
Teropongindonesianews.com
Heribertus baben politisi Partai Hanura yang sebelumnya ikut bertarung di politik legislatif untuk merebut kursi DPRD provinsi dengan perolehan suara kurang lebih 11.000. Suara itu hasil dari akumulasi 3 kabupaten, namun jumlah itu tidak pas untuk menghantarnya ke sana.
Saat ini, Ia memutuskan untuk menjadi tim koordinator relawan muda Ansy Lema di tiga kabupaten, Manggarai, Manggarai timur dan Manggarai Barat.
Keputusan Heri mendukung sekaligus menjadi koordinator relawan Muda Ansy , dengan alasan melihat sosok Ansy yang tidak pernah berubah semenjak waktu sama-sama sekolah di Seminari Pius XII Kisol hingga lanjut kuliah di pulau Jawa.
“Ansy itu orangnya sangat rendah hati, saya kenal beliau sejak sama-sama di Seminari Kisol, orangnya tenang dan suka berkorban untuk orang lain, sifat Ansi itu tdk pernah berubah hingga Ia menjadi Angota DPR RI”, tegas Hery.
Lebih lanjut, Heri menjelaskan “Ansy itu calon pemimpin visioner yang memiliki wawasan jauh ke depan, mampu membangun nilai-nilai yang kuat, dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama” jelasnya.
Menurut Hery, Ansy mau maju Gubernur NTT itu bukan sedang melawan siapa-siapa, tetapi betul betul hadir untuk melayani masyarakat NTT lebih dekat.
“Keputusan Ansy maju menjadi calon Gubernur itu yang jelas harus mengundurkan diri dari DPR RI. Keputusan pengunduran diri itu keputusan yang sangat berisiko, tetapi menurutnya itulah Ansy Lema tipe pimpin yang mau berkorban untuk kepentingan masyarakat NTT secara keseluruhan” ujar Hery.
Informasi yang dperoleh Media ini, baliho Ansi Lema sudah menyebar kesuluruh 3 kabupaten, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
Pengakuan Heri, baliho itu dipasang oleh masyarakat sendiri secara sukarela sebagai bentuk kerinduan masyarakat untuk melahirkan pemimpin yang bersih di NTT.
“Baliho itu dijemput langsung oleh masyarakat di percetakan adik, dan sudah tersebar ke tiga wilayah Manggarai. Pemasangannya juga dilakukan secara sukarela, ini membuktikan Ansy pemimpin yang dirindukan masyarakat” tutup Heri.
Pewarta: Susillo Hermanus.
Editor: Santoso.







