
Fransiskus vempi ,S.Pd.
Guru Madya
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami waktu dan penanggalan bagi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah melalui pemanfaatan alat peraga modifikasi sederhana.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( Class Action Research) yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti dengan guru.Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus.Masing-masing siklus terdiri dari empat komponen, yaitu : Perencanaan, Tindakan, Pengamatan dan Refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi dan tes. Analisa data dilakukan dalam 3 tahap, yakni: Reduksi, Penyajian data serta Menarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
(a) Pemanfaatan alat peraga modifikasi sederhana Clock Card dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa secara aktif. Peningkatan kompitensi memahami jam, dapat dilihat dari aspek mendengarkan penjelasan pada siklus I sebesar 66% meningkat menjadi 100 % pada siklus II.Mencatat penjelasan siklus I sebesar 62% meningkat menjadi 100% pada siklus II.Memperhatikan pembelajaran siklus I sebesar 55% meningkat menjadi 93% pada siklus II.Partisipasi dalam bertanya siklus I sebesar 38% meningkat menjadi 90% pada siklus II.Partisipasi dalam menjawab pertanyaan siklus I sebesar 36% meningkat menjadi 90% pada Siklus II. Partisipasi dalam mengeluarkan pendapat siklus I sebesar 24% meningkat menjadi 86% pada siklus II. Partisipasi dalam menghargai pendapat teman siklus I sebesar 21% meningkat menjadi 83% pada siklus II. Partisipasi dalam menjelaskan kembali siklus I sebesar 21% meningkat menjadi 79% pada siklus II.
(b) Pemanfaatan alat peraga modifikasi sederhana Time and Date dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 49.38 % meningkat menjadi 90.13 % pada siklus II.
Kata kunci : alat peraga, modifikasi, sederhana, clock card , jam, VII, dan SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 menyebutkan bahwa tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler kokurikuler,.
Kompitensi Sikap Spiritual terkait dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa.Kompitensi ini mengacu pada menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.Peserta didik diajarkan mewujudkan serta menguatkan interaksi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Kompitensi Sikap Sosial terfokus pada pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.Kompitensi Sosial ini meliputi menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, toleransi, gotong royong, santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkuan pergaulan dan keberadaannya.
Kompitensi Pengetahuan dapat diartikan sebagi penilaian potensi intelektual yang terdiri dari tahapan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintetis, dan mengevaluasi.Dalam ranah Kompitensi ini, peserta didik diajarkan untuk memahami pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural yang terfokus pada rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
Kompitensi Keterampilan adalah kompitensi yang menitikberatkan pada kemampuan kualifikasi kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkrit sesuai dengan apa yang dipelajari di sekolah berbasis pengetahuan tadi.Cakupan Kompitensi Keterampilan meliputi, mencoba, mengolah, menyaji dan menalar. Dalam ranah konkrit keterampilan ini mencakup aktivitas menggunakan, menguarai, merangkai, memodifikasi dan membuat. Sedang dalam ranah abstrak, keterampilan mencakup aktivitas menulis, membaca, menghitung, menggambar dan mengarang.
Menguatkan Kompitensi-Kompitensi yang diuraikan di atas, ruang lingkup Bahasa Inggris secara khusus dalam Permen 22 tahun 2006 menyatakan bahwa Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Secara khusus juga Bahasa Inggris merupakan alat komunikasi secara lisan dan tulis.Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.Kemampuan berkumunikasi yang dimaksud secara utuh adalah kemampuan memahami dan menghasilkan teks lisan maupun tulis terealisasi pada empat ketrampilan berhasa, antara lain: mendengar, berbicara, membaca dan menulis.Keempat keterampilan ini diaplikasikan untuk menanggapi atau menciptakan wacana kehidupan dalam pembelajaran di sekolah dan juga dalam masyarakat.
Dengan demikian mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut supaya para lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam Bahasa Inggris pada tingkat litersi tertentu.
Tingkat literasi dimaksud adalah performative, functional, informational,dan epistemic. Pada tingkat Performative orang menggunakan simbol-simbol untuk mampu membaca, mendengar, menulis dan berbicara.Sedangkan di tingkat Functional orang dapat menggunakan bahasa sebagai kebutuhan sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Selanjutnya tingkat Informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa. Dan pada tingkat Epistemic, orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa (Pendapat: Wells,1987)
Pembelajaran Bahasa Inggis pada Tingkat Sekolah Menengah Pertama diharapkan perserta didik mampu mencapai tingkat Functional untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis agar memperlancar komunikasi sehari-hari di sekolah dan di masyarakat.
Kondisi pada penjelasan di atas tidak selaras dengan pembelajaran Bahasa Inggris di kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah, khususnya dalam pembelajaran pada tema Time- Clock untuk menyatakan Jam.Kasus-kasus yang ditemukan antara lain :
Sebagian besar siswa belum mampu menulis dan mengucapkan jam dalam bahasa Inggris.
Sebagian besar siswa belum mampu menulis dan mengucapkan jam lewat dan kurag dalam bahasa Inggris
Sebagian besar siswa belum mampu mengurutkan dan mengucapkan urutan Time Schedule di sekolah dalam bahasa Inggris.
Sebagian besar siswa masih terbiasa menulis dan mengucapkan jam versi bahasa ibu.
Sebagian besar kebosanan pada siswa karena pembelajaran terfokus pasa buku pelajaran.
Beberapa siswa pesimis minta izin ke wc hanya untuk menghindari pertanyaan guru dan tugas individu maupun kelompok.
Beberapa siswa berpura-pura menulis menghindari perhatian guru seakan mereka antusias dalam belajar.
Hal-hal di atas menyebabkan tingkat komunikasi dalam kelas rendah karena siswa tidak tertarik dengan model pembelajaran serta tidak mampu merespon bahasa guru saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
Tabel berikut memperlihatkan rendahnya tingkat kemampuan siswa dalam merespon pembelajaran yang menyatakan Penanggalan.
No Jumlah Siswa Kompitensi Respon Keterangan
1 10 siswa Dapat menulis sesuai ranah Bahasa Inggris Tuntas
2 13 siswa Kolaborasi dengan bahasa ibu Tidak Tuntas
3 9 siswa Menulis dengan bahasa ibu Tidak Tuntas
Berdasar uraian di atas, Penulis tertarik melakukan penelitian atas sebab-sebab tidak tercapainya kompitensi siswa dalam pembelajaran pada tema tersebut. Penulis mengambil judul : “Meningkatkan kompitensi siswa memahami jam dengan menggunakan alat peraga modifikasi sederhana Clock Card bagi siswa kelas 7 di SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah tahun 2023.”
. Idenfikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang dihadapi penulis, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah terkait tema pembelajaran tersebut antara lain :
1.Siswa belum mampu mengucapkan dan menuliskan jam dalam bahasa Inggris.
2.Siswa belum mampu mengucapkan dan menulis jam sesuai data dalam bahasa Inggris.
3.Siswa belum mampu mengucapkan dan menuliskan jam kurang dan lewat dalam bahasa Inggris.
4.Siswa belum mampu mengucapkan dan menulis informasi jadwal jam secara secara utuh.
5.Siswa belum mampu melakukan tanya jawab terkait jam.
Pembatasan Masalah
Berdasarkan masalah yang teridentifikasi di atas, maka Peneliti membatasi ruang lingkup penelitian ini pada kompitensi siswa memahami jam dengan memanfaatkan alat peraga modifikasi sedehana Clock Card di kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah.
Perumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah :
Apakah Alat Peraga Modifikasi Sederhana Clock Card dapat meningkatkan kompitensi siswa dalam memahami jam?
Bagaimana Alat Peraga Modifikasi Sederhana Clock Card dapat meningkatkan kompitensi siswa dalam memahami jam?
Sejauhmana Alat Peraga modifikasi Sederhana Clock Card dapat meningkatkan kompitensi siswa dalam memahami jam?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengetahui kompitensi siswa memahami jam dengan memanfaatkan Alat Peraga Modifikasi Sederhana Clock Card di kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah Tahun 2023.
BAB II
KAJIAN TEORI
Deskripsi Teori
Kompitensi
Arti kompetensi secara umum adalah sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang dalam bidang tertentu, baik kemampuan intelektual, fisik, soft skill ataupun hard skill. Sedangkan apabila ditinjau dari segi etimologi arti kompetensi merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris “competency” yang memiliki arti kecakapan atau kemampuan (Echols dan Shadily, 1983:132). . Drs. Budiman Sanusi Mpsi, kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan sikap yang ditampilkan oleh orang-orang yang sukses/berhasil dalam mengerjakan suatu tugas dengan prestasi kerja yang optimal.
E. Mulyasa mengatakan, kompetensi adalah perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai serta sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Alat Peraga
Pengertian Alat Peraga
Cicilia Lilis Sumantini dalam Jurnal Pendidikan Mansel Volume XIII tentang Efektifitas Penggunaan Alat Peraga mengatakan bahwa alat peraga adalah perantara yang dipakai orang untuk menyampaikan pendapatnya. Sejalan dengan itu Sukiman D dalam Jurnalnya mengemukakan bahwa alat peraga adalah media pembelajaran yang dipakai dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar.Media itu bisa berupa orang, alat atau bahan sebagai komponen yang dimuati pesan yang akan disampaikan kepada peserta didik.
Berikut beberapa ahli memberi penjelasan mengenai apakah itu alat peraga serta tujuan penggunaannya.Antara lain:
Nasution (1985) mengatakan : alat peraga pendidikan adalah alat pembantu dalam mengajar agar efektif.
Wijaya & Rusyan (2009), yang dimaksud alat peraga adalah media yang berperan sebagai perangsang mengajar dan dapat menumbuhkan motivasi.
Sujana (2009) – Pengertian alat peraga dalam pendidikan suatu alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga dengan tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien.
Faizal (2010) – Alat peraga adalah instrument audio maupun visual yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan membangkitkan minat siswa dalam mendalami suatu materi pembelajaran.
Dari pendapat dua guru publikasi ilmiah dalam jurnal mereka serta empat pendapat para ahli Indonesia yang bregelut dalam dunia pendidikan maka dapatlah dibuat kemasan tepat tentang apakah itu alat peraga dalam proses belajar mengajar. Alat Peraga adalah bahan yang digunakan sebagai perantara antara Guru dan Siswa berbasis pada tema pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran tersebut, sekaligus menumbuhkan minat siswa dalam konteks belajar terkait materi ajar saat itu serta juga memberi motivasi belajar agar tidak membosankan siswa.
Tujuan Alat Peraga
Dari pendapat para ahli dan dua pengajar di atas, dapatlah digambarkan secara jelas tujuan dari alat peraga.
Proses belajar mengajar lebih efektif karena meningkatkan semangat belajar siswa.
Dapat memberi memungkinkan lebih banyak kepada siswa secara individu maupun kelompok lebih menyenangkan.
Pembelajaran berlangsung lebih cepat, teratur dan sistematis dalam kelas dan dapat berpengaruh di luar kelas.
Pengertian Modifikasi
Dalam penelitian ini penulis menghubungkan sederhana sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rantai judul ini.Di ini pula hadir pendapat para ahli dan penulis jurnal maupun tulisan biasa yang juga dipublikasikan sebagai bahan referensi yang menguatkan suatu kajian teori atas apa yang diteliti dan memiliki relevansinya dalam dunia pendidikan.
Ahmad Komar Ruzam dan Guido Famula dalam catatan mereka tentang Modifikasi Pembelajaran sebagai tuntutan Guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani yang dimuat di Kopasiana (2016) memberi pengertian sederhana sebagai perubahan dalam penyusunan rencana atau perubahan terhadap suatu konsep awal.Misalnya ketika suatu alat yang akan digunakan di sekolah sebagai alat peraga terbatas dalam jumlah dan harganya tidak terjangkau maka tindakan yang ditempuh untuk menyelamatkan tuntutan pembelajaran agar lancar adalah dengan membuat perangkat sejenis yang lebih murah dan mirip seperti aslinya dalam bentuk sederhana. Masih sejalan dengan itu Kompasiana (2016) juga mengemukakan bahwa minimnya dana dan terbatasnya alat yang dibutuhkan maka modifikasi sederhana adalah alternatif dari pembelajaran.Guru memegang kendali kreatif sebagai tenaga pengajar yang dapat melaksanakan pembelajaran dengan alat yang terbatas namun tidak menurunkan nilai-nilai dan tujuan dari pembelajaran yang harus dicapai.
Juragan (2014) dalam Kompasiana mengatakan bahwa Modifikasi adalah cara merubah sebuah barang dari yang kuran menarik menjadi menarik tanpa menghilangkan fungsi aslinya, serta menampilkan bentuk yang lebih bagus dari aslinya.
Mukhtar (2013:81) mengemukakan bahwa Modifikasi mempunyai keunggulan dalam hal menguji kemampuan dan kreativitas seorang peneliti dalam mendesain bentuk-bentuk yang sulit dijangkau, juga membuktikan bahwa ilmu itu sifatnya sangat fleksibel dan bebas nilai.
Pemanfaatan
Jus Badudu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa Pemanfaatan adalah hal, cara, hasil kerja dalam memanfaatkan sesuatu yang berguna.
Definisi Pemanfaatan menurut Dennis Mc Quail dan Sven Windahl, yaitu : harapan yang berarti explore atau penghadapan semata-mata menunjukan suatu kegiatan menerima. Selanjutnya bila pemanfaatan dikaitkan dengan penelitian berarti menggunakan atau memakai suatu hal yang berguna dalam hal ini memakai atau menggunakan suatu alat sebagai media dalam menyampaikan informasi kepada orang lain.
faatan alat peraga Montessori untuk peningkatan mengenal kata Bahasa Inggris.
Pemanfaatan alat peraga picture cards untuk meningkatkan kemampuan menulis teks pendek Narrative.
Penggunaan alat peraga spekturm untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaranwarna-warna.
Upaya meningkatkan kemampuan siswa tentang teks recount dengan menggunakan Clock Card.
BAB III
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini adalah Class Action Research atau Penelitian Tindakan Kelas di mana pencermatan terhadapa proses kegiatan belajar menjadi sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dalam satu kelas secara bersama, peneliti dan para siswa. Dalam sesi pelaksanaannya peneliti dapat melakukan penelitian tindakan kelas secara mandiri pun juga secara kolaborasi yang pada dasarnya tidak menghambat kegiatan belajar mengajar dalam kelas.
Penelitian yang dilakukan dalam kelas ini bersifat kolaboratif dan partisipatif.Secara partisipatif peneliti bersama mitra peneliti melakukan penelitian sesuai langkah-langkah yang sudah ditetapkan. Peneliti juga melakukan kerja kolaboratif bersama Guru Standar Kompitensi Menangani Penggandaan Dokumen yang bertujuan memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam praktek pembelajaran. Guru dalam kegiatan ini bertindak sebagai pelaksana tindakan sedangkan peneliti bertindak sebagai kolaborator.
Melalui penelitian tindakan kelas ini, peneliti mencoba menemukan suatu gagasan yang kemudian diterapkan dalam upaya perbaikan praktek mengajar yang dilakukan.Peneliti melalui ini berupaya menerapkan variasi model pembelajaran yang baru dengan memanfaatkan alat peraga penanggalan yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa ke arah yang lebih baik lagi pada suatu proses pembelajaran.
Dalam penelitian ini indicator yang dicapi dapat terlihat berdasar capain poin-point yang tertera dalam partisipasi belajar siswa. Poin-poin yang dipaki untuk mengukur peningkatan partisipasi antara lain :
1.Mendengar Penjelasan
2.Mancatat Penjelasan
3.Memperhatikan Pembelajaran
4.Bertanya
5.Menjawab Pertanyaan
6.Mengeluarkan Pendapat
7.Menghargai pendapat Teman
8.Mampu Menjelaskan Kembali
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Kondisi Awal dan Perencanaan
Sebeulm penelitian tindakan dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan pengamatan awal, agar dapat mengetahui kondisi awal dan pemanfaatan alat peraga Clock Card untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami penanggalan bagi kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah serta pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian focus penelitia akan tertuju pada pemanfaatan alat peraga Clock Card nantinya.
Berdasar data hasil pengamatan yang peneliti lakukan, bahwa prestasi belajar pada mata pelajaran bahasa Inggris siswa kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah rendah karena masih ada 22 siswa yang belum mencapai Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) yakni berada di bawah nilai 75 dilihat dari hasil ulangan yang diperoleh. Hal ini disebabkan kurangnya alat peraga yang dapat menunjang pembelajaran sesuai tema.Hal ini bila tidak ada tindakan lanjut maka akan berpengaruh pada aktivasi dan prestasi belajar siswa.Pembelajaran optimal akan menurun.
Menyikapi kondisi kelas yang demikian, maka pemanfaatan alat peraga modifikasi sederhana Clock Card dalam pembelajaran Jam dapat mengatasi ketidakaktifan siswa.karena itu perlu rekonstruksi terhadap media pembelajarn yang kurang melibatkan patisipasi aktif siswa.Salah satu media yang menjadi alternative untuk meningkatkan partisipasi aktif belajar siswa dalam proses pembelajaran adalah Clock Card.
Supaya mempermudah pelaksanaan tindakan maka perlu dibuat suatu perencanaan. Perencanaan itu meliputi : membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi yang akan diajarkan, menyiapkan lembar observasi untuk melalkukan pengamatan tehadap partisipasi aktif belajar siswa, membuat soal tes untuk mengukur derajat kompitensi siswa, menyiapkan media pembelajar yang akan digunakan berupa alat peraga.
Melalui perencanaan sebelum melakukan tindakan akan mempermudah dalam menentukan keberhasilan tindakan yang dilaksanakan .Perencanaan dijadikan sebagai panduan pelaksanaan tindakan, sehingga penelitian yang dilakukan tidak jauh melenceng dari tujuan penelitian yang telah direncanakan.
Tabel 2. Hasil Observasi Partisipasi Aktif Siswa pada Siklus I.
Aspek yang diamati Jumlah siswa Partisipasi Aktif
Jumlah Siswa Presentase
Mendengarkan Penjelasan 32 19 59%
Mencatat Penjelasan 32 18 56%
Memperhatikan Pembelajaran 32 16 50%
Bertanya 32 11 34%
Menjawab Pertanyaan 32 11 34%
Mengeluarkan Pendapat 32 11 34%
Menghargai Pendapat Teman 32 11 34%
Mampu Menjelaskan Kembali 32 10 31%
Jumlah 332%
Rata-rata 42%
Dari table di atas dapat diketahui perkembangan siswa melalui partisipasi siswa aktif untuk mendengar penjelasan guru sebanyak 59%, mencatat penjelasan guru 56%, memperhatikan pembelajaran 50%, bertanya 34%, menjawab peretanyaan 34%, mengeluarkan pendapat 34%, menghargai pendapat teman 34%, mampu menjelaskan kemabali 31%.
.Hasil tes
Pada hasil analisa tes ini diperoleh data yang berupa angka-angka mengenai jumlah nilai yang diperoleh masing-masing siswa terhadap soal yang dikerjakan setelah menerapkan pemanfaatan alat peraga modifikasi sederhana Clock Card dalam proses pembelajan bahasa Inggris.
Data yang diperoleh melalui tes dihitung jumlah nilai yang diperoleh masing-masing siswa dengan cara mengakumulasikan masing-masing nilai pada setiap item soal yang dijawab siswa.
Adapaun hasil perhitungannya sebagai berikut:
Tabel 3.Perhitungan Tes pada Siklus I
No Nama Siswa Tes Siklus I
1 Apriia Wabdaron 70
2 Cantika Howay 70
3 Claudya Supusepa 88
4 Dian Worembay 83
5 Ellysa Karisago 71
6 Evelyn Sitorus 87
7 Gabriel Anderson 85
8 Gilbert Uluhuyanan 72
9 Giselle The 73
10 Ibel Tobi 72
11 Jelovevan Napasau 69
12 Jeqlin Ongge 68
13 John Howay 68
14 Juanito Polnaya 79
15 Levina Yangginop 70
16 Markus Marini 72
17 Nataniel Mansawan 73
18 Ningsi Sanam 80
19 Oktovina Maas 77
20 Paramitha Andini 74
21 Paskalino Mlik 71
22 Ricardo Simunapendi 60
23 Ricky Soren 64
24 Ryska Ricardo 66
25 Victoria Markus 67
26 Violin Suu 59
27 Whindey Mambrasar 84
28 Wilyam Simulu 86
29 Yafet Kwabli 60
30 Yoel Kantu 85
31 Yuliana Rumfaker 55
32 Erwin Suklu 50
∑ Nilai 2.308
Rata-rata 72.13
Dalam menghitung nilai rata-rata siswa secara keseluruhan digunakan rumus yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (2009:264) :
X = ∑/N
Berdasarkan rata-rata siswa pada post test I dapat diketahui sebesar 72.13% .Hai ini menunjukkan bahwa belum ada peningkatan hasil belajar setelah menggunakan alat peraga Clock Card. Namun berbasis pada Ketuntasan Belajar Minimal secara klasiskal belum tercapai, begitu pula 22 siswa belum mencapai Ketuntasan Belajar Minimal secara individu. Dengan demikian perlu dilanjutkan dengan siklus berikutnya yaitu siklus II.
Hasil Oservasi Partisipasi Aktif Siswa pada Siklus II
Aspek yang diamati Jumlah siswa Partisipasi Aktif
Jumlah Siswa Presentase
Mendengarkan 32 32 100%
Penjelasan
Mencatat 32 32 100%
Penjelasan
Memperhatikan 32 30 93%
Pembelajaran
Bertanya 32 29 90%
Menjawab 32 29 90%
Pertanyaan
Mengeluarkan 32 27 86%
Pendapat
Menghargai 32
27
83%
Pendapat Teman
Mampu 32 25 79%
Menjelaskan Kembali
Jumlah 721%
Rata-rata 90.13%
Dari table di atas dapat diketahui bahwa siswa yang mendengar penjelasa sebanyak 100%, mencatat penjelasan 100%, memperhatikan pembelajaran 93%, bertanya 90%, menjawab prtanyaan 90%, mengeluarkan pendapat 86%, menghargai pendapat teman 83%, mampu menjelaskan kembali 79%.
Adapun hasil perhitungannya sebagai berikut :
Tabel 5. Hasil Perhitungan Tes Pada Siklus II.
No Nama Siswa Tes Siklus II
1 Apriia Wabdaron
2 Cantika Howay
3 Claudya Supusepa
4 Dian Worembay
5 Ellysa Karisago
6 Evelyn Sitorus
7 Gabriel Anderson
8 Gilbert Uluhuyanan
9 Giselle The
10 Ibel Tobi
11 Jelovevan Napasau
12 Jeqlin Ongge
13 John Howay
14 Juanito Polnaya
15 Levina Yangginop
16 Markus Marini
17 Nataniel Mansawan
18 Ningsi Sanam
19 Oktovina Maas
20 Paramitha Andini
21 Paskalino Mlik
22 Ricardo Simunapendi
23 Ricky Soren
24 Ryska Ricardo
25 Victoria Markus
26 Violin Suu
27 Whindey Mambrasar
28 Wilyam Simulu
29 Yafet Kwabli
30 Yoel Kantu
31 Yuliana Rumfaker
32 Erwin Suklu
∑ Nilai
Rata-rata
Dalam menghitung nilai rata-rata siswa secara keseluruhan digunakan rumus yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Dasa-Dasar Evaluasi Pendidikan (2009:264):
X = ∑/N
Berdasarkan rata-rata hasil belajar yang diperoleh antara tes pada siklus I (72.13) dan siklus II (90.13) , maka dapatlah diketahui bahwa silkus II memiliki rata-rata yang lebih tinggi dari sikus I. Hal ini membuktikan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dan partispasi aktif siswa pada silkus II dengan meteri ajar yang disampaikan. Kriteria keberhasilan sudah tercapai lebih dari 75% . Hal ini menunjukkan adanya pencapaian tingkat keberhasilan sesuai dengan criteria keberhasilan yang telah ditetapkan.
Refleksi
Pada tahap refleksi peneliti bersama guru mengevaluasi hasil dari tes dan observasi .Dari hasil pengamatan dan refleksi di siklus II dapat dikatakan bahwa pemanfaatan alat peraga Date Cards dapat meningkatkan partisipasi aktif dan prestasi belajar siswa. Pada hasil partisipasi aktif, siswa telah berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran dan keaktifan siswa pada proses pembelajaran berlangsung dapat dilihat pada dokumentasi berupa foto-foto yang terlampir dalam lampiran ini, sedangkan pada hasil belajar semua siswa sudah mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu memperoleh nilai ≥ 75 untuk masing-masing siswa pada siklus II meskipun ada satu siswa yang tidak mencapai ≤ 75 akan diberikan remedial khusus. Jadi dari hasil pengamatan dan refleksi di siklus II pemanfaatan alat peraga Date Cards dapat meningkatkan partisipasi aktif dan prestasi belajar siswa . hal ini dikarenakan pemanfaatan alat peraga Date Cards menarik minta siswa dan mempunya motivasi yang tinggi untuk belajar.Keunggulan yang ada perlu dipertahankan untuk mendukung peningkatan dalam penggunaan media pembelajaran selanjutnya.Kelemahan pada penunjang media visual ini akan diperbaiki pada pertemuan selanjutnya. Berdasarkan hasil tes dan hasil observasi dari siklus II yang telah terjadi peningkatan, maka peneliti dan guru sepakat bahwa penelitian ini tidak dilanjutkan ke siklus berikitnya.
Pembahasan
Dalam penelitian ini, pembahasan lebih difokuskan pada pelaksanaan tindakan kelas memanfaatkan alat peraga Date Cards, peningkatan partisipasi aktif pada siswa, dan peningkatan belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Inggris terkait tema yang diajarkan.
I. Pelkasanaan Penelitian Tindakan Kelas Memanfaatkan Alat Peraga Date Cards.
Pemanfaatan alat peraga Date Cards untk meningkatkan partisipasi aktif dan prestasi belajar siswa dilakukan dalam dua siklus dan dilaksanakan dalam empat pertemuan di kelas.Penerapan pemanfaatan alat peraga Date Cards di siklus I dilakukan dalam dua kali pertemuan, tetapi dalam pelaksanaanya belum tercipta peningkatan partisipasi aktif dan prestasi belajar siswa secara maksimal, maka peneliti sepakat untuk melanjutkan penelitian pada siklus selanjutnya yaitu silkus II.Kelanjutan ke siklus II perlu untuk lebih meningkatkan partisipasi aktif dalam belajar dan peningkatan prestasi siswa sekaligus melakukan perbandingan antara derajat keberhasilan yang diperoleh pada kedua siklus tersebut.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran bahasa Inggris dengan memanfaatkan alat peraga Date Cards ini dapat member kemudahan bagi siswa dalam memahami materi yang diberikan guru.Dalam pembelajaran siklus I ada 19 siswa yang kurang dapat memahami materi pelajaran.Pemanfaatan alat peraga Date Cards untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penanggalan di kelas VII SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah belum menunjukkan adanya peningkatan partisipasi aktif dan prestasi belajar siswa. Akan tetapi setelah dilanjutkan dengan siklus II siswa berangsur-angsur dapat memahami materi yang disampaikan serta hamper semua siswa berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran dengan memanfaatkan alat peraga Date Card.Untuk menilai criteria keberhasilan prestasi belajar siswa, peneliti menggunakan Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) yang ditetapkan SMP negeri 1 Aitinyo Tengah. Dalam mengadakan penelitian, peneliti mengukur keberhasilan prestasi siswa menggunakan soal setelah tindakan dilakukan.
2.Pembahasan Partsipasi Aktif Siswa
Hasil penelitian tindakan siklus I dan II dengan pemanfaatan Alat Peraga Date Cards menunjukkan adanya peningkatan terhadap aktivitas belajar siswa. Peningkatan terjadi pada observasi siklus II di mana dalam observasi yang diamati ini adalah partisipasi aktif siswa. Dari hasil observasi diperoleh data aktivitas siswa sebagi berikut:
Tabel 6. Peningkatan Partisipasi Aktif Siklus I dan Siklus II
No Indikator Siklus
I II
1 Mendengarkan 66% 100%
Penjelasan
2 Mencatat 62% 100%
Penjelasan
3 Memperhatikan 55% 93%
Pembelajaran
4
Bertanya 38% 90%
5 Menjawab 36% 90%
Pertanyaan
6 Mengeluarkan 24% 86%
Pendapat
7 Menghargai 21% 83%
Pendapat Teman
8 Mampu 21% 79%
Menjelaskan Kembali
Jumlah 323% 721%
Rata-rata 49.38% 90.13%
Berdasarkan hasil observasi yang dapat dilihat dari table di atas dapat dilihat adanya peningkatan frekuensi dari siklus I samapai ke siklus II. Setiap indicator masing-masing siklus juga mengalami peningkatan.Pada siklus I dan II peningkatan partisipasi siswa yang paling tinggi adalah mendengar penjelasan dan mencatat penjelasan, terjadi peningkatan sebesar 34% untuk mendengar penjelasan dan 38% untuk mencatat penjelasan dan yang renah untuk peningkatan partisipasi aktif siswa siklus II ini adalah mampu menjelaskan kembali dengan peningkatan sebesar 58%..
Mendengarkan Penjelasan
Gambar 3. Diagram Mendengarkan Penjelasan
.Peningkatan belajar siswa dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 7. Hasil Perhitungan Tes pada Siklus I dan Siklus II.
No Nama Siswa Tes Siklus I Tes Siklus II
1 Alexander Y 84 90
2 Altri Drimlol 70 80
3 Beatrix Howay 56 78
4 Charles Sani 82 88
5 Dandy Nureroan 70 79
6 Danial Klasmian 76 81
7 Dodi Mengge 65 76
8 Dorsila Wandosa 81 88
9 Delvin M 82 88
10 Eldy Tutupary 77 83
11 Fernando T 46 75
12 Gabrielda Mantouw 67 79
13 Gelin Kurni 75 80
14 Gres Osok 80 85
15 Hendika Tahoba 55 75
16 Leonard Howay 54 75
17 Lion Marlessy 60 78
18 Mecsen Yewen 61 78
19 Martinus W 49 75
20 Merlin Y 50 75
21 Novela A 57 75
22 Paulina Ajolo 63 78
23 Roland Siwabessy 80 85
24 Rolind Siwabessy 66 77
25 Rony Wakaf 61 76
26 Rendy Wakaf 60 76
27 Valen M 63 74
28 Zefanya Pasalbessy 85 90
29 Lutfina Wenas 35 50
∑ Nilai 1910 2287
Rata-rata 65.86 78.86
Setelah dilakukan penelitian yang dimulai dari tahapan siklus I sampai pada tahapan siklus II dapat dilihat adanya peningkatan partisipasi aktif dan prestasi belajar dengan menggunakan alat peraga Clock Card. Berdasarkan pemaparan prestasi belajar di atas dapat diberikan penjelesan bahwa telah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dari siklus I mencapai rata-rata 65.86 naik menjadi 78.86 pada tahap siklus II. Dari rata-rata tersebut dapat diketahui peningkatan rata-rata 40.75% dari siklus I ke siklus II. Dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan Alat Peraga Clock Card pada mata pelajaran bahasa Inggris dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Peningkatan prestasi belajar dapat dilihat pada diagram berikut ini :
Gambar 11. Diagram Nilai Rata-Rata Kelas
Pada diagram di atas menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata nilai hasil belajar dari siklus I sebesar 49.38% sedangkan pada siklus II menjadi 90.13%.
Kesimpulan
Berdasar hasil analisa data dan pembahasan yang telah peneliti lakukan, aktivitas belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Aitinyo Tengah untuk mata pelajaran bahasa Inggris, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Penerapan pembelajaran dengan menggunakan Alat peraga Modifikasi sederhana Date Cards dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami penanggalan, ini dilihat dari adanya peningkatan partisipasi aktif belajar dan prestasi belajar siswa.
Peningkatannya dapat dilihat dari hasil observasi pada siklus I dan Siklus II.Pada aspek mendengarkan penjelasan pada siklus I sebesar 66% dan siklus II sebesar 100%.Aspek mencatat penjelasan pasa Siklus I sebesar 62% dan di siklus II sebesar 100%. Pada Aspek memperhatikan pembelajaran siklus satu sebesar 55% dan siklus II sebesar 93%. Aspek Bertanya pada siklus I sebesar 38% dan di siklus II sebesar 90%.Aspek menjawab pertanyaan di siklus I sebesar 36% meningkat di siklus II menjadi 90%.Selanjutnya Aspek mengeluarkan pendapat pada siklus I sebesar 24% mengalami perubahan di siklus II sebesar 86%.Aspek menghargai pendapat teman pada siklus I sebesar 21% meningkat di siklus II sebesar 83%. Aspek terakhir, mampu menjelaskan kembali pada siklus I sebesar 21% dan mencapai 79% pada siklus II.
Hal-hal di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan terhadap partisipasi aktif belajar siswa pada Standar Kompitensi Penggandaan Dokumen.
Alat Peraga Modifikasi Sederhana Date Cards juga hasil belajar atau prestasi belajar siswa di kelas.Peningkatan ini dapat dilihat dari perubahan nilai rata-rat yang diperoleh siswa setiap akhir siklus.Nilai rata-rata pada siklus I sebesar 65.86% dan pada siklus II sebesar 78.86%.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Komar Ruzam (2009). Modifikasi Pembelajaran.
Cicilia Lilis Sumantini Jurnal Efektifita Penggunaan Alat peraga.
Dennis Mc Quail.Definisi Pemanfaatan.
Faizal (2010).Alat Peraga Instrumen Audio Visual.
Juragan (2014). Modifikasi.
Kompasiana (2016). Pengertian Modifikasi
Martinus (2012:49). Presentase Aktif Siswa.
Mukhtar (2013:81). Keunggulan Modifikasi.
Nasution (1985). Alat Peraga Pendidikan.
Riduan (2009:15)Kriteria AktifitasnIndividu.
Suharsimi Arikunto (2012:74) Penelitian Tindakan Kelas.
Sujana (2009) Pengertian AlatPeraga.0-








