Iren, anggota foratu sedang menjelaskan ilustrasi gambar "aku dan keluargaku"
Teropongindonesianews.com
Nangaroro – Nagekeo – Forum Anak Desa atau disingkat Forades merupakan sebuah wadah organisasi anak yang sangat penting. Jika ditanya alasannya mengapa? Jawabnya adalah karena dalam wadah organisasi kecil ini anak dilatih untuk menjadi mandiri bertanggung jawab, dilatih untuk menjadi pemimpin, jadi Host, dan mereka bisa berekspresi bebas terkontrol.
Baru – baru ini Forum Anak Desa Woewutu (FORATU) kembali menggelar kegiatan peningkatan lifeskill. Kali ini Foratu yang menjadi satu –satunya forum anak
teraktif di Kabupaten Nagekeo mengadakan sosialisasi yang langsung dipimpin oleh Salah satu Anggota Jurnalis Teropong Indonesia News (Yuli Gagari) sebagai pendamping Foratu dan Thomas Brata Suyaka selaku Community Engagement and Sponsorship Programme(CESP) Wahana Visi Indonesia area program Nagekeo – Ngada (WVI AP NADA).
Kegiatan yang terjadi pada tanggal 25 Maret 2023 tepatnya di balai kantor Desa Woewutu dihadiri oleh anggota Foratu sebanyak 32 orang, Penjabat Kepala Desa Woewutu, Marselinus Minggu, mewakili Yayasan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (YAKKESTRA), Agustalia Kristanti sebagai staf lapangan.
Yuli Gagari yang dipercayakan untuk membawakan materi tentang “Aku dan Keluargaku” mengemas materi ini secara apik bagaimana relasi anak dengan keluarga dekatnya. Anak adalah anugerah Tuhan yang paling indah. Dia lahir dalam sebuah keluarga sebagai hasil cinta antara dua insan yakni pria dan wanita. Mereka tumbuh dan berkembang. Mereka dididik dengan baik dan penuh kasih sayang sehingga anakpun tumbuh menjadi anak yang berkarakter baik. Dia (Yuli) juga mencoba menggali suasana yang dihadapi anak dengan meminta anak untuk menggambar sitausi dalam keluarga mereka masing- masing yang mengesankan baik situasi yang positif maupun yang negatif.
Dari hasil pekerjaan mereka banyak yang menggambarkan situasi rumah yang sangat bahagia dan ada sebagian kecil yang kurang beruntung. Gambar dalam bentuk ilustrasi kartun yang ditampilkan anak sangat jelas terpampang bahwa mereka banyak yang masih haus akan kasih sayang, banyak yang mendambakan keluarga bahagia, dekapan hangat dari orang tua, perhatian dan cinta, serta wejangan hangat yang meneguhkan mereka.
Dari ilustrasi yang ditampilkan juga ada beberapa yang ditinggalkan salah satu orang tua karena meninggal sehingga tidak tahu sosok ayah/ibunya. Dalam situasi inipun, Yuli (sapaan akrabnya, red) sebagai pendamping selalu mensuport anak serta menjelaskan bahwa anak mendapat kasih sayang bisa dari orang sekitar. Mereka adalah guru, sanak keluarga atau orang lain sekalipun yang tidak mempunyai pertalian darah akan tetapi dapat memberikan kenyamanan kepada mereka, memenuhi kebutuhan dasar anak, cinta dan kasih sayang.

Masih dalam situasi yang sama, Thomas Brata juga menjelaskan tentang pentingnya tentang kedekatan relasi antara teman dan sahabat dan yang membuat sahabat berbeda dari teman. “Tidak semua masalah kita share kepada orang lain. Pasti kita akan memilih orang yang menurut kita nyaman untuk dijadikan pendengar. Teman adalah orang yang biasa saja dan tidak terlalu memiliki kedekatan khusus. Berbeda dengan sahabat, yang selalu ada dalam segala situasi sulit, dalam suka maupun duka serta selalu memberikan dukungan.” Ujarnya.
Dia mengharapkan agar anak- anak dapat memilah siapa yang akan dijadikan teman atau sahabat. Bukan berarti membuat jarak yang jauh akan tetapi selalu waspada dalam menjalin hubungan dengan sesama.
“Sangatlah bijak jika kita dapat memilih orang untuk dijadikan sahabat yang selalu ada dalam suka maupun duka. Dan perlu diingat juga bahwa sebesar apapun masalah yang kita hadapi hendaknya yang pertama kita share atau curhat adalah orang tua kita. Itu yang paling penting karena kedekatan batin kita dengan orang tua yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun dan siapapun.” Tegasnya.
Sebagai penyaji materi, tentu harapan dari kegiatan peningkatan lifeskill ini adalah anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi generasi emas yang berprestasi, mengajarkan anak untuk lebih mencintai keluarga, belajar untuk saling menghormati orang tua atau yang menjadi pengasuh, serta hal positif lain yang mendukung terbentuknya perilaku baik dan santun. Dan satu hal penting lagi adalah belajar untuk lebih menghargai arti sebuah persahabatan. (YULI GAGARI)
Editor Pusat : Syayudie








