nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Hutaimbaru dan sekitarnya.
Dalam kesempatan tersebut, tokoh adat setempat yang juga bergelar Raja Sutan Paruhum, Muhammad Halilintar, menyampaikan kesaksiannya dengan suara yang sesekali tergetar oleh haru. Baginya, Erik Sagala adalah sosok langka yang mampu memadukan pengetahuan, keberhasilan, dan kerendahan hati dalam satu kesatuan. Meski sebagian besar waktu dan kesibukannya dijalani di Pekanbaru, hati dan perhatiannya tidak pernah lepas dari tanah kelahiran. Ia membuktikan bahwa kesuksesan dan kemajuan yang diraih tidak akan pernah mampu mengikis rasa cinta terhadap daerah asal serta kepeduliannya terhadap sesama.
“Bagi almarhum, adab dan tata krama adalah pedoman utama dalam setiap langkah kehidupan,” ujar Sutan Paruhum. Di tengah zaman yang kian mementingkan diri sendiri, Erik Sagala hadir sebagai contoh yang berbeda. Ia selalu menghormati orang tua dengan penuh rasa hormat, serta menyayangi dan membimbing generasi muda dengan kasih sayang. Sikapnya yang mampu menempatkan diri di tengah segala lapisan masyarakat membuatnya diterima dan dicintai oleh siapa saja—suatu keteladanan yang sangat berharga dan sangat dibutuhkan di tengah perubahan nilai-nilai kehidupan saat ini.
Selain itu, jejak kepedulian almarhum juga tercatat dalam berbagai bentuk kebaikan yang menyentuh banyak orang. Salah satu bukti nyatanya adalah perhatiannya terhadap rumah ibadah setempat, di mana ia secara diam-diam memastikan ketersediaan fasilitas pendukung seperti genset dan perlengkapan lainnya demi kenyamanan dan kelancaran ibadah umat. Baginya, harta yang dimiliki bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk berbuat baik, sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan meski ia telah tiada.
Lebih dari bantuan materi, Erik Sagala meninggalkan warisan sikap yang mengajarkan tentang kesetaraan. Setiap kali pulang ke kampung halaman, ia tidak pernah merasa berbeda dengan warga lainnya. Ia dengan santai duduk dan bercengkrama di kedai kopi bersama masyarakat biasa, meleburkan sekat antara kedudukan dan status sosial. Bagi dirinya, martabat seseorang tidak dilihat dari apa yang dimiliki atau jabatan yang dipegang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain dan kehangatan dalam menjalin hubungan persaudaraan.
Dari sisi rohani, Annisar Siregar, tokoh agama setempat, menyampaikan nasihat yang menyentuh hati seluruh hadirin. Ia mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang abadi. Di sana, amal perbuatan yang pernah dilakukan serta doa-doa orang-orang yang ditinggalkan akan menjadi cahaya yang menerangi jalan. Ia juga mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat yang layak dan penuh kebaikan di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai balasan atas segala kebaikan yang pernah disebarkannya selama hidup di dunia.
Kepada Ani Nasution, Annisar juga menyampaikan pesan penguatan. Ia menegaskan bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian kehilangan adalah bentuk pengabdian dan cinta yang paling tulus. Doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus setiap saat akan menjadi ikatan yang tak terputus, menyatukan hati meski terpisah oleh jarak duniawi.
Acara diakhiri dengan kenduri bersama, yang dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai latar belakang. Perjamuan ini bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol eratnya persaudaraan yang selalu dijaga dan dibangun oleh almarhum. Kehadiran begitu banyak orang menunjukkan betapa luasnya pengaruh positif yang telah ia tanamkan, menjadikan ikatan kekeluargaan di Hutaimbaru semakin kokoh dan kuat.
Sebagai penutup, doa bersama dipanjatkan dengan penuh harap agar segala kebaikan yang ditinggalkan Erik Sagala menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya. Peringatan 100 hari ini mungkin telah usai, namun semangat kebaikan, kerendahan hati, dan kepedulian yang ia contohkan diharapkan terus hidup dan menjadi teladan bagi generasi mendatang. Sebuah pesan sederhana namun mendalam: seseorang akan diingat bukan karena harta atau kedudukannya, melainkan karena kebaikan yang pernah ia berikan dan manfaat yang dirasakan oleh banyak orang.
Ali HRP







