
Teropongindonesianews.com
Oleh: Ardianus Anwarto
Sekarang, masih januari. Ah…besok kan sudah Februari. Jangan melamun deh… Januarimu akan berakhir.
Pohon sawit nyaris telanjang, pelepah-pelepah yang tak bertuan, kini satu persatu jatuh tergeletak ditanah.
Masih januari yang sama, seperti januari tahun-tahun yang silam. Sinar matahari menjangkau seluruh ruangan, yang dari bayangannya, anak-anak bermain sampai petang.
Lato-lato masih dimainkan di antara jari tengah dan telunjuk. Sinar matahari sempurna menyinari dua bulatan yang beradu, lalu pecah, lalu disimpan di dalam kotak kardus yang rusak.
Tapi orang selalu percaya bahwa januari mereka adalah januari yang basah. Di mana kapan saja hujan akan tercurah.
Nyaris semua selalu percaya itu.
Kelak, mungkin juga tidak berubah.
Untuk waktu yang lama, mereka mengira beberapa hal tidak berubah. Bahwa bertambahnya usia tidak akan mengubah segalanya. Kecuali mereka akan semakin kaya, semakin bahagia dengan banyak harapan baru, di bulan baru ini.
Tapi itu tidak benar.
Karena pada januari ini, masih ada pengabaran; pria yang diputuskan mati tahun lalu belum mendapatkan keadilan, karena dalil tentang pelecehan tak kunjung redup. Pembantahan akan tudingan pembunuhan berencana terus digaungkan oleh mereka yang katanya membela keadilan tapi belum menunjukkan kebijaksanaannya dalam berargumen. Dan ratusan nyawa melayang di stadion Kanjuruhan gelisah menunggu pembelaan. Beritanya pun kini kabur tak tahu kemana dan mengapa. Sebab, mereka tengah mabuk dalam drama pelecehan yang belum juga ada ujungnya. Ah…itu urusan yang berkuasa, aku hanya insan yang tak punya status dan bintang, buat apalah aku berkicau tentang itu.
Januari menjadi mati rasa dan bosan. Ia merasa itu bukan dirinya, cemas tanpa alasan yang jelas.
Bukankah semua itu lelucon? Ada gelak tawa tersangkut di pelepah-pelepah sawit yang telanjang. Namun, ketelanjangannya hilang entah kemana, sebab, anak-anak masih ditemani lato-lato yang tak hentinya berkicau kencang. Iramanya seakan layu dengan kehadiran bocah yang diberi gelar “sadboy” yang kini membuming dijagat dunia maya mengalahkan kehadiran boca ingusan yang mengharumkan nama bangsa karena beradu akal untuk menunjukkan bahwa pendidikan ditimur jauh berprestasi daripada gelar yang mendongkrak nama dan status.
Lalu, apakah dia dikenang dan menjadi viral? Mungkin saja awalnya biasa saja, sebab, ia mengalahkan tujuh ribu peserta lainnya namun tak mampu mengalahkan ketenaran gelar sadboy yang dilekatkan pada bocah yang lebih viral darinya.
Ah….dunia ini serasa tak adil. Namun apadaya. Inilah faktanya, inilah negeriku, negeriku seribu bakat dan talenta yang belum dikenal selurihnya oleh dunia…
Januari…akankah engkau berakhir begitu saja tanpa ada kepastian? Januariku akan berakhir….
Penulis:Ardianus Anwarto. Editor:Santoso.







