
Teropongindonesianews.com
Lembor-Manggarai Barat-
Barangkali kota penuh dengan kebisingan dan polusi. Itulah mengapa masyarakat perkotaan banyak mengunjungi desa-desa dan menepi bersama di pantai.
Petualangan mencari ketenangan, healing, dan refreshing adalah perihal mencari ruang bebas dan kebahagiaan untuk melepas penat. Pada sebuah liburan, tentu semua orang punya cara masing-masing memaknai harinya.

Orang Muda Katolik (OMK) santa Familia memilih ke pantai untuk dikunjungi, tidak mungkin ke kebun binatang. Jarak dari rumah hampir sekitar 60 menit.
Pantai di Lembor Selatan, saking luasnya masyarakat dan desa pun agak sedikit bingung, bagaimana cara mengelolanya.
Misalnya saja Pantai Watu Weri di Lembor Selatan. Sebagai warga masyarakat Lembor, saya sendiri bangga dengan pantai-pantai di Lembor Selatan tersebut. Apalagi, di sana soal sampah hampir saja tidak kelihatan. Mungkin hal ini, karena kurangnya kunjungan dari masyarakat. Coba kita bayangkan, Ancol dan kengerian sampah-sampah di sana.
Masih tentang pantai, kami bersama rombongan bertamasya ke Wae Tiong. Tujuan wisata ini adalah bagian dari representasi mencari ketenangan, healing dan refreshing. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, jadi kami memilih waktu yang tepat yaitu hari ini.
Perjumpaan bersama alam, memilih untuk mengisi liburan dengan mengunjungi sebuah pantai. Bahkan pantai yang kami kunjungi adalah pantai yang mungkin jarang dibicarakan oleh khalayak umum. Ibarat kata, cerita masyarakat biasa adalah sumber inspiring itu sendiri. Siapa yang menceritakan tentang pemandangan dan keindahan maka kami mencari tahunya sendiri.
Kami bergegas mengemas niat untuk bepergian ke Pantai Tiwu Roa Wae Tiong, Desa Benteng Dewa.
kami berjumlah 20-an orang. Segera ketika semua terkumpul, kita pun bergegas mengais jejak langkah menuju Wae Tiong. Traveling sebenarnya mengajarkan kita betapa pentingnya menghibur diri.
Kebetulan, kami semua adalah anggota aktif Orang Muda Katolik Paroki Sta. Familia, jadi kami berjalan bersama Pastor Paroki, Rm. Charles dan Pastor Kapelan, Rm. Aldo serta Fr. Kiven. Melewati persimpangan tikungan di beberapa jalan mulai dari Malawatar hingga berhenti di Pelabuhan Nangalili.
Usai cerita singkat itu, kami siap-siap menaiki perahu. Pada dasarnya, kendaraan roda dua bisa dimuat dengan menggunakan perahu. Biaya terbilang cukup murah sekitar Rp. 15.000-30.000-an per orang, sekalian dengan pengendara itu sendiri. Ada yang baru pertama kali merasakan semilir angin di Wae Jamal ketika di atas perahu, cemas itu mulai mengusik senyuman seorang wanita yang tidak mau namanya disebutkan. Lantas, semua terbayar ketika sudah sampai di seberang.
Joneng itulah namanya. Dari Joneng hingga Wae Tiong, Pantai Tiwu Roa sekitar 15 menit. Dalam perjalanan bebatuan menjadi teman kami bercerita. Bebatuan yang ada pada tubuh jalan itu diperkirakan di bangun sekitar tahun 2000-an oleh warga setempat.
Kami tiba di Pantai Tiwu Roa Wae Tiong Desa Benteng Dewa. Di bibir pantai, ombak berdesir berirama. Ia mengabari tentang kehidupan. Kehidupan manusia yang kadang bahagia dan kadang sedih. Dan ombak itu adalah tawaran paling berharga, bahwa hidup semestinya disyukuri.
Adalah suatu dialog kelas bebas kita menemukan pelukan dan sejuknya mata akan sebuah kejutan. Seperti biasa insomnia adalah bawaan saya selaku penulis diary petualang aneh yang sibuk merangkai dan mengemas cerita dalam kehidupan.
Pantai Tiwu Roa letaknya di sebuah desa yaitu Desa Benteng Dewa tepatnya di Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan cerita singkat bersama Bapak Dusun Poco Sesok, “Harapan kami masyarakat di Desa Benteng Dewa tentu perihal tentang listrik, air dan jalan harus diperbaiki oleh pemerintah, apalagi di Desa Benteng Dewa, Wae Tiong ada Pantai yang tergeletak bebas memanjakan pesona mata hati”, ujar Isidorus selaku Dusun.
Bapak Isidorus sendiri diperkirakan sekitar berusia 50-an tahun, ia begitu semangat menyambut kami semua selaku wisatawan lokal. Ia juga menceritakan tentang berbagai harapan dan angan-angan pada jendela masa depan khususnya desa yang ia tempati.
Salah satunya adalah kepedulian dan kepekaan pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur jalan, dan penerangan. Untuk jembatan sendiri, apabila di sana ada jembatan maka perputaran ekonomi untuk para angkutan sungai akan mengalami defisit, sehingga mungkin sebaiknya perbaikan jalan, listrik mulai dari Joneng hingga ke desa lainnya adalah alternative terbaik.
Di pertengahan jalan dari Joneng hingga Pantai Tiwu Roa, kami juga temui jembatan yang hampir runtuh. Hal tersebut bila tidak segera diperbaiki mungkin beberapa tahun ke depan ia akan hilang. Dan lebih parahnya lagi, mungkin akan menyulitkan masyarakat desa untuk berpergian ke kota.
Menurut Pak Dusun, “Angan-angan mereka cuman tiga, jalan diperbaiki,serta pengadaan listrik, dan air. Sedangkan masa depan generasi anak-anak itu tanggung jawab kami masyarakat Desa Benteng Dewa.”
Masa muda adalah masa paling indah menciptakan pengalaman yang tak lekang terlupakan pada saat usia menjemput uban. Berlibur ke pantai merupakan aktivitas yang paling disukai banyak orang. Usai menikmati indahnya Pantai dan jalan bebatuan kami pun kembali pulang dengan membawa kenangan dan ceritanya masing-masing.
Eltrid Gibun, Kontributor TIN







