Oplus_131072
Teropongindonesianews.com – Meski istilah “Pasangan Calon” (Paslon) tidak dikenal dalam dokumen formal organisasi, dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menunjukkan realitas politik yang kental dengan aroma paket kepemimpinan duet Rais Aam dan Ketua Umum (Tanfidziyah).
Analis organisasi sekaligus tokoh warga NU, HRM. Khalilur R Ab. S, yang Akrab Disapa Gus Lilur mengungkapkan bahwa mekanisme normatif pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) kini menjadi arena strategis yang sangat menentukan sebelum muktamar resmi digelar.
Secara regulasi, Rais Aam dipilih oleh tim AHWA. Namun, Khalilur mencatat adanya upaya pengkondisian komposisi AHWA oleh para aktor utama. Salah satu dinamika yang mencolok adalah pergerakan Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
”Ada upaya untuk membendung kiai-kiai alim seperti KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Kafabihi Makhrus masuk dalam tim AHWA. Hal ini diduga karena kedua kiai tersebut cenderung mendukung KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam, sementara Gus Ipul menghendaki KH. Miftachul Akhyar tetap bertahan,” ujar Gus Lilur
Berdasarkan pembacaan peta politik terkini, terdapat lima poros atau “paslon” yang mulai mengkristal:
1 .Poros Petahana (Gus Yahya): KH. Yahya Cholil Staquf dipastikan maju kembali sebagai Ketua Umum, namun masih mencari sosok Rais Aam yang tepat untuk berpasangan dengannya.
2 . Poros Gus Ipul: Fokus pada posisi Sekretaris Jenderal dengan mendorong KH. Miftachul Akhyar tetap sebagai Rais Aam, sembari merumuskan sosok Ketua Umum yang ideal.
3 . Poros Afiliasi Politik (PKB): Jaringan yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa mendorong skema Ketua Umum tertentu dengan KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
4 .Poros Birokrasi (Kemenag): Munculnya nama Menteri Agama Nazaruddin Umar sebagai calon kuat Ketua Umum, dengan posisi Rais Aam yang masih terbuka untuk negosiasi.
5 • Poros Alternatif: Kekuatan “kuda hitam” yang biasanya muncul dari kompromi menit-menit terakhir jika terjadi deadlock antar poros utama.
Dinamika menarik terpantau dari forum IKA PMII. Khalilur melihat adanya sinyal kuat terbentuknya koalisi antara jaringan PKB, Kementerian Agama, dan barisan KH. Said Aqil Siradj.
”Jika figur seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar benar-benar berpadu, maka hasil Muktamar bisa saja sudah ‘selesai’ sebelum forum resmi berlangsung. Namun, faktor kiai-kiai sepuh pesantren tetap menjadi variabel penentu yang tak bisa diremehkan,” tambahnya.
Di sisi lain, KH. Yahya Cholil Staquf dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan KH. Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam, meski belum mendapat jawaban pasti. Dengan modal awal dukungan sekitar 40 persen, Gus Yahya diprediksi akan beralih ke figur seperti KH. Asep Saifuddin Halim atau KH. Ma’ruf Amin jika negosiasi dengan Buya Said menemui jalan buntu.
Muktamar NU ke-35 bukan sekadar seremonial organisasi, melainkan ajang adu strategi antar jaringan dan orientasi masa depan NU. Penggunaan istilah “Paslon” mempertegas bahwa kepemimpinan di NU adalah hasil simbiosis dua poros: spiritualitas (Rais Aam) dan manajerial (Ketua Umum).
BiroTIN/STB





