Teropong Indonesia News
BONDOWOSO, Di sebuah rumah sederhana di Desa Tegaljati, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, duduk seorang lelaki yang telah melewati masa mudanya bekerja keras membelai keluarganya. Tangan yang kasar, wajah yang berkerut oleh matahari, dan mata yang menyimpan kesedihan yang tak terucap.
Namanya Satrawi.l, Ia buruh tani yang sederhana, Menikah sejak 11 Agustus 1988, hampir 38 tahun membina satu rumah tangga. Dua anak lahir, dibesarkan, disekolahkan. Ia pikir, kerja keras dan kesetiaannya akan dibalas kebersamaan hingga tua.
Namun tak berkata lain, Dua Tahun Lalu, Semua Berubah, Sejak Januari 2024, istrinya, Tatik, perlahan pergi, Bukan untuk berpisah baik, bukan untuk pulang kerumah orang tua, akan tetapi dia justru berpindah ke rumah pria lain yang tinggal di lingkungan yang sama, RT yang sama, Desa yang sama.
Pria itu bernama Marzuki (Fathor), Sama-sama buruh tani, Sama-sama warga setempat, ini yang paling menyakitkan, Mereka tidak bersembunyi.
“Berangkat bersama, pulang bersama, bekerja ke Bali pun beriringan, Tetangga melihat setiap hari, Anak-anak melihat, Semua orang tahu, Hanya saya yang seolah tak dianggap,” Ujar Satrawi dengan nada bergetar
Dua tahun penuh. Dua tahun menahan malu, Dua tahun menasihati namun tak didengar, Dua tahun melihat janji suci diinjak-injak tepat di depan mata.
Setelah menunggu lama, menahan diri, dan berharap perubahan terjadi, Satrawi akhirnya melangkah tegas. Pada 18 September 2026, ia menyerahkan laporan resmi ke Polres Bondowoso, bukan karena dendam, melainkan karena kebenaran harus tetap benar.
Dirinya melaporkan dugaan Perzinahan Pasal 284 KUHP Bukan tanpa bukti,
– Buku Nikah asli, masih sah, belum pernah bercerai
– Empat saksi tetangga terdekat, semuanya mengonfirmasi hidup bersama
– Fakta terang benderang, diketahui umum, berlangsung lama, tidak disembunyikan
– KTP & Kartu Keluarga, semuanya masih tercatat sebagai satu keluarga
Satrawi tidak meminta harta, Ia buruh tani, sederhana, Yang ia minta hanya satu, agar hukum ditegakkan.
“Saya tidak membalas. Saya hanya ingin dikatakan, ini salah. Ini tidak boleh, Ada janji, ada aturan, ada harga diri yang dilukai.”
Kisah Satrawi bukan sekadar urusan rumah tangga, Ini adalah cerminan bagi kita semua,
– Kesetiaan tidak boleh dijadikan alasan untuk diinjak
– Kesunyian bukan berarti setuju
– Malu bukan berarti salah
– Hukum ada untuk melindungi yang jujur, bukan yang berani melanggar
Dua tahun ia diam, Bukan takut, melainkan masih berharap, Kini ia berbicara, bukan untuk dirinya saja, tapi untuk setiap orang yang setia namun dikhianati, yang bekerja keras namun diabaikan, yang menjaga janji namun ditinggalkan.
Satrawi membuktikan, ketika orang sederhana berani berdiri untuk kebenaran, itu jauh lebih kuat daripada kekuasaan apapun.
Semoga laporan ini segera ditindaklanjuti, Bukan untuk menghukum semata, melainkan agar diketahui, ada batas yang tidak boleh dilanggar, ada kesetiaan yang tidak boleh dikhianati, dan ada keadilan yang tetap berlaku, untuk siapa saja, tanpa terkecuali.
“Kebenaran mungkin terlambat, tapi tidak akan pernah hilang.”
REDAKSI

