
Teropongindonesianews.com
Jaman sekarang bullying bukanlah suatu masalah yang perlu ditutupi. Akan tetapi bullying menjadi isu besar yang harus diwaspadai karena dapat menimbulkan dampak negatif yang sangat berbahaya. Lalu seperti apa langkah yang diambil untuk bisa mencegah bullying? Dan apa dampak psikologisnya?
Kali ini Pemerintah Desa Woewutu, kembali menggelar kegiatan penguatan kapasitas forum anak. Kegiatan yang berlangsung selama sehari tepatnya tanggal 29 Oktober 2024, bertempat di balai kantor Desa Woewutu, dihadiri oleh Sekretaris Desa Woewutu, Daeng Dahlan, aparatur desa, narasumber Vinsensius Je,Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Psikolog, Riet Ekaputri Lamuri, S.Psi, Penyiar Radio Suara Nagekeo, Maria Fatima Papu, serta peserta dalam kegiatan tersebut adalah pengurus forum anak dan anggota.
Ketiga narasumber memaparkan materi yang didahului oleh Vinsensius Je. Mengupas tuntas tentang bullying dikalangan pelajar yang semakin marak. Dia mengurai bahwa bullying berasal dari kata Bully yang artinya mengganggu orang lemah.
Bullying bisa berupa tindakan penghinaan sampai tindakan penganiayaan berat dan biasanya banyak terjadi di lingkungan sekolah dalam hal ini yang menjadi pelaku bisa teman, guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Jenis – jenis bullying diantaranya adalah Fisik, Verbal, Psikologis dan Cyberbullying. Untuk fisik biasanya dilakukan dengan memukul, mendorong, meninju, menghancurkan barang, serta mengancam secara fisik.
Sedangkan verbal biasanya dengan menghina, menyindir, memberi julukan, membentak dan mempermalukan, dan yang tak kalah berbahaya adalah cyberbullying dengan mengirim foto yang tidak pantas melalui ponsel.
Bullying dapat dicegah dengan mengajarkan anak untuk memiliki rasa empati, sehinga anak terbiasa dengan penerapan norma sosial yang positif, segera melaporkan ke pihak sekolah atau yang berwenang jika mendapat perlakuan bullying, selalu menanamkan pola pikir yang baik dan gencar melakukan sosialisasi anti bullying.
Bercermin dari kasus bullying yang banyak terjadi, perlu perhatian serius dari pihak sekolah, dan masyarakat agar penyakit yang satu ini dapat diberantas, karena berdampak negatif diantaranya: perasaan gelisah, menarik diri dari pergaulan, menurunnya kepercayaan diri, timbulnya rasa untuk menyakiti diri sendiri dan masih banyak dampak negatif lainnya,
”Hati – hati dalam memilih teman. Jangan sampai terjerumus kedalam hal yang tidak diinginkan. Materi yang diberikan diharapkan dapat menjadi panduan agar selalu menjalani hidup ini dengan sesuatu yang positif serta memahami apa itu bullying.” Tutur Vinsen.
Masih dalam momen yang sama, Psikolog, Eka mengatakan bahwa permasalahan yang dialami anak dan remaja begitu kompleks. Eka, demikian disapa menambahkan bahwa ada 4 tipe kepribadian: Sanguinis (populer), Koleris (kuat), Melankolis (sempurna), dan plegmatis (cinta damai).
Ke empat tipe ini walauapn memiliki kekuatannya masing – masing akan tetapi ada juga kelemahanya. Seperti tipe Sanguinis : membesarkan masalah, egois, susah diam, mudah ikut – ikutan dan susah mendengarkan dengan tuntas.
Koleris memiliki kelemahan terlalu kaku, senang memerintah, amat sulit mengakui kesalahan dan meminta maaf, menyukai hal yang kontroversial serta banyak menuntut.

Lain halnya dengan Melankolis, tipe yang satu ini memiliki kelemahan yakni pendendam, mudah merasa bersalah, tukang kritik serta sulit bersosialisasi dan mengungkapkan perasaan.
Tipe Plegmatis memiliki kelemahan antara lain, kurang antusias, takut dan khawatir, humor kering dan mengejek, lebih senang menjadi penonton dari pada terlibat langsung, menghindari konflik dan tanggung jawab, serta pemalu.
Melalui tayangan materi, Eka menambahkan bahwa setiap anak dapat melihat langsung tipe kepribadian sendiri.
”setiap insan tentunya memiliki tipe yang berbeda – beda. Bisa saja yang dulunya koleris sekarang menjadi melankolis. Sekarang tergantung kita menyikapinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah lingkungan” tambahnya lagi.
Pada sesi tanya jawab terlihat beberapa peserta menyampaikan permasalahan yang mereka hadapai dalam keluarga yang selanjutnya di jawab oleh Eka.
Materi terakhir dalam pertemuan tersebut adalah public speaking yang diulas detail oleh Maria Fatima Papu atau yang akrab disapa Kak Fat.
Kali ini Fat, menyampaikan hal – hal yang perlu disiapkan jika ingin menjadi seorang master of ceremony (MC), harus berani, kalau awalnya gugup itu manusiawi sekali tetapi ketika telah terbiasa untuk tampil maka dengan sendirinya akan hilang juga rasa nervousnya. Lalu bahasa dan pengaturan suara hendaknya diperhatikan. Karena ini juga menjadi patokan untuk bisa tampil percaya diri dalam berbagai momen, entah formal maupun informal. MC harus bisa memandu jalannya sebuah acara. Atau dengan kata lain sukses tidaknya sebuah acara tergantung MC. Sehinga perlu persiapan yang matang sebelum berlangsungnya acara, meninjau dan mengecek kesiapan di lapangan dan lain sebagainya.
”Menjadi MC, bukan perkara gampang adik- adik. Kita benar – benar melatih diri kita supaya bisa berani speak up didepan publik. Pekerjaan yang satu ini juga jika di jalani dengan serius, pendapatannya juga tidak main- main. Adik- adik harus belajar dengan googling atau manfaatkan media sosial untuk mencari referensi atau sumber yang banyak, kita praktek bagaimana menjadi Host atau pembawa acara yang baik di acara formal atau informal.” katanya dengan penuh semangat.
Untuk aksi nyata, 4 orang anggota foratu diminta untuk mempraktekkan bagaimana menjadi MC saat acara pelantikan kepala desa. Walaupun masih canggung, mereka melakukannya dengan sungguh – sungguh.
Fat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh anggota Foratu, sembari mensuport agar terus belajar serta menambah wawasan karena menjadi MC yang handal harus memiliki wawasan yang luas.
Penguatan kapasitas forum anak anak ini diharapkan dapat terus ditingkatkan untuk mengasah bakat, minat dan ketrampilan yang dimiliki anak serta melatih mental dan kepekaan mereka terhadap perkembangan jaman.
Yulando






