
Teropongindonesianews.com
SUMENEP – Suasana di Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Jawa Timur, mendadak ricuh pada Senin pagi, 8 Juli. Tiga kapal tongkang penyeberangan bersitegang lantaran memaksa masuk jalur dermaga secara bersamaan, padahal hanya tersedia satu lintasan.
Keributan itu melibatkan KM Rahmatullah milik pengusaha lokal, Halimah, serta dua Kapal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Gersik Putih dan Kalianget. Ketiganya nyaris bersenggolan saat hendak bersandar.
“Hari ini jadwalnya saya dan BUMDes Kalianget. Tapi mereka ngotot jalan juga, Aturannya jelas, jangan serakah,” kata Halimah kepada kami, dengan nada tinggi.
Menurut jadwal resmi yang diatur Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep, operasi hari itu seharusnya hanya milik KM Rahmatullah dan tongkang BUMDes Kalianget. Namun, BUMDes Gersik Putih tetap memaksa berlayar.
Data yang diperoleh kami menunjukkan, Gersik Putih sebenarnya memiliki dua tongkang, lama dan baru. Izin trayek kapal lama telah dicabut, digantikan oleh tongkang baru. Namun, karena tongkang baru rusak, kapal lama masih tetap beroperasi selama berbulan-bulan.
“Kenapa Dishub membiarkan tongkang lama yang jelas-jelas tak punya izin trayek tetap jalan?” ujar seorang aktivis pemerhati transportasi Sumenep.
Kericuhan sempat menarik perhatian warga sekitar. Sejumlah penumpang pun terlihat bingung menentukan kapal mana yang benar-benar sah beroperasi.
Hingga berita ini ditulis, Dishub Sumenep belum memberi penjelasan resmi. Jangan-jangan ada pihak di internal Dishub yang ikut melindungi keberadaan tongkang ilegal tersebut, Patut Di Pertanyakan. RAHMAN







