
Teropongindonesianews.com
Oleh: Albetia Freina Sinu
(Mahasiswi UNIKA St. Paulus Ruteng)
OPINI – Kepemimpinan perempuan dalam kesetaraan gender adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang inklusi dan adil, dimana peran dan kontribusi setiap individu dihargai tanpa memandang jenis kelamin.
Kepemimpinan perempuan dalam kesetaraan gender mencakup memberdayakan perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan yamg setara dengan pria, mengatasi disparitas gender, dan memastikan partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusam disemua tingkat.
Kesetaraan gender adalah perinsip yang menegaskan bahwa semua individu tanpa memandang jenis kelamin, memiliki hak yang sama untuk akses dan kesempatan dalam semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, kesehatam, dan partisipasi politik dan sosial. Ini juga dapat mencakup penghapusan diskriminais gender dam juga pembangunan masyarakat.
Peran perempuan yang berkembang di masyarakat baik dari aspek refroduksi, ekonomi,sosial, politik dalam kepemimpinan bahwa selama ini perempuan ditempatkan hanya sebagai anggota dalam hal kegiatan kemasyarakatan atau keorganisasian.
Hal ini dilihat dari perempuan yang aktif diorganisasi kemasyarakatan serta tidak memiliki ciri-ciri pemberani seperti halnya dengan laki-laki. Alasan inilah sehingga program kerja yang diusulkan perempuan tidak begitu banyak untuk diterima dan implementasikan ke dunia politik yang ada.
Semua yang tercatat ini adalah masalah yang sering dihadapi perempuan dalam aspek kehidupan di masyarakat.
Sehingga terkesan bahwa selama ini banyak perempuan yang tidak mau terlibat dengan persoalan partai, dan kemudian kendala lain yang sering terjadi di beberapa partai yaitu terjadinya diskriminasi terhadap perempuan bahkan ketidakadilan yang dialami ole perempuan dalam kegiatan kemasyarakatan.
Perempuan yang memiliki keahlian atau kompetensi memimpin negara, boleh menjadi kepala negara dalam konteks masyarakat modern karena sistem pemerintahan modern tidak sama dengan sistem monarki yang berlaku di masa klasik dimana kepala negara harus mengendalikan semua urusan kenegaraan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan perempuan dalam perannya di masyarakat tidak lain faktor pendidikan sangat besar dan sangat menentukan keaktifan kaum perempuan dalam keterlibatannya sebagai pengurus dalam kegiatan organisasi dan kemasyarakatan.
karena semua tugas-tugas yang diembankan kepada perempuan dapat dilaksanakan berkat adanya pendidikan yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Ini berarti bahwa ada relevansi antara tugas dengan pendidikan.
Kendala yang dialami perempuan dalam kegiatan organisasi kemasyarakatan yaitu melalui beberapa persoalan antara lain pendidikan, pekerjaan, keadilan dan kesetaraan gender, peran domestik, budaya patriarkhi, agama dan hubungan kekeluargaan.
Masalah boleh atau tidaknya perempuan memegang posisi kepemimpinan telah lama diperdebatkan dalam publik.
Wacana kepemimpinan perempuan tinjauan perspektif merupakan sesuatu yang selalu menarik untuk dibahas.
Disebabkan karena kepemimpinan merupakan kesepakatan bersama antara pemimpin dan pengikut yang harus mampu mewujudkan rasa keadilan, mewujudkan rasa aman, dan menjaga keutuhan sebagai pemimpin dalam masyarakat.
Di indonesia tingkat kepemimpinan perempuan telah meningkat dalam beberapa tahun terkahir, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mencapai keseteraan gender sepenuhnya.
Meskpin ada juga beberapa perempuan yang menduduki posisi penting dibidang politk, bisnis, dan masyarakat, proporsi mereka masih relatif rendah dibandingkan dengan pria.
Upaya terus dilakukan untuk memperkuat peran perempuan dalam kepemimpinan dan program yang mendukung pemberdayaan perempuan
Abdurrahman Wahid memberi peluang kepada perempuan memegang posisi kepemimpinan.
Penerimaan laki-laki yang berada di bawah kepemimpinan perempuan sangat penting untuk keberhasilannya. Menurut Abdurrahman Wahid, para akademisi yang menganggap perempuan lebih lemah dari laki-laki adalah keliru.
Berbeda dengan realitas sejarah, perempuan tidak memiliki kapasitas untuk memimpin jika berhadapan dengan laki-
laki.
Beberapa wanita telah memegang posisi kekuasaan sepanjang sejarah, termasuk Ratu Balqis, Cleopatra, Margaret Theatcher, Benazir Bhutto, dan Corie Aquino. Abdurrahman Wahid sangat menerima kualifikasi Megawati Soekarnoputri sebagai presiden.
Kesetaraan Gender saat ini masih menjadi polemik disebabkan karena belenggu budaya Patriarki yang melekat di masyarakat. Sehingga sering kali, perempuan dianggap rendah bahwa tugas perempuan hanya sekadar pekerjaan domestik. Sehingga, jika untuk masuk ke dalam ranah kepemimpinan, perempuan dipandang sebelah mata dan akan membawa dampak yang negatif terhadap masyarakat.
Pemahaman gender sebetulnya sangat sederhana walaupun pemahamannya sering disamakan dengan pengertian jenis kelamin. Langkah pertama yang harus ditegaskan, bahwa masalah gender tidak dapat dipisahkan dengan jenis kelamin.
Keduanya memiliki perbedaan, gender merupakan pembagian antara tugas laki-laki dan perempuan, sedangkan jenis kelamin merupakan konsep biologis yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Kesimpulan- Kepemimpinan perempuan dalam kesetaraan gender adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yamg inklusif dan adil, dimana peran dan kontribusi setiap imdividu dihargai tanpa memandang jenis kelamin.
Dari perspektif kesetaraan gender diyakini bahwa kepemimpinan tidak menempatkan hak dan kewajiban yang ada pada tubuh manusia dalam posisi yang berlawanan.
Hak dan kewajiban tersebut selalu sama di mata manusia dengan dua jenis kelamin yang berbeda. Perempuan menjunjung tinggi konsep keadilan untuk semua, tanpa memandang jenis kelamin.
Perempuan berada di garis depan dalam upaya membebaskan perbudakan tirani, menuntut persamaan hak dan tidak pernah memberikan prestise hanya pada satu jenis kelamin.
Pewarta: Anwar.
Editor: Santoso.







