Puluhan Pick Up Disebut Antre Angkut Material Setiap Hari
SUMENEP – Aktivitas galian C di Desa Sentol Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, menjadi sorotan tajam. Tim Media Teropong Indonesia News melakukan investigasi di lokasi dan menemukan kondisi yang memunculkan kekhawatiran masyarakat, terutama terhadap keselamatan rumah warga yang berada di sekitar area penggalian.

Berdasarkan keterangan sejumlah masyarakat, aktivitas galian tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kondisi tanah. Warga mengkhawatirkan penggalian yang terus berlangsung dapat memicu Erosi maupun longsor, terlebih apabila jarak penggalian dengan permukiman semakin dekat.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Di sisi timur lokasi galian, kondisi lahan disebut sudah mendekati area rumah warga. Bahkan, menurut keterangan masyarakat, terdapat rumah yang kondisinya nyaris terdampak akibat perubahan kondisi lahan di sekitar lokasi.
Salah seorang warga yang disebut bernama Ibu Ham, yang mengaku merasakan dampak aktivitas tersebut, berharap aparat segera turun tangan melakukan pemeriksaan sebelum kondisi semakin membahayakan.
Ia berharap Polres Sumenep maupun Polsek setempat segera menindaklanjuti persoalan tersebut, terutama untuk memastikan keselamatan rumah warga yang berada di sekitar area galian.
Puluhan Pick Up Disebut Keluar-Masuk Setiap Hari
Selain persoalan keselamatan warga, aktivitas pengangkutan material dari lokasi galian juga menjadi perhatian.
Menurut keterangan masyarakat sekitar, kendaraan pengangkut material disebut antre setiap hari untuk mengambil hasil galian. Jumlahnya bahkan diklaim tidak kurang dari 30 unit mobil pick up per hari.
Warga juga menyebut harga material galian yang diangkut mencapai sekitar Rp120 ribu untuk setiap mobil pick up.
Jika angka tersebut benar dan aktivitas berlangsung setiap hari, maka secara hitungan sederhana nilai transaksi yang beredar dari 30 kendaraan saja dapat mencapai sekitar Rp3,6 juta per hari. Namun, angka tersebut masih merupakan informasi berdasarkan keterangan masyarakat dan perlu diverifikasi lebih lanjut kepada pengelola serta pihak berwenang.
Besarnya aktivitas pengangkutan tersebut semakin membuat warga mempertanyakan bagaimana status perizinan, pengelolaan lingkungan, serta pengawasan terhadap kegiatan galian tersebut.
Warga Minta Jangan Tunggu Rumah Ambruk
Masyarakat berharap persoalan ini tidak dianggap sepele. Mereka meminta aparat melakukan pengecekan langsung terhadap lokasi, termasuk melihat jarak area penggalian dengan rumah warga dan kondisi tanah di sekitar lokasi.
Warga juga berharap pemerintah dan aparat terkait memastikan apakah aktivitas galian tersebut telah memenuhi seluruh persyaratan dan perizinan yang diwajibkan.
“Jangan sampai setelah rumah warga benar-benar ambruk atau terjadi longsor baru ada tindakan,” menjadi kekhawatiran yang disampaikan masyarakat.
Persoalan ini kini menjadi perhatian publik. Polres Sumenep dan Polsek setempat diharapkan dapat melakukan klarifikasi dan pemeriksaan sesuai kewenangannya, termasuk memastikan legalitas aktivitas galian serta potensi dampaknya terhadap keselamatan masyarakat.
Media Teropong Indonesia News akan terus melakukan penelusuran terhadap aktivitas tersebut, termasuk meminta klarifikasi dari pengelola galian, Pemerintah Desa Sentol Laok, pemerintah daerah, dan instansi teknis terkait.
Hingga berita ini diterbitkan, status perizinan kegiatan, pihak pengelola, serta hasil pemeriksaan resmi terhadap kondisi lokasi masih belum diperoleh. Ruang hak jawab dan klarifikasi tetap terbuka bagi pihak pengelola maupun instansi terkait.
Pewarta : Dimin

