
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta
Sesaat ayahanda jalani Perforasi Lambung (operasi lambung yang robek) dan memasuki masa perawatan dan pemulihan belum lama ini, saya menyempatkan diri berziarah dalam kepasrahan dan doa di kuburan orang tua dari buyutnya bapak saya yakni Aha Tawa.
Berlokasi strategis di tengah kampung tua: Mbamo, Desa Wokowoe Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Dalam keheningan malam, Kuburan Aha Tawa itu seakan-akan menarasikan makna terdalam yang saya coba garap dalam artian Filosofis-Teologis.

Kuburan tidak sekadar tempat fisik seseorang dimakamkan di sana. Dia adalah olah tanda yang mengingkatkan tentang siklus kehidupan, kematian, memori dan hubungan transenden manusia dengan alam semesta bahkan dengan Penciptanya.
Kuburan tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir. Tetapi juga menjadi cerminan nilai-nilai budaya, spiritual dan etika masyarakat setempat. Nenunjukan rasa dan sikap hormat dan bakti kepada mereka yang sudah meninggal, tempat ziarah dan doa bagi keluarga yang ditinggalkan adalah nilai-nilai yang diwariskan dan dipertahankan dalam tradisi masyarakat.
Kuburan adalah simbol kefanaan dan mortalitas. Dalam ziarah dan doa di kubur Aha Tawa, saya diingatkan akan kefanaan hidup dan mortalitas. Bahwa hidup seorang anak manusia tidak kekal. Ia akan mengalami susah-sulit, sakit-penyakit bahkan kematian, selain sukacita dan kebahagiaan. Karena itu setiap orang dituntun untuk merawat dan menjalani kehidupan dengan lebih baik dan bertanggungjawab.
Sebagai sebuah symbol, kuburan akan selalu mengingatkan bahwa manusia memiliki batasan dan pada akhirnya harus menerima akhir dari kehidupan fisik. Karena itu kuburan dapat dilihat sebagai titk akhir perjalanan hidup di dunia. Tetapi juga merupakan titik awal perjalanan di alam berikutnya. Filsafat kematian mencoba memahami makna dari kefanaan ini.
Untuk itu hemat saya berziarah dan membiarkan diri berada dalam suasana hening dalam doa di kuburan merupakan saat indah untuk berkontemplasi tentang makna kehidupan dan kematian. Dengan merenungkan kematian, seseorang dapat lebih menghargai kehidupan (hidup) dan memprioritaskan hal-hal yang penting, seperti beribadah, berbuat baik, beramal saleh, berbakti pada orangtua apalagi di usia senja/lansia, menjaga kesehatan dan relasi sosial yang baik dengan sesama dan alam lingkungan.
Dalam tradisi pemakaman agama Katolik, pada umumnya kuburan selalu memiliki salib pada puncak candi kuburan/makam dan diberkati dengan air suci. Salib adalah tanda bahwa makam tidak hanya tempat ziarah dan pertemuan antar keluarga yang ditinggalkan. Tapi juga tempat yang disucikan agar jadi media untuk membangun hubungan vertikan dengan Tuhan dalam doa dan ziarah. Dalam banyak kepercayaan dan tradisi, kuburan melambangkan pintu gerbang atau transisi kehidupan dari dunia fana ke alam baka dan dari yang fana kepada yang spiritual.
Salib Kristus yang tertancap pada puncak kuburan mengisyaratkan adanya kebangkitan dan kehidupan setelah kematian. Dan Yesus Kristuslah menjadi jaminannya. Dialah kebangkitan sulung yang akan menarik ke atas Surga bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup yang telah menyiapkan tempat bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Salib yang tertancap pada bumi secara vertikal dari bawah ke atas adalah symbol bahwa semua yang di bawah dan di atas bumi adalah milik-Nya. Dalam Dia dan melalui Dia, semua mendapat keselamatan. Yesus menunjukkan bahwa Dia yang membangkitkan-Nya adalah (Tuhan), Pemilik segalanya dan semuanya bersumber dan kembali kepada-Nya.
Karena itu kuburan merupakan tempat peristirahatan suci yakni tempat suci yang diberkati di mana tubuh orang Kristen disemayamkan sambil menantikan kebangkitan. Tubuh dihormati karena diyakini telah menjadi “bait Roh Kudus”, tempat Tuhan bersemayam selama hidup.








