
Dionisius Ngeta, S.Fil
Warga Masyarakat RT/RW 018/005, Kel. Wuring
Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka
Teropongindonesianews.com
Bagian Kedua…..
1. Momentum Memperkuat Kebersamaan
Kebersamaan adalah rahim yang mengandung dan melahirkan eksistensi dan aktivitas politik dan demokrasi termasuk safari politik. Eksistensi dan aktivitas politik tidak lain untuk kebaikan bersama (bonum commune). Politik lahir dari sejarah dan keseharian hidup manusia.
Karena itu safari politik dalam kontestasi politik merupakan aktivitas manusia, terjadi dalam kehidupan bersama dengan manusia dan memiliki tujuan untuk kepentingan manusia, demikian Aristoteles. Dalam kebersamaan itu, manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk sosial dan makluk polis (zoon politikon). Kodratnya sebagai makhluk sosial dan makhluk polis diungkapkan dalam kebersamaan (communio) dan dalam kebersamaan itu pula tujuan politik atau safari politik bisa tercapai.
Sebagai sebuah petualang politik dengan berbagai macam selebrasi politik, safari politik bahkan partai politik merupakan salah satu aktivitas kebersamaan. Sebuah aktivitas yang melibatkan manusia, dengan tujuan untuk kepentingan manusia yakni kebaikan bersama, kebaikan masyarakat. Bukan sekadar popularitas, elektabilitas dan atau kemenangan. Dalam konteks ini, Safari Politik bukan sebuah pertandingan para elit politik dan partai untuk sebuah popularitas dan elektabilitas ataupun kemenangan.
Safari Politik adalah sebuah kontestasi dan petualang bersama masyarakat untuk sebuah kepentingan bersama. Bagaimana dan apapun selebrasi dan safari politiknya, nilai dan kultur kebersamaan harus tetap dijaga agar tidak tercabik-cabik oleh nafsu untuk memperoleh popularitas, elekatabilitas bahkan kemenangan dan kekuasaan. Apalagi hanya sekedar pencintraan belaka.
Popularitas, elektabilitas bahkan kemenangan bukan satu-satunya tujuan dari sebuah partai politik, kontestasi politik atau safari politik. Tetapi hasil dari sebuah perjuangan dalam kebersaman sebagai makhluk sosial dan makhluk polis demi kepentingan bersama. Semua politisi, calon pemimpin, partai politik tentu berjuang maksimal agar mampu memenangkan mayoritas kepercayaan masyarakat. Apapun hasilnya, harus memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa untuk menerima dan siap menang atau kalah demi sebuah kebersamaan sebagai anak-anak bangsa yang beraneka ragam.
Kalah dan menang tidak abadi. Kalah menang bisa datang dan kemudian pergi. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, demikian pepata klasik. Partai apapun, siapapun atau kandidat mana pun yang menjadikan kalah atau menang sebagai tujuan maka ia sedang menjalani hidup yang palsu.
Sejatinya, kontestasi politik bahkan hidup ini bukanlah soal kalah atau menang. Safari politik untuk sebuah hajatan dan kontestasi politik bukan perlombaan, apalagi pertempuran. Safari politik bahkan hidup ini adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan kebesaran hati dan kekuatan jiwa demi bonum commune. Hati dan jiwa yang membuat kita melampaui kalah atau menang dan mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi dan tanpa rasa takut kalah. Bagaimana pun juga kita tetap bersama baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk polis. Tak perlu takut saat kalah tapi tak perlu sombong saat memenangkan mayoritas kepercayaan masyarakat. Kita tidak bisa menang dalam safari politik untuk sebuah kontestasi politik, kecuali jika kita belajar bagaimana menerima kekalahan dalam sebuah perjuangan.
2. Meningkatkan sportivitas
Sportivitas memang pahit karena ia mengharuskan kita untuk lebih menjunjung etika, moral dan keadaban daripada hasil kemenangan. Muara sportivitas adalah keluhuran nilai. Etika, moral dan keadaban mengorientasikan manusia pada proses menemukan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kepantasan. Dalam persaingan, etika dan moral menuntut kita untuk mengutamakan martabat dalam meraih kemenangan.
Filsuf peraih hadiah Nobel, Albert Camus, menyebut sportivitas sebagai nilai yang membangun karakter manusia, tak ada hubungan secara langsung dengan kekalahan dan kemenangan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan. Sportivitas mengutamakan proses, mengajarkan manusia untuk menemukan nilai-nilai ideal berupa kejujuran dan keadilan yang bermuara pada martabat.
Kampanye hitam dalam safari dan kontestasi politik kadang kala sangat menggoda. Bahkan dipandang sebagai mantra mematikan lawan. Nilai-nilai etik-moral dan keadaban pun kadang dilabrak. Orang menempuh berbagai cara, termasuk kampanye hitam yang sarat dengan isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).
Karena itu safari politik dalam rangka kompetisi dan kontestasi politik perlu dikembalikan pada kultur sportivitas, bukan kultur gladiator yang penuh kekerasan. Saling menghormati lawan menjadi keniscayaan dalam membangun politik dan demokrasi yang bermartabat dan berkadaban. Basis persaingan harus dikembalikan pada visi, misi, dan program, bukan kebohongan, ujaran kebencian dan permusuhan.
Safari Politik dalam kontestasi dan hajatan politik dan demokrasi harus dipahami dan dijadikan kultur demokrasi untuk mewujudkan sportivitas dan kesejahteraan bersama. Kultur demokrasi selalu berbasis pada etika, moral, dan etos sehingga memberikan inspirasi dan pencerahan kepada publik. Inilah demokrasi yang bijak, cerdas dan visioner yang mesti selalu dibangun dalam setiap kontestasi dan safari politik. Elite dan partai politik, politisi dan kandidat pemimpin mestinya menjadi agen kebudayaan, bukan sekadar pemburu popularitas dan elektabilitas dan atau kemenangan dan kekuasaan yang mengorbankan moralitas, peradaban dan kebersamaan. Orangtua kita dulu mengatakan, “Untuk apa menang, sukses, dan kaya raya jika kamu tidak terhormat?”
Semoga Safari Politik tidak sekedar petualang untuk sebuah popularitas dan elektabilitas atau kemenangan. Apalagi momentum pencitraan, pembohongan dan sikut-sikutan. Safari politik digunakan semaksimal mungkin sebagai ajang adu visi dan strategi para politisi, partai politik dan kandidat pemimpin menghadapi pemasalahan dan tantangan kebangsaan, mempererat dan meningkatkan kebersamaan dan soliditas, memperkuat sportivitas dan menegakan nilai-nilai ideal seperti kejujuran dan keadilan, etika dan moral dalam setiap kontestasi politik dan demokrasi.
Jika hal-hal ini bisa dilakukan, saya kira akan menjadi sebuah “Branding Politik” yang mampu memberikan kepastian kepada masyarakat untuk menentukan pilihan. Karena masyarakat tidak hanya mendapat citra dan pengetahuan tentang kandidat dan partai politik (knowledge), membandingkannya (preference), lalu mulai merasa tertarik (liking) dan setia (loyality). Tapi mereka (masyarakat) mendapatkan persepektif, visi dan misi serta strategi (program dan kegiatan) yang tidak “coppy paste” (pembeda) dalam menghadapi tantangan dan permasalahan masyarakat, bangsa dan negara ke depan.
.








