Rakyat Tanya, Uang Rakyat untuk Proyek Pameran atau untuk Kemakmuran…?
Teropong Indonesia News
TANGERANG / SEKO – SULAWESI Di tengah deretan proyek yang mengaku demi kemajuan, suara rakyat mulai bergemuruh lantang dan penuh keprihatinan. Dua wajah Indonesia terlihat sangat kontras menyakitkan: di satu sisi aspal mulus diganti ulang tiap tahun tanpa kebutuhan mendesak, di sisi lain jalan berlubang, kesulitan sekolah, dan kesempitan hidup masih memeluk erat saudara kita di pelosok negeri.
Di Tangerang: Aspal Mulus “Dibuang” Tiap Tahun, Rakyat Bertanya Untuk Siapa…?

Warga Kota Tangerang menyampaikan kegelisahan yang makin tak tertahankan. Jalan-jalan yang permukaannya masih sangat layak, masih mulus untuk dilalui, justru dirobohkan dan dipasang kembali — tahun demi tahun. Anggaran mengalir deras, proyek berganti papan nama, namun manfaat nyata bagi warga yang hidup di bawah garis kemiskinan terasa tak pernah menyentuh.

“Jalan bagus kok diganti terus, padahal banyak tetangga kita yang masih susah makan, susah biaya sekolah anak. Uang itu kalau dipakai untuk yang benar-benar butuh, pasti sudah terasa hasilnya,” ucap seorang warga yang tak ingin namanya disebut.
Pertanyaan sederhana namun tajam meluncur ke meja pimpinan daerah: Apakah pembangunan ini untuk rakyat, atau sekadar proyek untuk menampakkan kegiatan? Dana yang dihamburkan tanpa perencanaan yang mendasar dan jelas, ibarat membelanjakan uang dapur untuk hiasan dinding yang tak pernah dimanfaatkan.
Di Seko, Sulawesi, Jalan Rusak Menjadi Duka Sehari-hari, Sekolah dan Ekonomi Tersendat
Sementara di kejauhan, di Daerah Seko, Sulawesi, nasibnya bagai langit dan bumi. Jalan rusak bertahun-tahun tak tersentuh perbaikan. Anak-anak berjalan jauh menembus lumpur dan bebatuan hanya untuk sampai ke kelas. Pedagang hasil bumi kesulitan mengangkut dagangan, harga jatuh, perekonomian warga terhenti.
“Kami tidak minta kemewahan, cukup jalan yang bisa dilewati. Supaya anak sekolah tidak terlambat, supaya hasil kebun bisa sampai ke pasar. Itu saja susahnya?” keluh warga Seko dengan mata berkaca.
Pembangunan Harus Berpijak pada Kebutuhan Rakyat, Bukan Gengsi
Suara rakyat yang bergema ini menyampaikan pesan mendasar kepada seluruh pemangku kekuasaan: Pembangunan yang benar itu tidak memandang kemegahan yang terlihat di permukaan, melainkan menyejahterakan yang masih tertinggal di belakang.
– Hentikan proyek yang tidak mendesak, yang tidak terukur kebutuhannya!
– Arahkan anggaran ke tempat yang benar-benar menderita: perbaikan jalan penghubung kehidupan, akses pendidikan yang mudah, dan penguatan ekonomi warga yang lemah!
– Satu rupiah yang dipakai untuk rakyat yang benar-benar membutuhkan nilainya jauh lebih luhur daripada miliaran rupiah yang dipakai untuk memperindah yang sudah indah!
Program Harus Jelas, Tujuannya Harus Kemakmuran Semua
Negara dan daerah tidak boleh pilih kasih. Tidak boleh ada yang diperindah berlebihan sementara yang lain dibiarkan tertinggal. Keadilan pembangunan berarti: di mana ada kesulitan, di sanalah prioritas diletakkan.
Warga menuntut bukan pembangunan yang megah, melainkan pembangunan yang adil, merata, dan menyentuh kehidupan nyata. Bukan proyek yang terlihat bagus di laporan, melainkan program yang terasa manfaatnya di meja makan setiap keluarga.
“Jangan bangun yang sudah bagus, perbaiki yang masih rusak. Itulah inti keadilan yang sesungguhnya,” demikian pesan rakyat untuk para pemimpin negeri. Kartika

