
Teropongindonesianews.com
Oleh John Orlando
Alumni FFA Unwira – Warga Maumere
Ketika berbicara tentang Maumere, sering kali orang luar bahkan orang dalam sendiri cepat sekali mengaitkannya dengan pesta, minum moke, dan merokok. Ada yang berkata: “Ah, kalau orang Maumere, itu sudah pasti suka duduk ramai-ramai sambil minum moke.” Ada juga yang menambahkan, “Kalau pesta adat di Maumere, itu artinya malam panjang dengan botol moke dan rokok berbungkus-bungkus.”
Stereotip itu begitu kuat hingga akhirnya perlahan membentuk cara pandang banyak orang terhadap siapa kita. Namun, kalau kita jujur, apakah benar itu budaya kita? Ataukah itu hanyalah kebiasaan baru yang dibungkus seolah-olah sebagai budaya, padahal sama sekali tidak merepresentasikan inti kehidupan masyarakat Maumere?
Saya ingin mengatakan dengan tegas: pesta, moke, dan rokok itu bukan budaya orang Maumere. Mereka hanyalah tempelan belaka, bahkan sering kali menjadi wajah buruk yang menutupi jati diri yang sebenarnya.
Budaya Bukan Sekadar Kebiasaan
Untuk memahami ini, pertama-tama kita harus memisahkan antara “kebiasaan” dan “budaya”. Kebiasaan bisa lahir dari kondisi sosial-ekonomi, dari pengaruh zaman, atau sekadar ikut-ikutan. Misalnya, merokok. Itu kebiasaan, bukan budaya. Tidak ada leluhur kita yang meninggalkan pesan suci agar keturunan Maumere harus merokok demi menjaga martabat. Itu hanya konsumsi modern yang kemudian melekat karena dianggap bagian dari gaya hidup.
Begitu juga dengan moke. Ya, moke memang minuman tradisional dari flores, dibuat dari nira lontar atau enau yang disuling secara alami. Namun, cara orang memakainya menentukan apakah ia bagian dari budaya atau sekadar kebiasaan. Bila moke digunakan dalam ritual adat tertentu, misalnya untuk membuka percakapan adat atau menyambut tamu penting, maka ia adalah simbol penghormatan. Tapi bila moke hanya dipakai untuk mabuk, pesta semalam suntuk, bahkan kadang diikuti perkelahian, maka itu bukan budaya, itu penyalahgunaan.
Budaya orang Maumere jauh lebih luhur dari sekadar botol moke. Budaya kita adalah sistem nilai: kerja keras, solidaritas, gotong royong, dan keterbukaan. Budaya kita adalah tenun ikat dengan motif khas Sikka, yang sarat makna kosmologi. Budaya kita adalah tarian adat yang menghubungkan manusia dengan leluhur. Budaya kita adalah harmoni suara dalam koor gereja, yang menyatukan iman dengan seni.
Apakah pesta mabuk dan merokok bisa disejajarkan dengan itu semua? Tentu tidak.
Wajah Buram Stereotip
Sayangnya, yang sering ditampilkan ke luar justru wajah buram itu: orang Maumere yang selalu identik dengan moke. Tentu saja tidak semua orang seperti itu. Tapi stereotip ini menempel begitu kuat. Akibatnya, setiap kali ada hajatan atau pesta, seakan-akan wajib ada botol moke. Tidak lengkap rasanya bila tidak minum.
Bahkan ada orang yang sampai berkata: “Kalau pesta tanpa moke, itu bukan pesta orang Maumere.” Padahal, itu hanya sugesti sosial yang lahir dari kebiasaan panjang, bukan dari akar budaya. Leluhur kita tidak pernah mewajibkan hal itu. Leluhur kita jauh lebih menghargai persaudaraan yang tulus daripada gelas-gelas yang terus diisi.
Rokok pun demikian. Dalam pesta atau perkumpulan, asap rokok dianggap biasa saja, bahkan bagian dari “sosialitas”. Padahal, siapa yang diuntungkan? Industri rokok. Siapa yang dirugikan? Tubuh kita sendiri, paru-paru kita, dan kesehatan generasi. Lagi-lagi, ini bukan budaya, melainkan jebakan kebiasaan.
Budaya Sejati Orang Maumere
Kalau kita mau jujur, mari kita lihat wajah sejati budaya orang Maumere.
1. Kerja keras nelayan dan petani
Budaya kita adalah bangun pagi-pagi buta, mendayung perahu ke laut Flores, menantang ombak untuk membawa pulang ikan. Budaya kita adalah peluh petani yang menanam jagung di tanah kering, menanti hujan, dan tetap bersyukur meski hasil tak selalu banyak.
2. Solidaritas dan gotong royong
Budaya kita adalah semangat du’a mo’an, rasa persaudaraan yang membuat kita saling bantu dalam pesta adat, dalam duka, maupun dalam suka. Tidak ada yang dibiarkan sendiri. Semua saling menopang.
3. Tenun ikat sebagai bahasa leluhur
Tenun ikat Sikka bukan sekadar kain. Ia adalah teks budaya. Setiap motif adalah doa, setiap helai benang adalah simbol kosmos. Ini warisan sejati, bukan sekadar pakaian.
4. Musik dan tarian
Kita punya likurai, hedung, dan beragam tarian adat yang mengikat kita pada tanah dan leluhur. Kita punya koor yang bergema di setiap kapela. Suara kita dikenal indah, penuh harmoni, dan itu adalah wajah sejati budaya kita.
5. Relasi dengan alam dan spiritualitas
Orang Maumere hidup dalam hubungan yang erat dengan alam: laut, gunung, hutan, tanah. Kita tidak melihat alam sebagai benda mati, tapi sebagai sahabat hidup. Relasi ini melahirkan sikap spiritual yang dalam, terwujud dalam doa, misa, dan ritus adat.
Semua ini adalah budaya. Inilah yang patut kita jaga, wariskan, dan banggakan.
Bahaya Jika Budaya Disempitkan
Kalau kita terus-menerus menyamakan budaya dengan pesta, moke, dan rokok, maka kita sebenarnya sedang merendahkan diri sendiri. Kita sedang memperkecil warisan besar leluhur hanya menjadi sebatang rokok dan segelas moke.
Lebih dari itu, stereotip ini bisa berbahaya bagi generasi muda. Anak-anak muda bisa berpikir bahwa menjadi orang Maumere berarti harus bisa minum banyak moke dan tahan merokok. Mereka bisa merasa malu kalau tidak ikut. Padahal, menjadi orang Maumere seharusnya membanggakan karena kita mewarisi solidaritas, seni, dan kebijaksanaan, bukan kebiasaan buruk.
Moke: Simbol atau Sumber Masalah?
Saya tidak sedang mengutuk moke. Sebagai minuman tradisional, ia punya tempat dalam budaya. Tapi posisinya harus jelas. Dalam adat, moke adalah simbol penghormatan, simbol persaudaraan. Ia digunakan secukupnya, bukan berlebihan.
Masalahnya, sekarang moke sering digunakan di luar konteks adat. Mabuk menjadi hal yang biasa. Perkelahian sering muncul akibat minum berlebihan. Bahkan ada keluarga yang hancur karena kebiasaan ini. Lalu, apakah kita masih bisa menyebutnya budaya?
Budaya sejati membangun, bukan merusak. Budaya memelihara kehidupan, bukan menghancurkan. Kalau moke hanya jadi sumber masalah, maka ia tidak lagi berada dalam wilayah budaya, melainkan penyalahgunaan budaya.
Rokok: Kebiasaan yang Membebani
Rokok lebih parah lagi. Ia bahkan tidak punya akar budaya dalam masyarakat kita. Rokok adalah industri global yang masuk dan menjadikan kita konsumen setia. Tidak ada makna adat, tidak ada makna spiritual. Hanya ada kerugian kesehatan dan ekonomi.
Kalau ada orang berkata bahwa merokok adalah budaya, itu jelas keliru. Itu hanyalah kebiasaan buruk yang dilestarikan karena dianggap normal. Padahal, sebetulnya rokok hanya memperpendek umur, menghabiskan uang, dan memperburuk kualitas hidup.
Mengembalikan Martabat Budaya
Kita punya pilihan. Mau terus menampilkan wajah buram orang Maumere yang pesta, moke, dan rokok atau mau menampilkan wajah sejati budaya kita yang kaya, luhur, dan bermartabat.
Mengembalikan martabat budaya berarti:
Menjaga tenun ikat agar tetap hidup.
Melestarikan tarian dan musik tradisional.
Menghargai kerja keras petani dan nelayan.
Menghidupkan solidaritas du’a mo’an.
Mengajarkan generasi muda bahwa identitas bukanlah botol kosong atau puntung rokok, melainkan nilai luhur.
Jika itu yang kita lakukan, maka stereotip akan pudar. Orang luar tidak lagi melihat Maumere hanya sebagai tempat pesta moke, tetapi sebagai pusat kebudayaan Flores yang penuh warna.
Penutup
Pesta, moke, dan rokok bukanlah budaya orang Maumere. Itu hanyalah kebiasaan yang menempel, sebagian bahkan menjadi beban. Budaya sejati kita jauh lebih luhur: kerja keras, solidaritas, tenun ikat, tarian, musik, dan relasi spiritual dengan alam.
Kalau kita terus membiarkan stereotip salah ini tumbuh, kita sendiri yang merugikan diri. Generasi muda akan mewarisi kebiasaan yang salah, bukan nilai yang benar. Karena itu, mari kita berani berkata: cukup.
Budaya adalah nilai, bukan gaya hidup. Budaya adalah warisan leluhur, bukan hasil industri. Budaya adalah identitas sejati, dan orang Maumere terlalu kaya untuk direduksi hanya pada pesta, moke, dan rokok.
Tabe








