
Oleh Dionisius Ngeta
Warga RT/RW 017/005 Kel. Wuring Maumere
Teropong Indonesia News
Ketika diwawancarai oleh presenter kondang Najwa Shihab, Jokowi memiliki perspesi sendiri tentang terminology “Pulang Kampung” dalam program Mata Najwa (22/04/2020). Ia membedakan pengertian “pulang kampung” dengan “mudik” walaupun masih sangat terbuka untuk diperdebatkan.
Pulang kampung dan mudik menurut Jokowi adalah dua hal yang berbeda berdasarkan alasan dan waktu kepulangannya. Pulang kampung lebih pada alasan ketiadaan pekerjaan di kota yang menyebabkan seseorang pulang kembali ke kampung. Sedangkan mudik lebih pada alasan hari raya: Idul Fitri/Lebaran (https://www.kompasiana.com)
Dalam kontek ini kita bisa melihat bahwa Jokowi konsisten dengan pemahamannya tentang terminology “pulang kampung”. Ketika ditanya tentang aktivitasnya jelang purna bakti sebagai Presiden ke-7 RI, ia menjawab: “Saya akan pulang kampung, kembali ke Solo”.
Jokowi sadar bahwa tugas dan pekerjaannya sebagai Presiden RI yang dipercayakan masyarakat Indonesia ada batas waktunya. Kewenangan dan kekuasaan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang dipercayakan masyarakat tak akan pernah selama-lamanya. Semuanya akan berakhir dan ia pun akan kembali ke kampung halamannya (pulang kampung) sebagai masyarakat biasa atau Jokowi menyebutnya: “orang kampung”.
Kini “pulang kampung” bagi Jokowi tidak terbatas hanya sekadar kembali ke Solo dan menjadi masyarakat biasa/orang kampung. Solo menjadi lokus dan episentrum baru perpolitikan dan Jokowi bukan hanya sekadar orang kampung. Jokowi tetap menjadi seorang tokoh politik dan negarawan berpengaruh dan diperhitungknan di negeri ini dalam pentas politik nasional walaupun tidak sedang berkuasa.
Kekuatan dan pengaruh seorang politisi tidak diukur ketika dia sedang berkuasa. Tetapi di saat ketika ia pulang kampung, kembali sebagai masyarakat biasa di kampung dan tidak memiliki jabatan dalam pemerintahan. Kesederhanaan sebagai orang kampung dan hasil kerja nyata selama kepemimpinan membuat Jokowi tetap terlegitimasi dan dicintai. Dia boleh tidak lagi berkuasa, tapi citra dan pengaruhnya tetap terasa.
Begitu banyak masyarakat berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari mereka yang memiliki kekuasaan sampai yang menyandang sebagai rakyat biasa. Tak ketinggalan para tokoh, baik daerah maupun nasional bahkan internasional datang silih bergantian. Ini adalah symbol yang menndakan bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh dan legitimasi masyarakat masih terjaga.
Solo tidak sekedar kampung
Jokowi mempresepsikan dirinya sebagai orang kampung dan Solo sebagai kampungnya walaupun Solo sesungguhnya adalah kota. Dia menyebut: “Pulang kampung”, ke Solo ketika purna tugas sebagai Presiden. Bahkan ketika gonjang-ganjing dengan pernyataan Jusuf Kalla terkait masalah ijzah, Jokowi menjawab: “Saya orang kampung”.
Kini Solo tidak sekadar kampung atau kota asal Jokowi. Solo adalah asal-mula karya dan peradaban politik hingga Jokowi seperti sekarang ini. Dan itu yang sungguh disadari Jokowi. Dia tak pernah mengingkari diri bahwa dia dari kampung, dia orang kampung dan dia dibesarkan di kampung (Solo). Kehidupan sosial budaya di kampung halamannya yang melatarbelakangi karakter hidup dan karakteristik politik Jokowi.
Jokowi hadir sebagai politisi berkarakter. Ia hadir sebagai politisi dan pemimpin yang melayani. “Blusukan” adalah ciri yang membedakannya dengan para politisi dan pemimpin lainnya. Kehadirannya di pentas perpolitikan nasional sungguh memberi warna yang berbeda bahkan kini dianggap sebagai yang “berbahaya” bagi kemapanan dan kenyamanan para politisi sebelumnya.
Karena itu tidak heran ketika tagline “Pulang Kampung” berubah menjadi Safari Politik Jokowi bersama PSI ke berbagai daerah direspon dengan sangat reaktif dan arogan dari berbagai kalangan. Bahkan segala yang terjadi di negeri ini selalu dihubungkan dengan Jokowi.
Solo dan Jokowi kini telah menjadi lokus dan episentrum politik yang patut diperhitungkan dalam peradaban politik nasional sekarang ini. Bukan hanya Hambalang, Teuku Umar atau Cikeas. Solo telah melahirkan seorang politisi berkarakter (Jokowi). Ia hadir tidak hanya sebagai politisi kontroversi dan disegani tapi juga sukses 2 periode memimpin negeri ini terutama masifnya pembangunan infrastruktur.
Jokowi adalah politisi yang mampu meraih mayoritas dukungan masyarakat secara langsung dalam 5 kali Pemilihan Umum yakni 2 kali sebagai Wali Kota Solo, 1 kali sebagai Gubernur DKI dan 2 periode sebagai Presiden. Hasil kerja nyata selama kepemimpinannya telah membuat Solo dan Jokowi tetap terkenang masyarakat Indonesia. Belum pernah ada politisi di negeri ini yang menandinginya. Itu fakta yang tak terbantahkan.
Pulang kampung Jokowi tidak sekadar safari politik
Jika dulu kata “blusukan”, kini Jokowi bersama PSI: “pulang kampung”. Pulang kampung hemat saya bukan sekadar safari politik Jokowi bersama PSI. Ini adalah symbol etik dan kesadaran politik. Jokowi dan PSI sadar betul bahwa PSI dan Jokowi sebagai partai politik dan politisi menjadi besar karena masyarakat yang ada di kampung-kampung. PSI dan Jokowi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa tanpa dukungan masyarakat Indonesia. Jokowi mempresepsikan dirinya sebagai pribadi yang tak ada apa-apanya. Dia orang biasa seperti kita. Bahkan dia mengatakan: “Saya orang kampung”.
Jokowi sadar bahwa keberhasilannya dalam meraih mayoritas dukungan masyarakat, baik sebagai Wali Kota Solo 2 periode, Gubernur DKI 1 periode dan terutama sebagai Prisiden RI 2 periode dan kiprahnya sebagai politisi hingga saat ini adalah kehendak dan dukungan masyarakat. Bukan atas dukungan perorangan seperti yang diklaim oleh salah satu politisi senior di negeri ini.
Demikian juga PSI. Idealisme menjadi partai tbk akan sia-sia jika tanpa peran serta masyarakat dan dukungan masyarakat. PSI tidak akan menjadi salah satu partai yang bisa lolos ke senayan jika masyarakat tidak mendukungnya. Karena itu “pulang kampung” PSI bersama Jokowi adalah kesempatan membangun citra diri sebagai partai tbk, mengkonsolidasikan kekuatan dan dukungan masyarakat, meningkatkan popularitas dan elektabilitas tokoh dan partai politik di mata publik serta menjalin komunikasi politik dan menyerap aspirasi masyarakat dan tokoh-tokohnya.
Jika partai politik dan politisi ingin terus dilegitimasi, maka berakar ke bawah, kepada masyarakat adalah keharusan. Masyarakat desa atau kampung merupakan fondasi awal pembentukan suara politik dan tempat pertama warga belajar berdemokrasi.
Pulang kampung Jokowi bersama PSI adalah safari Politik yang memiliki tujuanya yakni agar dukungan dan legitimasi masyarakat terus terjaga. Jokowi dan PSI tahu betul bahwa kampung dan masyarakatlah yang dapat membesarkan sebuah partai dan masuk senayan.
Sebagai fondasi dan tempat pertama warga belajar berdemokrasi, Jokowi bersama PSI memiliki tanggungjawab moral untuk pendewasaan politik masyarakat. Peran tersebut harus betul-betul dirasakan masyarakat secara berkelanjutan. Artinya tidak hanya pada hajatan politik lima tahunan. Masyarkat mesti merasakan bahwa mereka tidak hanya sebagai objek lima tahunan dalam percaturan politik dan demokrasi para politisi dan partai politik.







