Oplus_131072
Teropongindonesianews.com
SURABAYA – Sebuah peristiwa memilukan dan sangat memprihatinkan terjadi di ruas jalan Sedati, Sidoarjo. Seorang warga Kabupaten Sampang bernama Naiman menjadi korban tindakan brutal berupa pengeroyokan dan pemerasan oleh sekelompok orang tak dikenal, saat dirinya tengah bertugas mengawal ambulans yang akan menjemput jenazah di Bandara Juanda.
Peristiwa yang sarat pelanggaran hukum dan kemanusiaan ini terjadi ketika rombongan dalam perjalanan dari Sampang menuju Surabaya. Di tengah perjalanan, kendaraan yang membawa misi duka tersebut tiba-tiba dicegat secara paksa dan ilegal.
Tanpa memiliki kewenangan hukum yang sah, kelompok pelaku tidak hanya melakukan penghentian kendaraan, tetapi juga melakukan tindakan anarkis. Korban menjadi sasaran kemarahan yang tidak berdasar, menerima perlakuan berupa kekerasan fisik (pengeroyokan) serta cacian dan makian yang sangat tidak senonoh.
Dalam kondisi tertekan dan ketakutan, korban diduga kuat dipaksa menyerahkan sejumlah uang. Para pelaku mengancam akan melakukan kekerasan lebih lanjut jika permintaan uang sebesar Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah) tidak dipenuhi.
Ironisnya, tindakan sadis ini menimpa seseorang yang sedang menjalankan amanat kemanusiaan dan adat istiadat, yakni memulangkan jenazah ke kampung halaman.
Menanggung rasa sakit fisik dan mental, Naiman akhirnya mengambil langkah hukum. Ia telah melaporkan kasus ini secara resmi ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, guna menuntut pertanggungjawaban pidana atas apa yang menimpanya.
Merespons kejadian yang sangat meresahkan ini, tim dari MADAS Sedarah langsung turun tangan memberikan pendampingan hukum dan perlindungan kepada korban.
Organisasi ini menyatakan kecaman paling keras terhadap aksi premanisme yang terjadi. Menurut mereka, tindakan tersebut bukan hanya melanggar hukum, tetapi telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dalam.
“MADAS Sedarah mengecam keras segala bentuk tindakan premanisme yang meresahkan masyarakat, terlebih dalam situasi duka seperti ini. Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga melukai nilai kemanusiaan,” tegas perwakilan MADAS Sedarah dalam keterangannya, Rabu (18/04).
MADAS Sedarah juga mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polda Jawa Timur, untuk tidak tinggal diam. Mereka menuntut agar seluruh pelaku segera diidentifikasi, ditangkap, dan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku agar memberikan efek jera.
“Kami imbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas Jawa Timur dan tidak memberikan ruang sedikitpun bagi praktik premanisme yang merugikan,” tambahnya.
Kasus ini menjadi sorotan publik bahwa tindakan sewenang-wenang masih terjadi di jalanan, bahkan terhadap mereka yang sedang dalam situasi duka, dan menuntut perhatian serius dari pihak berwenang.
Irawan







