(Kenangan 40 Tahun Yayasan Bina Daya St. Vinsensius /YASBIDA, 24 Septermber 2026)
(Edisi Pertama)
Teropong Indonesia News
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil
Koordinator Panti Santa Dymphna
Perjalanan waktu dan perkembangan zaman memacu Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) mempertimbangkan mendirikan sebuah lembaga formal yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Visi dan Misi CIJ (Congregationis Imitatio Jesu) akan lebih leluasa, luas dan legal dilaksanakan bagi kepentingan masyarakat dampingan atau masyarakat pada umumnya bila memiliki lembaga sosial formal dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat.

CIJ menyadari bahwa melalui sebuah lembaga sosial formal, legalitas dan aktvitias misionernya diakui dan diperkuat untuk memberdayakan masyarakat sesuai dengan sumber daya dan visi-misinya. Masyarakat terutama mereka yang tak berdaya karena tantangan dan masalah sosial lainnya dapat memiliki dan menikmati hak-haknya. Potensi-potensi yang dimiliki masyarakat sasaran/dampingan dapat diberdayakan dan mereka boleh menikmati kesejahteraan di antaranya melalui sebuah lembaga formal.
Tentu CIJ memiliki keterbatasan dan kekurangan. Tapi CIJ ingin secara formal memberi dari keterbatasan melalui lembaga sosial kemasyarakatan. CIJ berkehendak agar apa yang mereka miliki yakni semangat, spiritualitas, kemauan, bakat, talenta, ketrampilan, pengalaman dan doa dapat diberikan. Dengan demikian semuanya menjadi nyata dan berdaya guna bagi masyarakat dan Kerajaan Allah dirasakan di tengah umat manusia.
Kesadaran akan keterbatasan itu membuat CIJ berpikir alternatif dan prospektif untuk membangun jejaringan dan kerja sama multi pihak dan multi sektor melalui lembaga sosial. Melalui jaringan kerja sama, CIJ dapat bergandengan tangan untuk bersama-sama membangun Kerajaan Allah dan memberdayakan masyarakat. Hal ini adalah panggilan Allah, perutusan Putera-Nya kepada para pengikut-Nya dan misi Kongregasi (CIJ).
Watubala dan Sokar, Tempat dan Kegiatan Pemberdayaan Perdana
Yayasan Bina Daya St. Vinsensius (YASBIDA) sekarang ini bukan sebuah lembaga sosial yang sekali jadi. YASBIDA adalah sebuah lembaga yang terus berprores selaras dengan dinamika perkembangan zaman. SOKAR dan WATUBALA adalah aktivitas dan tempat perdana sebelum YASBIDA menjadi sebuah lembaga formal dengan beberapa unit pelayanan dan berbagai kegiatan pemberdayaan dilakukan.
Singkat cerita, pada tanggal 24 Februari 1983, CIJ melakukan aksi sosial dengan nama SOKAR (Kegiatan Sosial Karitatif). SOKAR adalah aksi nyata keberpihakan terhadap Penyandang Masalah Sosial (PMS). Kegiatan ini bertujuan agar PMS, seperti anak-anak putus sekolah akibat rendahnya pendapatan keluarga, kesempatan mendapatkan penddidikan yang rendah, akses pelayanan kesehatan yang minim dan rendahnya upah kerja wanita bisa dibantu. SOKAR ini adalah aktivitas pemberdayaan perdana dan cikal bakal terbentuknya Yayasan Bina Daya St. Vinsensius.
SOKAR berkembang pesat. Berbagai kegiatan sosial karitatif dilakukan tidak terbatas di kota Maumere tapi sampai di Watubala Kecamatan Waigete. Akhirnya di Watubala itu menjadi tempat pijak dan pusat kegiatan SOKAR. Panggilan dan perutusan Allah melalui CIJ dimulai di tempat itu. Umat dan masyarakat sekitarnya, terutama Penyandang Masalah Sosial diberdayakan dengan berbagai kegiatan pendampingan (bimbingan dan pelatihan).
Di Watubala, sebuah rungan untuk kursus/pelatihan seperti kursus menjahit, satu unit untuk poli klinik dan Rumah Biara CIJ yang disebut Komunitas Anjo Da Guarda dibangun. Dari rumah komunitas ini, anggota CIJ berkarya, melakukan berbagai kegiatan sosial karitatif, pemberdayaan dan pelayanan pastoral lainnya bagi umat terutama “orang-orang kecil” (penyandang masalah sosial) yang membutuhkan pendampingan. Kegiatan seperti menjahit, menyulam, merenda dan pelayanan kesehatan dilakukan oleh anggota CIJ di tempat ini. Semuanya itu dilakukan sebagai konkritisasi dari pemberdayaan dan misi keberpihakan CIJ terhadap orang kecil.
Sejalan dengan dinamika dan tuntutan zaman, SOKAR terus berkembang dan termodifikasi. Pada tanggal 29 Juni 1984, SOKAR Watubala diperbaharui menjadi sebuah Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM). Pusat Pengembangan Masyarakat tersebut diberi nama: PPM St. Vinsensius. Tujuan PPM tersebut adalah memberdayakan / mendidik masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatan dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.
PPM St. Vinsensius pun dalam perjalanannya terus mengalami transformasi sejalan dengan tuntutan pemerintah. Pada tanggal 24 September 1986, PPM St. Vinsensius akhirnya diperbaharui menjadi sebuah lembaga formal dengan nama: Yayasan Bina Daya St. Vinsensius. CIJ meyakini bahwa visi dapat diraih dan misi bisa beroperasi jika keabsahan lembaga bisa dipertanggungjawabkan. Sasaran atau masyarakat dampingan akan semakin luas terjangkau dan kegiatan/pelayanannya makin menyapa problematika masyarakat. Legalitas karya pelayanannya pun dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan tuntutan negara dan pemerintah (Bersambung).

