
Teropongindonesianews.com
PEKANBARU —
Fazaaro Laia, warga Jalan Simpang Jengkol Ujung, Kelurahan Sialang Sakti, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, patut diacungi jempol. Kakek berusia 64 tahun dengan 10 orang cucu ini rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membangun jembatan demi kepentingan masyarakat.
Kisah mulia Fazaaro Laia bermula dari keluhan warga sekitar mengenai kondisi jembatan yang tak layak untuk dilewati sepeda motor. Jembatan tua yang menghubungkan Jalan Simpang Jengkol menuju Jalan Tujuh Puluh dan perkantoran Walikota Pekanbaru, awalnya hanya jembatan darurat. Jembatan yang diberi nama Sungai Binjai terletak di RT/RW 003/005, Kelurahan Sialang Sakti.
Sebelum memulai pembangunan, Fazaaro Laia telah berkoordinasi dengan RT/RW, Lurah, dan Camat. Pada bulan Maret, ia memberanikan diri untuk menemui H. Hasan Nusi, SE, selaku Lurah Sialang Sakti saat itu. Atas nama masyarakat, Fazaaro Laia menyampaikan keluhan terkait kondisi jembatan yang rusak parah akibat hujan deras dan usia jembatan yang sudah tua. Sayangnya, ia tidak mendapat respon positif dari H. Hasan Nusi, SE.
Merasa tidak mendapat dukungan dari Lurah, Fazaaro Laia melanjutkan koordinasi kepada Camat Tenayan Raya, Abdul Barri, S.IP, M.IP. Namun, ia kembali kecewa karena tidak mendapat dukungan atau respon positif dari Camat Tenayan Raya.
Kekecewaan atas respon Lurah dan Camat membuat Fazaaro Laia nekat membangun jembatan demi kepentingan orang banyak. Ia tetap berusaha berkoordinasi dengan Lurah Sialang Sakti melalui telepon, namun Lurah enggan menjawab chat dan panggilan teleponnya.
Fazaaro Laia juga mencoba menghubungi Camat Tenayan Raya, namun mendapat respon serupa: Camat enggan membalas chat dan mengangkat teleponnya.
Pada Senin, 14 April 2025, Fazaaro Laia mengungkapkan kekecewaannya kepada media. Ia berkata, “Saya ini orang terlama di sini, bahkan bisa dibilang penetua di sini. Saya membangun jembatan ini menggunakan uang pribadi saya, semua itu demi orang banyak, tidak ada kepentingan pribadi saya seperti janji Politisi.”
Jembatan yang dibangunnya saat ini sudah mencapai 70% dengan panjang 10 meter, lebar 6 meter, dan tinggi tiang penyanggah 3 meter. Fazaaro Laia telah mengeluarkan uang untuk membayar 10 orang pekerja dengan upah Rp 125.000,- (seratus dua puluh lima ribu rupiah) per orang.

Fazaaro Laia pun menyampaikan harapannya kepada Gubernur Riau, Abdul Wahid, dan Wakil Gubernur Riau, SF Hariyanto. Ia berharap pesan ini dapat disampaikan kepada Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, agar ke depannya Pemko Pekanbaru dapat melayani masyarakat dengan baik sesuai janji politiknya, “Siap melayani masyarakat dan mensejahterahkan masyarakat.”
“Kami tidak menginginkan kesejahteraan, namun kami butuh perhatian Walikota Pekanbaru untuk dapat mendengarkan keluhan kami masyarakat kecil ini. Kami juga ingatkan kepada Walikota Pekanbaru, jangan sampai pembangunan jembatan selesai, pemerintah tidak peduli dengan kami. Jangan ke depannya setelah jembatan selesai, Pemko Pekanbaru dan dinas terkait mengklaim jembatan tersebut sebagai aset pemerintah. Kami berharap ada niat tulus Bapak Agung Nugroho dan dinas terkait untuk berkunjung ke lokasi dan melihat kondisi jembatan. Sesekali masyarakat didengarkan pak, jangan hanya suara wakil rakyat DPRD Pekanbaru yang didengarkan,” ujar Fazaaro Laia.
Fazaaro Laia bahkan berjanji akan melakukan semenisasi jalan di sekitar jembatan jika Pemko Pekanbaru tidak memiliki anggaran untuk pembangunan dan pemeliharaan. “Itu janji saya,” tegasnya.
Mendengar keluhan Fazaaro Laia, Messanwansyah Halawa, yang akrab disapa Bung Iwan, Ketua DPD. Orahua Nias Nusantara (ONUR) Kota Pekanbaru dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Gema Andalan Riau (DPP.LSM GARI) Provinsi Riau, hadir di lokasi.
Bung Iwan mengungkapkan rasa salutnya kepada Fazaaro Laia. “Secara pribadi saya sangat salut dengan Bang Fazaaro Laia, meskipun usia sudah tua namun jiwanya masih peka terhadap keluhan orang banyak, wajar jika beliau adalah panutan di sekitar tempat tinggalnya.”
Ia juga mendesak Pemko Pekanbaru untuk lebih serius mendengarkan keluhan masyarakat dan memprioritaskan anggaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Sosok Fazaaro Laia patut kita berikan anugerah sebagai tokoh masyarakat peduli lingkungan, yang rela mengeluarkan uang pribadinya demi kepentingan bersama,” kata Bung Iwan.
Bung Iwan juga menyebut Fazaaro Laia sebagai panutan bagi masyarakat Nias. “Fazaaro Laia ini adalah sosok panutan bagi kami masyarakat Nias, orangnya rendah hati, dan banyak petuah-petuah yang kami dapatkan darinya,” tegas Bung Iwan.
Jon







