
Teropongindonesianews.com
Oleh Altris Gibun
Menjelang Pemilu, mereka kembali menjadi pengemis, setelah berkuasa mereka tuli. Untuk sementara rakyat adalah rajanya. Setelah berkuasa, rakyat kembali menjadi budak seperti biasa. Apapun kebijakan, ingat Pemerintah adalah Tu𝒽𝒶𝓃 dalam sebuah 𝒩𝑒𝑔𝒶𝓇𝒶.
Sebagai warga Negara sudah sepatutnya terlibat aktif. Mungkin saja kali ini, saya menggunakan theory Aristoteles mendefinisikan Politik. Politik artinya kemakmuran rakyat. Bicara kemakmuran, maka kita semua adalah pengambil keputusan siapa dan kenapa orang-orang terpilih, baik Presiden, Gubernur, Bupati maupun Legislatif harus melakukan aktivitasnya sebagaimana ketika ia terpilih nanti. Media melansirkan tentang perilaku imorilitas masyarakat Pemerintah, salah satunya Korupsi 8T. Bukan tidak mungkin, hal semacam ini menimbulkan kepercayaan public terhadap Politik kian menurun drastis.
Sehingga tidak heran banyak munculnya gerakan kritisisme di lingkungan masyarakat, sebab dengan itu pula indeks demokrasi Indonesia akan berjalan dengan baik. Diketahui bahwa,
“ Jabatan Publik dalam birokrasi merupakan pemberian rakyat, Mobil Mercy adalah Fasilitas publik dan sebagainya. Mau heran, beginilah republic dibelokan oleh kaum oligarki. Kongsi-kongsi berbagi jatah proyek. Lingkungan alam dan bumi siap target untuk diambil keuntungan dan bagi-bagi kepada team sukses sebagai pekerja. Hampir alasan dibalik dukungan ingin mencari keuntungan. Kerja, proyek dan jaminan keuangan. Di zaman serba Uang ini, semua menjadi budak oportunis. Sebagai subjek manusia menerima itu di alam pikirannya. Seolah-olah Bertuhan pada Pemerintah adalah keharusan. Siapa lawan dituding makar.”
Pada zaman serba canggih manusia menjadi Homo digitalis. Tanpa media aku tak merasa bahagia. Era globalisasi telah membuka kesempatan bagi sebagian besar masyarakat untuk mengikuti arus perubahan dunia secara lebih cepat. Kehadiran media-media komunikasi telah mempermudah terjadinya penyebaran informasi secara lebih merata yang pada gilirannya akan mempercepat arus perubahan sosial ke ranah yang lebih baik demi kesejahteraan manusia.
Pada sisi lain, kita tidak dapat memandang ringan dampak negatif yang diakibatkan oleh media komunikasi. Diantara berbagai keluhan mengenai dampak buruk perkembangan media informasi, yang paling menonjol adalah kekuatiran tentang pengaruh iklan bagi masyarakat seperti halnya di musim politik. Di tahun ini begitu banyak muncul informasi gamblang dan pencitraan dari politisi, misalnya bagi sembako, duduk bercerita bersama rakyat dan tertawa sumringah bersama opa dan oma-oma.
Waktu bergulir begitu cepat memaksakan kita untuk selalu berpikir dengan metode kesangsian mengutamakan daya kritis terhadap segala realitas yang ada. Kebenaran segala sesuatu disangsikan dan hanya diri yang berpikir secara pasti dapat diyakini keberadaanya. Keraguan bukanlah keraguan seperti dalam kaum skeptis, yang meragukan segala sesuatu hanya untuk meragukan. Keraguan harus merupakan segala sesuatu hanya untuk meragukan.
Dengan keraguan itu, berarti meninggalkan kepastian yang diberikan oleh otoritas apapun yang ada dalam dunia ini dan mencari kepastian yang rasional. Tidak dapat disangkal bahwa rasio manusia telah menjadi aktor yang membebaskan manusia dari otoritas tradisional seperti agama dan memberikan kemajuan yang mempermudah kehidupan manusia.
“Aku Klik, maka aku ada”, menjadi semacam ideologi yang hidup dalam masyarakat modern saat ini. Segala penampakan luar dari diri dijadikan sebagai yang paling penting melebihi manfaatnya. Orang menjadi sangat selebritis saat dilihat, diperhatikan dan diterima.
Apa yang dipakai menjadi tanda keberadaan dan harga diri seseorang. Karena itu, setiap orang entah kaya atau miskin akan berusaha tampil dengan mengikuti para selebritis, karena citra yang digemborkan media bahwa selebritis merupakan contoh yang paling cocok untuk ditiru, Teringat kembali refleksi filosofis zaman modern diawali oleh Rene Descartes (1596-1650) dengan cogito ergo sum ; Aku berpikir maka aku ada.
Cogito (Aku berpikir) juga dilihat sebagai kesadaran. Dengan ini rasionalitas modern menekankan kesadaran sebagai suatu bentuk cara berada manusia. Itu berarti menjadikan manusia sebagai ukuran bagi segalanya. Menjadikan rasionalitas sebagai sesuatu yang penting dan menentukan merupakan suatu kemajuan besar yang telah dicapai umat manusia. Descartes dengan cogito, dalam kadar tertentu berarti melawan otoritas yang ada pada waktu itu.
Descartes dengan metode kesangsian menekankan daya kritis manusia terhadap segala realitas yang ada. Pesona televisi yang sanggup mengkonstruksi sang manusia di hadapan para manusia mesti dilihat sebagai sebuah problem yang serius. Seperti ditegaskan Hannah Arendt , sang manusia itu a-politis karena ia menghadapi kumpulan manusia dengan logika kekuasaan. Padahal poliitik itu tidak identic dengan kekuasaan .
Politik adalah sebuah bentuk pelayanan public yang bertujuan menyejahterakan manusia-manusia. Maka Aktus sang manusia untuk merebut popularitas , kekuasaan, dan pemuasaan interese egoistic lewat manipulasi televisi merupakan oposisi terhadap tujuan politik yang sebenarnya.
Barangkali kita mengerti dan memahami kegilaan politisi menemukan jati diri dalam dunia politik mulai mengusik laman media sosial. Perlahan karakter itu mendadak berubah. Pencitraan mulai diusungkan.
Dalam hal ini, tentu menjadi pusat perhatian masyarakat biasa yang kerjanya hanya di kebun dan di sawah. Seperti halnya Nusa Tenggara Timur. Masyarakat agraris, masyarakat yang hidupnya bergantung pada musim hujan dan kemarau. Hasil panen sawah dan kebun. Menjelang 2024, seketika kamuflase tindakan politik praktis mengakar pada masyarakat umumnya yang belum terlibat dalam dunia politik tiba-tiba fanatisme terhadap kehadiran pemilu 2024.
Hal yang perlu diperhatikan tentang apapun pilihan kita adalah bagian dari penanggung jawaban kita sebagai masyarakat Indonesia. Semoga Indonesia dipimpin oleh orang-orang baik di masa yang akan datang.
Referensi ; Televisi, media, dan buku Tindakan Politik perspektif Hannah Arendt, Pemikiran-Pemikiran yang membentuk dunia Modern ( Dari Machiavelli sampai Nietzsche)
Pewarta: Andreas. Editor: Santoso.







