
Teropongindonesianews.com
Banyuwangi, Jawa Timur – Musim tanam jagung di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, kembali dibayangi kelangkaan pupuk bersubsidi. Kondisi ini mengakibatkan kesulitan bagi petani yang mayoritas bergantung pada pupuk bersubsidi untuk menunjang produktivitas pertanian mereka. Kelangkaan tersebut terutama terasa parah saat panen raya tiba, mengakibatkan penurunan hasil panen dan mengancam perekonomian petani.
Keterbatasan akses pupuk bersubsidi di lapangan menjadi permasalahan utama. Banyak kios penyalur pupuk yang kerap kehabisan stok atau pupuk telah dipesan habis oleh kelompok tani lain (RDKK), meninggalkan para petani dalam kesulitan. Situasi diperparah dengan praktik penjualan pupuk di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di beberapa kios. Akibatnya, petani harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pupuk, bahkan rela mengambil pupuk di desa tetangga. Contohnya, petani dari Desa Bangsring mengambil pupuk di Desa Alasbuluh, begitu pula sebaliknya, dan petani Desa Bengkak harus pergi hingga ke Wongsorejo.
Camat Wongsorejo, Ahmad Nuril Falah, mengungkapkan keprihatinannya atas permasalahan ini dan mendesak agar distribusi pupuk bersubsidi dipermudah serta lebih terjamin agar kelangkaan serupa tidak terulang. “Situasi ini sangat memprihatinkan dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Kami berharap ada solusi segera agar petani dapat mengakses pupuk bersubsidi secara tepat waktu dan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Ilyas, pemilik kios pupuk di Wongsorejo, menjelaskan bahwa keterbatasan modal menjadi kendala bagi beberapa kios untuk menebus pupuk bersubsidi dari distributor. Ia juga menekankan pentingnya validasi dan ketertiban data petani agar distribusi pupuk lebih efektif dan terhindar dari penyimpangan. Hal ini dibenarkan oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Wongsorejo yang menyatakan bahwa beberapa kios memang mengalami kendala permodalan.
Permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi di Kecamatan Wongsorejo ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Solusi komprehensif diperlukan untuk memastikan petani mendapatkan akses pupuk bersubsidi secara adil, tepat waktu, dan sesuai dengan kebutuhan, sehingga produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani dapat terjamin.
Kurniadi/BWI






