
Teropong Indonesia News
Bondowoso – Harga sejumlah komoditas sayuran di pasar-pasar tradisional Kabupaten Bondowoso dilaporkan mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Komoditas seperti buncis, mentimun, sawi, pakcoy, dan bawang prei menjadi beberapa jenis sayuran yang harganya terus melemah di tingkat petani maupun pedagang.

Kondisi ini membuat banyak petani mengaku kesulitan menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam. Sementara itu, pedagang pasar juga mengeluhkan menurunnya aktivitas jual beli akibat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan pemantauan harga yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bondowoso, sejumlah komoditas hortikultura memang tercatat mengalami penurunan harga di pasar-pasar pantauan di wilayah Bondowoso.
Menurut sejumlah petani, melimpahnya hasil panen menjadi salah satu penyebab utama anjloknya harga sayuran. Pasokan yang tinggi tidak sebanding dengan permintaan pasar sehingga harga jual terus mengalami tekanan. Fenomena serupa juga terjadi di berbagai sentra sayuran di Indonesia, di mana harga sawi dan pakcoy bahkan sempat jatuh drastis akibat panen yang melimpah.
Di Pasar Induk Bondowoso dan beberapa pasar kecamatan, pedagang mengaku volume transaksi menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Banyak sayuran yang harus dijual dengan keuntungan sangat tipis agar tetap laku di pasaran.
Bahkan tidak sedikit petani yang terpaksa menjual hasil panen di bawah harga yang diharapkan karena khawatir kualitas sayuran menurun apabila terlalu lama disimpan.
“Kami tidak punya pilihan. Sayuran tidak bisa disimpan lama. Kalau tidak segera dijual, kualitasnya turun dan akhirnya rugi lebih besar,” ungkap seorang petani sayur.
Komoditas bawang prei yang selama ini menjadi salah satu andalan petani dataran tinggi juga mengalami tekanan harga. Di beberapa daerah sentra sayur, harga daun prei pernah turun hingga berada di kisaran Rp3.500 per kilogram di tingkat petani
Selain faktor melimpahnya panen, sejumlah pelaku usaha pertanian menilai berkurangnya pembelian dalam jumlah besar turut memengaruhi pasar.
Sebelumnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui SPPG menjadi salah satu penyerap hasil pertanian lokal, termasuk sawi, pakcoy, dan buncis. Program tersebut dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi baru bagi petani dan distributor sayur di Bondowoso
ketika permintaan melemah sementara produksi tetap tinggi, harga berbagai komoditas hortikultura terus mengalami penurunan. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga buruh tani, pengepul, jasa angkut, hingga pedagang pasar yang menggantungkan pendapatannya dari perputaran komoditas sayuran.
Para petani berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga hasil pertanian. Mereka juga berharap adanya perluasan pasar dan peningkatan penyerapan hasil panen lokal agar harga kembali stabil dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
Agus







