
Teropongindonesianews.com
Palembang – Di tengah kesibukan Pendidikan yang berkembang di SMK Negeri 2 Palembang, sebuah langkah berani menghiasi peta pembelajaran sekolah – peluncuran Program Pendidikan Ketahanan Pangan melalui Muatan Lokal (Mulok) Kemandirian Pangan. Sejak harapannya pertama kali menyentuh tanah sekolah, program ini telah dijalankan dengan semangat membara, mengubah sekitar 20 persen dari total luas lahan menjadi ladang kehidupan yang penuh makna – tepatnya seluas 1000 meter persegi, yang dibagi menjadi dua kawasan penanaman yang terpisah dengan tujuan jelas.

Sebuah hamparan 400 meter persegi diperuntukkan bagi tanaman palawija, yang seperti utusan cepat membawa kabar gembira. Di sana, cabai merah menyala seperti lilin yang menerangi hari, terong berdiri gagah dengan bentuknya yang khas, dan tomat merah memukau yang menggoda untuk dijemput. Sementara itu, 600 meter persegi lainnya diisi oleh tanaman tahunan yang menjadi investasi cinta untuk esok hari – kelengkeng dengan tandan buah manisnya yang akan menggoyang hati saat musim tiba, dan sirsak dengan kulit bergelombang yang menyimpan khasiat luar biasa bagi kesehatan. Setelah sepenuh hati merawatnya selama empat bulan, hasil pertama pun membuahkan manisnya: panen tanaman palawija telah berhasil diraih dengan penuh kegembiraan oleh para siswa.

Dalam sebuah bincang santai yang hangat beberapa waktu lalu, Kepala SMK Negeri 2 Palembang, Suparman, mengungkapkan kedalaman makna yang tersembunyi di balik setiap gerakan menanam dan menyiram tanaman. “Kegiatan praktik muatan lokal ini telah berjalan selama empat bulan terakhir, memanfaatkan lahan kosong yang dulu hanya terdiam di sekitar sekolah,” ujarnya dengan mata yang bersinar penuh semangat.

Bagi Suparman, program ini bukan sekadar tambahan materi pelajaran. “Selain sebagai wadah edukasi bagi siswa, kami berharap gerakan kemandirian pangan ini menjadi upaya nyata untuk memenuhi kebutuhan pangan di keluarga dan lingkungan sekitar – terutama sayuran segar dan buah-buahan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kebutuhan pokok kita sehari-hari,” tambahnya dengan nada penuh harapan.

Pada tahap awal pelaksanaannya, siswa diajak untuk meresapi esensi pertanian dengan menanam tanaman tahunan seperti kelengkeng dan sirsak – belajar kesabaran menanti masa tumbuh yang panjang. Kemudian, mereka melangkah ke dunia tanaman palawija, merawat cabai, terong, dan tomat dengan penuh kasih sayang. Suparman melihat jauh ke depan, menyatakan bahwa semangat ini harus menyebar seperti akar yang menjalar luas: “Bayangkan jika setiap siswa, bahkan setiap keluarga, mau menggeluti kegiatan ketahanan mandiri dengan serius – memanfaatkan sekecil apa pun lahan pekarangan di rumah. Di tahun-tahun mendatang, kita tidak hanya akan cukup untuk diri sendiri, bahkan bisa menghasilkan surplus yang bisa kita bagikan kepada orang lain.”
Sasaran utama dari pembelajaran muatan lokal ini, katanya, adalah menyentuh hati dan pikiran masyarakat: “Kita ingin mengubah pola pikir yang selama ini cenderung konsumtif menjadi produktif, sekaligus menanamkan benih kesadaran sejak dini tentang betapa pentingnya ketahanan pangan bagi kelangsungan hidup bangsa kita yang mulia.”
Di dunia pendidikan, kita mengenal tiga pilar pembentukan karakter dan kompetensi peserta didik:
– Intrakurikuler, yang mengasah kemampuan akademis di dalam ruang kelas yang penuh inspirasi;
– Kokurikuler, yang menjadi jembatan untuk memperdalam pemahaman materi dengan praktik nyata;
– Ekstrakurikuler, yang melengkapi dengan keterampilan berharga di luar rangkaian kurikulum resmi.
Oleh karena itu, Suparman mengungkapkan harapannya yang dalam: “Saya berharap muatan lokal pendidikan ketahanan pangan mandiri ini bisa masuk ke dalam pelajaran inti pada intrakurikuler.”
“Langkah strategis ini bukan hanya tentang bagaimana siswa memahami konsep secara teoritis,” jelasnya dengan nada yang penuh keyakinan. “Ini adalah tentang bagaimana mereka benar-benar menyatu dengan gerakan nyata untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan tangguh di bidang pangan. Dengan menyematkan nilai-nilai ini dalam kurikulum sekolah, kita berharap generasi muda akan tumbuh dengan wawasan yang luas, keterampilan yang mumpuni, dan semangat yang membara untuk menjadi agen perubahan bagi bangsa.”
Sebagai tutup kata yang penuh tekad, Suparman menegaskan komitmen sekolahnya: “Harapan ke depan SMK Negeri 2 Palembang adalah menjadi pelopor yang tidak hanya berbicara tentang perubahan – sesuai dengan visi kita, kami tidak akan berbicara tetapi berbuatberbuat yang terdepan”









