
Teropongindonesianews.com
NTT– Jane Natalia Suryanto kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui pengelolaan lahan seluas kurang lebih 12 hektar di Desa Fatubaa, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, ia berhasil mengubah kawasan semak belukar menjadi lahan produktif yang kini dikenal dengan nama “Kebun Jane.”
Berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, semangka, dan sayuran ditanam di lahan tersebut. Sejak mulai berproduksi, Kebun Jane telah melakukan empat kali panen raya, dan seluruh hasil panennya didominasi oleh permintaan dari negara tetangga, Timor Leste.
Dalam wawancaranya, Jane Natalia Suryanto yang akrab disapa Sis Jane mengungkapkan bahwa komoditas tomat menjadi salah satu yang paling diminati.
“Sejauh ini hasil pasaran kita lebih didominasi oleh permintaan Timor Leste. Tomat 100 persen masih diambil oleh mereka,” ujarnya.
Selain tomat, komoditas cabai (cape) juga banyak diminati pasar Timor Leste. Meski sebagian dikirim ke Kupang, volume terbesar tetap menuju perbatasan.
“Cabai kita juga kirim ke Kupang, tapi lebih banyak permintaannya ke Timor Leste. Mereka langsung datang ke Kebun Jane, kita tidak perlu antar,” tambahnya.
Harga dan Jumlah Panen
Sis Jane menjelaskan bahwa harga jual tetap mengikuti harga pasar.
– Cabai jenis Dewata 76 dijual Rp30 ribu per kilogram.
– Tomat dijual per keranjang dengan harga Rp300–320 ribu.
– Semangka hijau dipasarkan Rp10 ribu per kilogram, tergantung berat.
Untuk jumlah panen, Kebun Jane sudah menghasilkan:
– 3,4 ton cabai
– 5 ton tomat
1–2 ton semangka
Menurutnya, sejak panen pertama hingga saat ini, Timor Leste tetap menjadi tujuan utama penjualan.
“Mereka sendiri datang ke Kebun Jane. Bahkan kadang kita dipaksa panen karena mereka butuh,” jelas Sis Jane.
Panen Raya Jadi Inspirasi Petani NTT
Pada Rabu, 10 Desember 2025, sekitar pukul 14.00 WITA, Kebun Jane kembali menggelar panen raya yang dihadiri pengusaha, politisi, pemerintah desa, para pekerja, serta masyarakat setempat. Momen tersebut menjadi bukti nyata kontribusi Sis Jane dalam mendorong pertanian modern di NTT.
“Saya senang karena kali ini kita memanen cabai, tomat, semangka, dan sayur-sayuran. Ke depan kami ingin kebun ini lebih produktif dan memaksimalkan seluruh lahan seluas 12 hektar,” ucapnya.
Wakil Ketua DPW PAN NTT itu menegaskan bahwa proses menjadikan Kebun Jane sebagai lahan produktif memerlukan waktu dan ketekunan.
“Banyak tanaman yang akan ditanam di sini. Kebun ini bukan hanya lahan produktif, tetapi ikon yang bisa mendorong petani di NTT yang punya niat dan kerja keras untuk mencapai keberhasilan,” tuturnya.
Dua kali gagal dalam kontestasi politik tidak mematahkan semangat Sis Jane untuk terus membangun NTT melalui berbagai aspek, termasuk pertanian.
Dengan harapan yang tak pernah padam, ia menegaskan bahwa keberhasilan membutuhkan proses dan kesiapan yang matang.
“Tidak penting dari mana kita berasal. Yang penting adalah bagaimana kita membangun daerah ini agar lebih maju dan sejahtera, meskipun hanya berstatus sebagai petani,” tandasnya.
Susilo Hermanus






