Anggaran Pemkot Tangerang Dipertanyakan
Teropong Indonesia News
TANGERANG – Fakta di lapangan berbicara lebih keras daripada segala penjelasan resmi, Di sepanjang ruas jalan yang permukaannya masih layak, rata, dan tidak ada kerusakan berbahaya, alat berat justru didatangkan, Aspal yang masih kokoh dibongkar, dihancurkan, digali seolah-olah jalan itu sudah rusak parah yang tak bisa diselamatkan.

Sementara itu, di sudut-sudut lain kota Tangerang, di jalan-jalan yang memang benar-benar hancur, berlubang dalam, menyulitkan warga berangkat bekerja, anak-anak sulit berjalan ke sekolah di sana tidak ada ekskavator, tidak ada pengerjaan, tidak ada perbaikan. Dibiarkan begitu saja, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ini bukan sekadar ketidaktelitian, Ini pilihan yang sengaja dibuat.

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, ekskavator terlihat aktif membongkar permukaan jalan yang sebenarnya masih mulus. Tidak ada retakan besar, tidak ada amblasan yang membahayakan. Namun alat berat tetap bekerja mengupas lapisannya, menggali tanah di bawahnya, seolah ingin memulai dari nol.
Warga yang kebetulan melintas hanya bisa menggelengkan kepala, “Jalan ini kemarin masih saya pakai lancar, tidak ada masalah, Hari ini sudah digali, Buang-buang uang saja, Padahal di kampung sebelah jalannya sudah seperti sungai kering, tidak pernah disentuh sama sekali.” Ujarnya dengan nada sangat kecewa.
Yang lebih ironis, pengerjaan ini dilakukan berulang-ulang. Jalan yang baru selesai dikerjakan setahun lalu, kini kembali dibongkar, Anggaran ratusan juta rupiah seolah-olah disiram ke tanah tanpa perhitungan yang masuk akal.
Di sisi lain, di wilayah-wilayah pemukiman warga berpenghasilan rendah, kondisinya sungguh memprihatinkan :
– Jalan berlubang besar, tergenang air saat hujan
– Kendaraan roda dua sulit lewat, sering terpeleset
– Anak-anak berjalan kaki ke sekolah harus berputar jauh
– Pedagang kesulitan mengangkut hasil bumi/barang dagangan
– Tetap dibiarkan, tidak ada tanda perbaikan
Pertanyaannya sederhana, mengapa yang sudah baik terus diperbaiki, sementara yang rusak dibiarkan…?
Ada dugaan kuat yang berkembang di kalangan warga, “Apakah ini sekadar ingin terlihat sibuk agar dipuji? Atau memang sengaja memilih jalan yang mudah dikerjakan, hasilnya cepat kelihatan, biar difoto untuk laporan…? Padahal rakyat yang benar-benar butuh tidak diperhatikan.”
Beberapa Narsum mengatakan bahwa Pilihan pengerjaan pada jalan yang masih bagus mengarah pada beberapa dugaan :
1. Tidak didasarkan pada kebutuhan nyata warga, melainkan pada pertimbangan lain yang tidak transparan
2. Anggaran tidak tepat sasaran, uang rakyat dipakai untuk hal yang belum mendesak
3. Pengawasan lemah atau tidak ada, tidak ada pihak yang menahan pengerjaan yang sia-sia
4. Pembagian perhatian yang tidak adil, daerah yang sudah baik terus disiram, yang tertinggal makin tertinggal.
Tim Teropong Indonesia News memandang hal ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk penyalahgunaan prioritas anggaran yang merugikan kepentingan rakyat banyak,
Sementara itu beberapa Aktivis yang juga menyimak kejadian ini meminta pada :
1. Inspektorat Kota Tangerang melakukan pemeriksaan mendalam — mengapa jalan yang masih layak dibongkar, dan siapa yang menentukan prioritasnya…?
2. DPRD Kota Tangerang memanggil pihak terkait untuk menjelaskan di depan publik, dasar apa yang dipakai dalam penyusunan daftar proyek perbaikan jalan…?
3. Pemerintah Kota Tangerang menghentikan pengerjaan yang tidak mendesak, lalu mengalihkan anggaran tersebut ke jalan-jalan yang memang rusak dan menyulitkan warga
4. Seluruh elemen masyarakat mengawasi dan melaporkan jika melihat hal serupa terjadi, anggaran negara adalah milik rakyat, bukan milik kelompok tertentu
“Jangan bangun jalan di tempat yang sudah ada. Bangunlah di tempat yang belum pernah disentuh. Itulah inti keadilan pembangunan.” Ujar salah satu Aktivis yang menyimak hal ini.
Teropong Indonesia News akan terus memantau perkembangan ini, Rakyat berhak tahu ke mana perginya uang mereka. Wa
Liliana Kartika SH – Korwil Banten

