
Oleh: Ardianus Anwarto
Pendahuluan
Opini – Hari Guru adalah momen yang dirayakan di banyak negara untuk menghargai jasa dan pengabdian para pendidik. Di Indonesia, Hari Guru diperingati setiap tanggal 25 November. Pada hari tersebut, berbagai kegiatan digelar untuk memberikan penghormatan kepada guru, termasuk upacara, pertunjukan seni, hingga pemberian penghargaan. Salah satu tradisi yang mulai menjadi kebiasaan adalah murid memberikan kado kepada guru sebagai bentuk rasa terima kasih.Meski terlihat sebagai wujud apresiasi yang positif, kebiasaan ini menyimpan potensi dampak negatif, baik bagi murid, guru, maupun lingkungan pendidikan secara keseluruhan.
Opini ini akan membahas kebiasaan tersebut, menyoroti dampak negatifnya, dan memberikan rekomendasi untuk menanamkan nilai penghargaan yang lebih esensial terhadap guru.
Kebiasaan Memberikan Kado di Hari Guru
Kebiasaan memberikan kado telah menjadi bagian dari tradisi Hari Guru di beberapa tempat. Murid-murid atau orang tua mereka biasanya memberikan hadiah berupa bunga, makanan, atau barang tertentu. Beberapa di antaranya dilakukan secara sederhana, sementara yang lain bersifat lebih mewah.Secara sekilas, tradisi ini tampak menyenangkan dan mempererat hubungan antara murid dan guru. Hadiah dianggap sebagai tanda penghargaan atas usaha guru dalam mendidik dan membimbing. Namun, kebiasaan ini juga dapat menciptakan norma yang justru mereduksi makna penghormatan sejati
Dampak Negatif dari Kebiasaan Memberikan Kado
1. Menciptakan Ketidakadilan SosialTidak semua murid memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk memberikan kado. Dalam lingkungan yang kompetitif, murid atau orang tua dengan kondisi finansial lebih baik cenderung memberikan hadiah yang lebih mahal, sehingga menimbulkan rasa rendah diri bagi mereka yang tidak mampu. Hal ini dapat menciptakan jurang sosial antara murid-murid di dalam kelas.
2. Menyuburkan KonsumerismeKebiasaan memberikan kado dapat berubah menjadi perlombaan materi. Alih-alih berfokus pada nilai dan makna Hari Guru, murid dan orang tua lebih sibuk memikirkan hadiah apa yang layak diberikan. Budaya ini dapat menggeser esensi apresiasi dari nilai moral menjadi sesuatu yang berbasis materi.
3. Memunculkan Potensi Konflik EtikaGuru sebagai pendidik profesional harus menjaga objektivitas dan integritasnya. Ketika menerima kado dari murid, apalagi dalam jumlah yang signifikan, ada risiko munculnya persepsi negatif tentang keberpihakan guru kepada murid tertentu. Hal ini dapat merusak hubungan guru dengan murid atau dengan orang tua murid lainnya.
4. Mengurangi Makna Apresiasi SejatiMenghargai guru seharusnya lebih banyak dilakukan melalui sikap hormat, kerja keras, dan keberhasilan dalam pembelajaran. Ketika penghargaan hanya diwujudkan dalam bentuk kado, nilai-nilai penting seperti rasa hormat, ucapan terima kasih, atau pengakuan tulus terhadap jasa guru bisa terabaikan
Rekomendasi untuk Menghargai Guru Tanpa Kado
Untuk menjaga makna Hari Guru tetap esensial, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Meningkatkan Kesadaran tentang Nilai PenghormatanMurid dan orang tua perlu dididik untuk memahami bahwa menghormati guru tidak harus diwujudkan dalam bentuk materi. Sikap hormat, ketekunan dalam belajar, dan hasil yang baik adalah bentuk penghargaan yang lebih bernilai.
2.Mengganti Kado dengan Kegiatan Bermakna , Sekolah dapat menginisiasi kegiatan seperti kartu ucapan bersama, pertunjukan seni, atau puisi untuk guru. Aktivitas ini tidak hanya lebih hemat biaya, tetapi juga menanamkan rasa kebersamaan di antara murid.
3.Mempraktikkan Apresiasi Sehari-hariPenghargaan kepada guru tidak seharusnya hanya dilakukan pada Hari Guru. Murid perlu diajarkan untuk menunjukkan rasa hormat setiap hari melalui perilaku baik, partisipasi aktif dalam pembelajaran, dan komunikasi yang positif.
4. Menetapkan Kebijakan di SekolahSekolah dapat membuat kebijakan yang melarang atau membatasi pemberian kado untuk guru. Sebagai gantinya, sekolah dapat mengarahkan murid untuk menunjukkan rasa terima kasih melalui cara non-materi seperti ucapan terima kasih atau kerja sama dalam kegiatan sekolah.
Kesimpulan
Hari Guru adalah momentum penting untuk mengenang jasa para pendidik. Namun, kebiasaan memberikan kado sebagai bentuk apresiasi perlu dikaji ulang agar tidak berujung pada efek negatif.
Penghormatan sejati kepada guru lebih bermakna ketika diwujudkan melalui sikap, nilai, dan tindakan yang mencerminkan rasa syukur atas bimbingan mereka. Dengan langkah-langkah yang tepat, Hari Guru dapat menjadi ajang untuk memperkuat nilai-nilai positif tanpa terjebak dalam budaya konsumerisme atau ketidakadilan sosial.
Momen ini bukan hanya tentang hadiah, melainkan tentang pengakuan mendalam terhadap peran guru sebagai pilar pendidikan dan pembentuk karakter generasi masa depan.
Staff pengajar pada Eka Tjipta Foundation, SDS Eka Tjipta Kenanga, Ketapang-Kalimantan Barat.






