
Teropongindonesianews.com
“..It is not a celebration of victory,
it is a celebrating of responsibility…”
(Woodrow Wilson).
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil
(Staf YASBIDA Maumere, Putera Bheda-Nangaroro-Nagekeo)
Mandat dan suara keadaban rakyat telah diperebutkan dalam gelanggang pentas politik dan hajatan demokrasi, 14 Februari 2024. Berdasarkan Quick Count (Hitung Cepat) dari berbagai lembaga survey kredibel, masyarakat mendapatkan kepastian siapa sesungguhnya meraih terbanyak mandat dan kepercayaan dalam gelanggang pentas dan hajatan politik dan demokrasi tersebut.
Kemenangan itu sesungguhnya adalah kemenangan masyarakat itu sendiri. Politik dan demokrasi bermula dan lahir dari masyarakat, menuntut peratisipasi masyarakat dan kepentingannya bermuara pada masyarakat. Masyarakat adalah subyek sekaligus tujuan aktifitas dan eksistensi politik dan demokrasi itu sendiri. Penomoran dan penamaan paket hanya untuk memudahkan masyarakat mengindentifikasi sebelum memberikan kepercayaan dan mandatnya dan identifikasi urutan perolehan mandat dan kepercayaan masyarakat oleh penyelenggara (KPU).
Karena itu kemenangan dan kebahagiaan sesungguhnya adalah kemenangan-kebahagiaan rakyat. Bukan kemenangan partai pengusung, kendidat dan tim pemenangan. Kebersamaan dan sportifitas yang ditempatkan di atas segala-galanya, itulah kemenangan dan kebahagian rakyat. Hal ini sungguh disadari oleh Paslon Prabowo-Gibran. Karena itu dalam Pidatonya, ia menegaskan dan menggarisbawahi akan hal ini. Ia sadar betul bahwa kemenangan sementara berdasarkan Hitung Cepat yang diraih itu adalah kemenangan rakyat dan kebahagiaan yang dialami adalah kebahagian rakyat. Untuk itu dia berulangkali mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia serta menghimbau untuk segera merajut kembali kebersamaan dan kerukunan. “Pemilu sudah selesai. Mari kita menatap ke depan. Membangun kembali kebersamaan, kerukunan dan persatuan untuk bangun bangsa dan Negara. Saya akan merangkul semua, orang-orang hebat untuk bangsa dan Negara”, demikian Prabowo.
Prabowo-Gibran sadar bahwa kebahagiaan pesta demokrasi yang sungguhnya adalah ketika masyarakat mengalami dan merasakan suasana kebersamaan, rukun, damai dan ketika persatuan dan sportifitas di atas segalanya. Dan yang paling penting adalah ketika pemegang mandat dan kedaulatan rakyat bertanggungjawab tidak menodai kepercayaannya dengan sungguh-sungguh menjalankan visi-misi dan janji-janji bersama rakyat. Karena itu tanggungjawab moral atas mandat dan kepercayaan masyarakat Indonesia adalah keniscayaan yang senantiasa ditunggu masyarakat setelah pelantikan.
Kebersamaan, Rahim Kemenangan
Rahim yang mengandung dan melahirkan eksistensi dan aktivitas politik dan demokrasi adalah kebersamaan. Eksistensi dan aktivitas politik bukan turun dari langit. Keberadaan dan aktifitasnya justeru karena ada rasa kebersamaan di antara manusia dan demi kebaikan bersama (bonum commune) atau kepentingan manusia (Aristoteles). Dalam kebersamaan itu, manusia mengaktualisasikan dan mengekspresikan diri dalam berbagai bentuk dan cara untuk mencapai tujuan bersama yaitu masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Salah satu di antaranya adalah aktifitas politik.
Sebagai sebuah pertandingan dengan berbagai macam selebrasi politik, Pemilu (Pilpres dan Pileg) merupakan sebuah aktifitas mengaktualisasikan dan mengekspresikan tujuan politik dan demokrasi dalam suasana kebersamaan dan demi kebersamaan itu. Sebuah aktifitas yang melibatkan manusia dan untuk kepentingan manusia itu sendiri yakni bonum commune. Dalam artian ini, Pemilu bukan sebuah pertandingan para elit politik dan partai untuk sebuah kemenangan apalagi kekuasaan. Tetapi sebuah kontestasi bersama, dalam kebersaman dan untuk kepentingan bersama yaitu masyarakat yang sejahteran, adil dan makmur.
Bagaimana dan apapun selebrasi politiknya, nilai dan kultur kebersamaan yang mengandung dan melahirkan politik harus tetap dan terus dijaga, dirawat dan diprioritaskan di atas segalanya agar tidak terus tercabik-cabik oleh selebrasi selama kampanye atau sesudahnya untuk memperoleh kemenangan dan menggenggam kekuasaan.
Kemenangan dan kekuasaan bukan tujuan akhir sebuah kontestasi politik dan demokrasi tetapi hasil dari sebuah partisipasi dan kebersamaan sebagai makhluk sosial demi kepentingan bersama. Semua kontestan tentu sudah berjuang maksimal. Setiap partai, kandidat dan tim pemenangan tentu memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa untuk menerima hasilnya dan sudah siap untuk menang atau kalah.
Kalah atau menang tidak abadi. Kalah dan menang bisa datang dan kemudian pergi. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, demikian pepata klasik. Kandidat yang menjadikan kekalahan atau kemenangan sebagai tujuan, sesungguhnya ia sedang menjalani hidup yang palsu. Pemilu sejatinya bukanlah soal kalah atau menang. Pemilu bukan perlombaan apalagi pertempuran. Pemilu bahkan hidup ini adalah sebuah pertandingan yang membutuhkan kebesaran hati dan kekuatan jiwa, mengutamakan kebersamaan di atas segalanya untuk sebuah bonum commune.
Kebesaran hati dan kekuatan jiwa selalu membuat kita melampaui kalah atau menang. Ia mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi, tanpa rasa takut karena bagaimana pun juga kita tetap bersama dan masyarakat-lah yang menang walaupun memiliki pilihan yang berbeda. Nilai kebersamaan tak pernah berakhir, melampaui menang atau kalah.
Tak perlu takut saat masyarakat lebih memandatkan hak dan kedaultannya kepada yang bukan pilihan kita. Tapi tak perlu sombong atau “tidak perlu jumawa” demikian Parbowo saat pidato, ketika masyarakat lebih memandatkan suara dan kedaulatannya dan memenangkan kandidat jagoan kita. Kita tidak bisa menang, kecuali jika kita belajar bagaimana untuk menerima kekalahan. Dan kita bisa juga kalah, jika kita tidak belajar memaknai akan arti sebuah kemenangan.
Sportifitas, Nilai Kemenangan
Sportivitas memang pahit karena ia mengharuskan kita untuk lebih menjunjung tinggi aturan perundang-undangan, etika dan moral daripada hasil kemenangan. Muara sportivitas adalah keluhuran nilai daripada hanya sebuah kemenangan atau kekuasaan. Aturan, etika dan moral mengorientasikan manusia pada proses menemukan nilai-nilai: kebenaran, kebaikan, keindahan, kebersamaan, sportifitas dan kepantasan dalam sebuah persaingan atau pertandingan. Dalam persaingan atau pertandingan, etika dan moral menuntut kita untuk mengutamakan martabat dan keadaban dalam seluruh proses meraih kemenangan. Karena itu, orangtua di kampung mengatakan, “Untuk apa menang, sukses, dan kaya raya jika kamu tidak terhormat?”
Filsuf peraih hadiah Nobel, Albert Camus, menyebut sportivitas sebagai nilai yang membangun karakter manusia, tak ada hubungan secara langsung dengan kekalahan dan kemenangan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan. Sportivitas mengutamakan proses, mengajarkan manusia untuk menemukan nilai-nilai ideal berupa, kebersamaan, kejujuran, etika, aturan dan keadilan yang bermuara pada martabat.
Pemilu (Plipres dan Pileg) harus dipahami sebagai bagian dari kultur demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan kolektif dan sportifitas. Kultur demokrasi selalu berbasis pada etika, moral, dan etos sehingga memberikan inspirasi dan pencerahan kepada publik. Inilah demokrasi yang bijak, cerdas dan visioner. Elite politik, alite partai dan para politisi mestinya menjadi agen kebudayaan, bukan sekadar menjadi pemburu mandat dan suara rakyat apalagi kekuasaan yang mengorbankan peradaban, kebersamaan, kejujuran dan sportifitas.
Tujuan Kemenangan
Kemenangan mengandaikan adanya kepercayaan masyarakat atas mandat dan kedaulatannya. Dan kepercayaan yang membuahkan kemenangan menuntut sebuah komitmen yang kuat dari yang dipercayakan. “If you ever find yourself stuck in he middle of the sea, I’ll sail the world to find you. If you ever find yourself lost in the dark and you can’t see, I’ll be the light to guide you”, demikian syair lagu “Count On Me” yang dinyanyikan Bruno Mars.
Kemenangan rakyat menuntut komitmen, pertanggungjawaban dan kesanggupan dari yang dimandatkan menjalankan program-program dan visi-misi yang telah dijanjikan dengan penuh tanggungjawab. Ketika yang dimandatkan mampu melaksanakan komitmen, visi-misi dan janji-janjinya, itu berarti ia telah “mati” terhadap kepentingan partai dan dirinya sendiri dan dengan demikian ia bisa diandalkan atau dipercayai bahkan mungkin masyarakat mengatakan: “Ini baru pemimpin, bukan hanya sekedar pemimpin baru dan baru memimpin”!.
Woodrow Wilson ketika dinyatakan menang dalam Pilpres AS, November 1912 berpidato demikian: “it is not a celebration of victory, it is a celebrating of responsibility”. Masyarakat tidak merayakan dan bereforia dengan kemenangan karena kemenangan itu sebenarnya adalah kemenangan rakyat. Yang masyarakat butuh adalah selebrasi pertanggungjawaban moral atas kemenangan dan eksekusi atas janji-janji serta responsif atas masalah dan kebutuhannya.
Inilah tantangan sekaligus ujian pertanggungjawaban moral dan keadaban atas kemenangan rakyat. Tetapi apabila seorang pemimpin mampu merealisasikannya sebagai konsekuensi keterikatan moral dan keadaban dengan masyarakat yang telah mandatkan kedaulata dan kepercayaannya, maka ia bisa diandalkan dan dapat dipercayai. Dengan demikian, mewujudkan komitmen dan janji apalagi telah diungkapkan ke ruang publik merupakan simbol keadaban sebagai manusia (pemimpin).
Jadi seorang pemimpin yang terpilih sesungguhnya sedang mempertaruhkan kebesaran dan keluhuran martabatnya sebagai manusia yang beradab saat menduduki posisi atau jabatan tertentu. Dia harus dibayar lunas kepada masyarakat (pemilik kemenangan) dengan melaksanakan semua program dan janji dengan konsisten sebagai konsekuensi dari pemenang yang telah memenangkan mandat dan kepercayaan masyarakat.
Pewarta: Yohanis Don Bosco.
Editor: Santoso.







