
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil
Tinggal di Bukit Nangahure Maumere
Bertarung tanpa gaduh atau kekerasan sesungguhnya sebuah filosofi yang diterapkan dalam berbagai konteks. Kedisiplinan dan kesabaran menjadikan seorang petarung fokus pada tujuan jangka panjang dan menahan diri dari provokasi yang dapat memicu pertengkaran dan kekerasan. Integritas dan kekuatan moral ditunjukkannya lewat komitmen etis yang tinggi untuk memenangkan hati dan pikiran masyarakat umum lainnya dan bahkan lawannya. Ia lebih memilih membangun gerakan kolektif yang kuat melalui kerja sama dan dukungan bersama masyarakat.
Petarung tanpa gadung selalu memiliki prinsip bahwa hidup bukan tentang siapa paling sering dan giat menyerang dan gaduh di media, melainkan siapa paling bertahan pada jalan kebenaran kendatipun bertubi-tubi diserang. Hanya yang memiliki nyali bertahan pada kebenaran dan tak akan pernah takut pada ketidakadilan dan kejahatan yang dilakukan akan selalu menang dalam setiap perjuangan (Prinsip Satyagraha Mahatma Gandi).
Benar, jika Bambang Pacul mengatakan: “Joko Widodo (Jokowi) itu petarung berkelas yang memiliki nyali bertarung atau berjuang”. Tapi dia petarung tanpa rebut. Petraung tanpa gaduh dan tanpa kekerasan. Petarung itu memiliki nyali, kedisiplinan dan daya tahan walaupun terus diserang. Tiga hal ini kadang kala jarang bersatu dalam sosok seseorang atau seorang politisi. Jokowi memiliki semua ini.
Jika tidak demikian, tidak mungkin ia bubarkan Petral, melawan Uni Eropa, mengambil alih Blok Rokan dan membuat Freeport lebih menguntungkan Indonesia. Hanya petarung bernyali bisa melakukan hal-hal yang tidak biasa dan belum pernah dilakukan oleh presiden sebelumnya.
Jika bukan petarung bernyali, mustahil seorang yang berangkat dari bantaran kali di Solo bisa menjadi pengusaha (menengah) yang sukes, Walikota Solo dua kali, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden dua periode. Sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Presiden dua periode bukan hal mudah diraih, bukan tanpa serangan dan tantangan. Serangan dengan berbagai macam labelisasi dan freming dialami. Tapi Jokowi tetap tenang dan fokus tanpa gaduh.
Jokowi justeru melihat tantangan dan kesulitan sebagai peluang dan kesempatan untuk menemukan jalan lain yang tak terduga. Dalam ketenangan tanpa gaduh, Jokowi justeru menemukan potensi tersembunyi dan panggilan di dalam setiap tantangan dan kesulitan untuk mencapai hal-hal yang luar biasa.
Jokowi sering kali melakukan hal-hal di luar dugaan dan perkiraan. Ia bekerja dan melakukan sesuatu (Keputusan dan kebijakan) dalam diam, tanpa perlu diketahui atau tanpa perlu selalu dipahami atau sulit dimengerti. Bahkan dalam ketidakpahaman itu banyak yang mencela, meragukan dan melabelisasinya. Tapi dia tetap diam, prinsipil dan konsisten, tanpa gaduh.
Apakah kita pernah membayangkan Jokowi mengambil Keputusan penting memindahkan dan membangun Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan yang kini makin mantap? Apakah kita pernah pikirkan Jokowi membuka Trans Papua, Tol lintas Pulau Jawa tuntas dikerjakan, Tol Sumatra dan lain sebagainya. Hanya waktu yang bisa memberi jawaban dan membuktikannya. Dan hari ini jadi kenyataan. Masyarakat Indonesia menikmatinya.
Peluruh hinaan dan fitna habis-habisan terhadapnya. Seolah-olah dia musuh besar yang mesti diserang dan dihabisi. Tapi dia tetap diam tanpa gaduh. Diam bukan tanda Jokowi kalah dan menyerah. Diam dan tenang adalah karakter dan ciri khas petarung. Petarung sejati melawan tanpa gaduh, menyerang tanpa diprediksi dan diketehui. Makin diam dan tenang, makin terang baginya melihat celah dan cara memenangkan lawan. Sebaliknya makin sulit bagi lawan membaca apa sesungguhnya langkah strategi yang akan dilakukan.
Diam tanpa gaduh sesungguhnya adalah serangan itu sendiri – Sebuah strategi memenangkan bahkan mematikan lawan. “Kalau mau menang dalam pertengkaran, jangan bertengkar. Kalau mau menang dalam perkelahian, jangan berkelahi”, demikian pesan klasik. Frasa ini adalah sebuah paradoks yang menyisaratkan bahwa kemenangan sejati dalam konflik terutama politik adalah dengan mengurangi atau menghindari pertengkaran publik itu sendiri. Pertengkaran hanya memperkeruh dan memperburuk keadaan bahkan akan terjadi bias dan jauh dari fakta dan kebenaran serta sulit menemukan solusi.
Mereka yang mengkritik bahkan menyerangnya secara pribadi dan keluarga, justeru diapresiasi, diberi ucapan terima kasih dan pengampunan Jokowi. Ia mampu mengendalikan dan mengelola setiap serangan terhadap diri dan keluarganya menjadi hal yang positif secara politik tanpa gaduh. Diam tanpa gaduh justeru adalah prisai baja yang ditempa Jokowi dan membuat lawan-lawannya jatuh terpental. Pamor politik Jokowi justeru makin berkobar karena dia menghindari konfrontasi langsung yang bisa menimbulkan kegaduhan.
Dengan diam tanpa gaduh, makin banyak serangan – justeru popularitas Jokowi terus terawat. Dengan diam, belas kasih dan legitimasi masyarakat terhadapnya tetap terjaga. Jokowi justeru menikmati keuntungan secara politik dalam diam. Diam adalah emas baginya. Kolam dengan air yang tenang adalah tanda dalam.
Masyarakat yang telah menikmati hasil kerja keras selama kepemimpinannya menjadi rival bagi para pembencinya. Diamnya justeru timbulkan perbincangan bahkan “perkelahian” terjadi di media sosial. Publik di media sosial akan selalu bicara tentangnya bahkan menjadi pembelanya.
Karena itu, menang dalam perpolitikan bukan soal mengalahkan lawan, berkoar-koar di media untuk sebuah pencitraan, tetapi bagaimana mengambil dan menjaga hati masyarakat. Dalam dan dengan diam tanpa gaduh, Jokowi justeru telah merawat dan memenangkan hati masyarakat. Legitimasi politik oleh masyarakat terhadapnya tetap terjaga. Bahkan masyarakat menjadi garda terdepan membelanya ketika banyak serangan yang menjatuhkannya.
Managemen komunikasi politik tanpa kegaduhan yang diterapkan Jokowi menegaskan bahwa sesungguhnya dominiasi politik dapat diraih tidak hanya dengan suara keras dan perkelahian di media sosial, tapi dengan tanpa kegaduhan atau kekerasan. Bukan siapa yang selalu suara keras di media, tapi siapa yang selalu bertahan pada jalan kebenaran dan tak akan takut pada ketidakadilan dan kejahatan yang dilakukan.








