
Teropongindonesianews.com
KOTA PASURUAN – Pekikan takbir dan rasa haru warga pecah di tengah riuhnya aksi blokade jalan yang dijuluki warga sebagai “jalur maut” di sepanjang Jalan Gatot Subroto, Kota Pasuruan. Di tengah kepulan debu dan sengatan matahari, warga menggelar aksi tabur bunga dan istighosah kubro untuk mendoakan para korban yang meregang nyawa akibat pengalihan arus lalu lintas Bonagung-Kraton akibat perbaikan Jembatan Bukwedi.
Namun, di balik riuhnya perlawanan rakyat tersebut, ada sebuah tanya yang mengganjal dimana sosok wakil rakyat yang sebelumnya berkoar-koar paling nyaring membela mereka?
Aksi heroik yang diinisiasi oleh Ayi Suhaya, S.H., Ketua GM-FKPPI Kota Pasuruan bersama puluhan warga terdampak, menyisakan pemandangan kontras. Anggota DPRD Kota Pasuruan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang juga warga setempat dan terdampak langsung kemacetan, justru tak kelihatan batang hidungnya. Padahal, sebelumnya ia begitu gencar menggembar-gemborkan pembelaan demi rakyat di media.
Ketidakhadiran sang legislator menyisakan kekecewaan mendalam bagi massa yang hadir. Salah seorang demonstran, sebut saja Udin, bahkan tampak kehilangan fokus sepanjang aksi berlangsung. Di tengah kekhusyukan doa dan istighosah, kepala Udin terus menengok ke kanan dan ke kiri, mondar-mandir seperti mencari sesuatu yang hilang.
Usai berjam-jam berdiri di bawah terik matahari dan tak menemukan sosok yang dicarinya, dengan wajah lesu Udin terpaksa menghampiri awak media.
“Mas, tidak kelihatan anggota dewan dari Partai Ka’bah (PPP) kah? Saya mencari kesana-kemari kok tidak kelihatan,” tanya Udin dengan nada penuh kekecewaan.
Ironisnya, sehari sebelum aksi digelar, sebuah banner raksasa milik anggota DPRD dari PPP tersebut terpampang jelas dan gagah tepat di pertigaan Bukir. Namun, begitu aksi nyata GM-FKPPI dan warga dimulai, banner tersebut lenyap seolah disapu angin malam. Pihak warga pun mulai menganggap statmen-statmen sang dewan di media sebelumnya hanyalah lelucon dan panggung politik belaka.
Ketidakhadiran para wakil rakyat ini memicu reaksi keras dari Ketua GM-FKPPI Kota Pasuruan, Ayi Suhaya. Ia mengkritisi tajam Ketua DPRD Kota Pasuruan serta seluruh anggota DPRD, khususnya Daerah Pemilihan (Dapil) Gadingrejo, yang dinilai pengecut dan hanya berani bersuara di balik meja.
“Satu pun anggota dewan, terutama dari Dapil Gadingrejo, tidak ada yang berani menampakkan batang hidungnya hari ini untuk berdiri bersama rakyat yang berduka,” tegas Ayi dengan nada tinggi saat berorasi.
Ayi mengecam keras sikap abai para pemangku kebijakan di Kota Pasuruan. Menurutnya, hati nurani para pejabat mulai dari Walikota, Wakil Walikota, hingga jajaran legislatif telah mati. Keluhan warga yang sudah menderita selama dua bulan terakhir akibat proyek Jembatan Bukwedi dinilai terus diabaikan.
“Mereka tutup mata! Keluhan warga sudah dua bulan tidak ada tindak lanjut. Jangan sampai fungsi dewan itu bergeser menjadi 3D: Datang, Duduk, Duit tok! Sementara rakyat bertaruh nyawa di jalanan ini,” pungkas Ayi berapi-api disambut riuh tepuk tangan warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari anggota DPRD partai terkait maupun perwakilan Dapil Gadingrejo mengenai alasan absennya mereka dalam aksi penuntutan hak warga tersebut. (*)






