
Teropongindonesianews.com
RUTENG – Debat Pilkada Manggarai yang diselenggarakan oleh KPUD Manggarai pada Selasa, 30 Oktober 2024 di gedung MCC Ruteng, diikuti oleh tiga pasangan calon: Maksi-Ronal (calon nomor urut 1), Hery-Faby (calon nomor urut 2), dan Yohan Thomas (calon nomor urut 3).
Saat memasuki sesi tanya jawab, calon nomor urut 2, Herybertus G.L. Nabit, yang berpasangan dengan Fabianus Abu sebagai calon wakilnya, mengajukan pertanyaan kepada calon nomor urut 1, Maksimus Ngkeros, yang berpasangan dengan Ronal Susilo. Pertanyaan tersebut sekaligus menyinggung polemik terkait geotermal di Poco Leok yang sedang terjadi.
Herybertus Nabit, yang tidak didampingi wakilnya karena sakit, mengajukan pertanyaan dan ingin mendiskusikan kebutuhan listrik di Manggarai , khususnya polemik masyarakat di Poco Leok terkait proyek geotermal.
Pertanyaan Hery bertujuan untuk mengetahui posisi dan tanggapan calon nomor urut 1 terkait masalah di Poco Leok.
“Kita mengetahui bahwa 100% desa di Manggarai sudah teraliri listrik. Namun, masih ada kampung dan dusun yang belum teraliri listrik , Salah satu akar persoalannya adalah kurangnya sumber daya listrik, di mana PLN masih menggunakan tenaga diesel,” jelas Hery.
Ia menambahkan, “Untuk menjadi tenaga alternatif, geotermal merupakan salah satu proyek strategis nasional dalam perluasan PT Ulumbu atau geotermal di Poco Leok, yang akhir-akhir ini menimbulkan polemik di tengah masyarakat , Terhadap polemik ini, bagaimana pandangan calon nomor urut 1 untuk menanggapi, karena geotermal menjadi salah satu sumber energi listrik,” tanya Nabit.
“Itu menjadi pertanyaannya kami. Silakan kita diskusikan,” tambah Nabit.
Menanggapi pertanyaan calon nomor urut 2, Herybertus Nabit, Maksimus Ngkeros mengucapkan terima kasih atas pertanyaannya ,Ia juga mengajak untuk mendiskusikan secara bersama terkait kebijakan nasional yang berkaitan dengan transisi energi, yang menghendaki lebih banyak pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
Bagi Maksi-Ronal, setiap perencanaan pembangunan harus melibatkan masyarakat yang menjadi sasaran dari proyek tersebut untuk menghindari konflik.
“Karena itu, sebuah proyek harus dilengkapi dengan strategi komunikasi. Jika strategi komunikasi sudah dibuat, maka penolakan atau konflik pasti tidak akan terjadi,” jelas Maksi.
Lanjut Maksi, “Ini kan hanya persoalan konflik saja! Yang menjadi pertanyaan kita adalah, apa memang harus di Poco Leok? Apakah Flores ini geotermal hanya ada di Poco Leok? Saya rasa tidak! Yang paling penting adalah strategi komunikasi sehingga tidak ada yang dikorbankan dari proses perencanaan pembangunan. Betul, kita butuh listrik dan itu betul,” tegas Maksi.
Untuk bisa menghadirkan listrik, kita harus melibatkan seluruh masyarakat terkait dalam proses perencanaannya.
Susilo Hermanus






