
Teropongindonesianews com
Oleh : John Orlando, S.Fil
Kalau saya kadang bicara pakai bahasa Maumere, jangan cepat-cepat menilai saya Maumeresentris. Saya bukan sedang menutup diri dari kebudayaan lain, bukan pula sedang membangun tembok dari dunia luar. Saya hanya sedang pulang, pulang ke rumah, ke bahasa yang pertama kali mengajarkan saya bagaimana caranya menyebut cinta, bagaimana caranya berdoa, dan bagaimana rasanya menjadi manusia yang utuh.
Saya lahir dan dibesarkan di Maumere. Itu bukan sekadar alamat di akta lahir, tapi tanah yang menumbuhkan identitas saya. Dari sinilah saya pertama kali mengenal dunia lewat bahasa yang lembut tapi tegas, yang sederhana tapi dalam maknanya. Saya diperintah Tuhan menjadi orang Maumere, dan karena itu saya mencintai, memelihara, dan mendalami budaya saya dengan sepenuh hati.
Bahasa Maumere bukan hanya kumpulan kata. Ia adalah pusaka tak tertulis, yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita, nyanyian, dan doa. Ia hidup dalam percakapan di pasar, dalam tawa di lopo, dalam tangisan di pemakaman, dalam doa di kapela. Bahasa ini adalah tubuh dari kebudayaan, dan setiap kata di dalamnya memuat roh dari masa lalu.
Saya bangga bicara dengan bahasa saya sendiri, sebab di dalamnya tersimpan rasa yang tak bisa diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa lain. Ada kehangatan yang khas, ada kedekatan emosional yang lahir karena kata-kata itu tumbuh bersama saya sejak kecil. Saat saya berbicara dalam bahasa Maumere, saya merasa diterima, dimengerti, dan tidak asing di dunia yang semakin seragam oleh algoritma dan bahasa global.
Tapi anehnya, di zaman sekarang, kadang orang yang mencintai bahasa daerah dianggap “kolot” atau “tidak nasionalis.” Padahal, bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai Indonesia yang besar, kalau ia malu mengakui bahasa kecil yang menjadi bagian dari Indonesia itu sendiri?
Indonesia bukan hanya satu bahasa. Ia adalah harmoni dari ribuan bahasa daerah yang hidup berdampingan, membentuk jalinan keberagaman yang luar biasa. Bahasa Indonesia memang mempersatukan, tapi bahasa daerahlah yang memberi warna dan jiwa.
Akhir bulan bahasa ini, saya ingin merenung pelan-pelan. Dalam riuhnya slogan-slogan nasional, dalam semangat lomba puisi dan pidato, saya bertanya dalam hati: masihkah kita benar-benar mencintai bahasa daerah kita sendiri? Ataukah kita hanya menggunakannya saat bercanda, saat marah, atau saat pulang kampung setahun sekali?
Saya takut, suatu saat nanti, ketika saya sudah tua, saya akan kesurupan oleh kenangan dan yang keluar dari mulut saya adalah bahasa ibu saya. Tapi orang-orang di sekitar saya tidak lagi mengerti. Mereka mungkin akan memanggil dokter, bukan mendekap saya dengan pengertian. Mereka akan butuh translator untuk memahami jeritan rindu dari bahasa yang dulu pernah hidup di rumah-rumah kami, tapi kini ditinggalkan oleh generasi yang malu menggunakannya.
Itu ketakutan saya yang paling dalam: bukan kehilangan bahasa itu sendiri, tapi kehilangan maknanya dalam kehidupan. Karena bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi ia adalah cermin kebijaksanaan lokal, penanda sejarah, dan wadah nilai-nilai yang membentuk karakter manusia.
Bahasa Maumere, seperti bahasa daerah lainnya, mengandung nilai-nilai sosial yang luhur: kesopanan, rasa hormat, solidaritas, dan spiritualitas. Ia mengajarkan kita bagaimana cara berbicara dengan hati, bukan hanya dengan logika. Ia menuntun kita untuk tidak sekadar mengucap kata, tapi juga menjaga makna.
Ketika kita melupakan bahasa ibu, sesungguhnya kita sedang memutus satu mata rantai identitas kita sendiri. Kita mungkin masih bisa bicara, tapi kehilangan aksen jiwa. Kita mungkin masih bisa menulis, tapi kehilangan rasa. Bahasa nasional dan bahasa global bisa kita pelajari, tapi bahasa ibu adalah bagian dari darah kita ia tidak bisa diganti, hanya bisa dijaga.
Karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk mencintai kembali bahasa daerah, apa pun bahasanya. Ajarkan kepada anak-anak, gunakan dalam percakapan keluarga, nyanyikan dalam lagu, tuliskan dalam puisi, dan ucapkan dengan bangga. Jangan takut terlihat kampungan, karena yang kampungan itu bukan bahasa daerah, melainkan orang yang kehilangan akar budayanya.
Mari kita jadikan bahasa daerah bukan sekadar kenangan masa lalu, tapi napas yang terus hidup di masa depan. Sebab bahasa adalah rumah tempat kita pulang ketika dunia terasa terlalu asing. Dan saya, akan selalu pulang ke rumah itu, ke bahasa Maumere, bahasa yang membuat saya tahu siapa saya sebenarnya.
Tabe.







