
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta,
Koordinator Panti/Yayasan
Kiprah Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) dalam berbagai bidang pelayanan tidak terlepas dari peran sentral hamba Allah Mgr. Hendricus Leven, SVD. Dialah hamba Allah yang memungkinkan CIJ mengembangkan visi dan misi dan konsisten dengan pilihan pelayanan bagi orang kecil melalui beberapa bidang pelayanan yakni Pendidikan, Kesehatan, Pastoral dan Sosial-Kemanusiaan. Pendiri CIJ, Mgr. Hendricus Leven, SVD adalah hamba Allah dengan aura orang kecil dan sensitivitas iman mendalam akan kehadiran Allah dalam diri mereka.
Tidak Sekadar Pesan
Sebelum meninggalkan Jopu Ende Flores tahun 1953 dan kembali ke Style Belanda karena alasan kesehatan, pendiri Congregatio Imitationis Jesu (CIJ), Mgr. Hendricus Leven, SVD tinggalkan pesan: “Orang kecil harus ada pada kamu.”
Pernyataan ini tidak sekadar pesan biasa yang ditinggalkan. Selain sebuah wasiat, ini adalah aura atau kharisma yang terpancar dari dirinya dan mencerminkan kondisi emosi, psikologi dan spiritual hamba Allah Mgr. Hendricus Leven, SVD yakni pilihan (opsi) keberpihakan dan sensitivitas iman akan kehadiran Allah dalam kaum periferi (orang kecil).
Aura karismatik dan sensitivitas iman itu tercermin dalam kepekaan sosial dan kualitas iman Mgr. Hendricus Leven, SVD merespon situasi sosial (kehidupan sesama dan lingkungan). Sensitivitas ditunjukan melalui kedalaman imannya akan kehadiran Allah dalam diri sesama terutama orang-orang kecil, miskin dan menderita.
Kepekaan sosial atas keberadaan orang kecil dan sensitivitas imannya itu mendorong CIJ yang didirikannya untuk menjadikan orang kecil sebagai opsi/pilihan keberpihakan dalam karya pelayanan: “Orang kecil harus ada padamu…!” CIJ konsisten atas pilihan itu dalam pelaksanaan tugas perutusan dan pelayanannya sebagai sebuah Kongregasi Pengikut Yesus.
Itu berarti iman yang dimiliki Mgr. Hendricus Leven, SVD tidak hanya sebatas keyakinan, tapi juga diekspresikan melalui kepedulian, empati, kesalehan dan ketaatan pada perintah dan Sabda Tuhan. “Segala sesuatu yang kamu perbuat terhadap saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan terhadap Aku” (Mat, 25:40).
Pimpinan Panti Santa Dymphna menyadari betapa sentral dan pentingnya peran Mgr. Hendricus Leven, SVD. Aura kharismatik dan sensitivitas imannya memunkinkan CIJ ada dan berbagai bidang pelayanan dengan berbagai sasarannya terlaksana.
“Saya sebagai Pimpinan Panti Santa Dymphna khususnya dan CIJ sebagai sebuah Kongregasi menyadari bahwa tanpa aura kharismatik dan senstivitas iman Mgr. Hendricus Leven, SVD terhadap orang kecil, tidak akan ada CIJ dengan berbagai bidang pelayanannya. Tidak ada Panti Santa Dymphna di bawah pimpinan saya dan para pekerja yang membaktikan hidupnya bagi ODGJ. Tidak ada ODGJ yang direhabilitasi. Dan tidak ada penyintas yakni ODGJ yang alami kesembuhan”, demikian Sr. Lucia, CIJ yang membaktikan seluruh hidupnya di Panti Santa Dymphna puluhan tahun.
Aura kharismatik dan sensitivitas iman Mgr. Hendricus Leven, SVD adalah pintu masuk yang memungkinkan CIJ hadir dan berbagai pelayanan sosial pada unit-unit pelayanan dengan aneka sasarannya terlaksana. Aura orang kecil dalam diri Mgr. Hendricus Leven, SVD merupakan tanggapan nyata atas Sabda Tuhan: “Segala sesuatu yang kamu perbuat terhadap saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan terhadap Aku” (Mat, 25:40).
Mereka yang terhina, terpinggir, termiskin, terbuang, tersalib, tidak diuntungkan dan menderita seperti ODGJ tidak sekadar pilihan prioritas Yesus dalam tugas perutusan Bapa-Nya ke dunia. Tapi mereka adalah Kristus yang lain, yang hadir dalam diri orang kecil itu.
Pilihan prioritas Yesus dan aura orang kecil Mgr. Hendrikus Leven, SVD itu dijadikan pilihan keberpihakan dalam pelayanan dan tugas perutusan CIJ. CIJ menanggapi Sabda Tuhan itu dan menghidupi aura kharismatik dan sensitivitas iman itu secara konsisten melalui empat bidang karya yakni Pendidikan, Kesehatan, Pastoral dan Sosial) sehingga visi dan misi Kongregasi menjadi lebih holistik.
Karena itu Sr. Lucia, CIJ percaya bahwa Mgr. Hendricus Leven, SVD telah hidup dalam keabadian dan kebahagian. Ia menjadi pendoa. “saya Sr. Lucia, CIJ, Pimpinan Panti Santa Dymphna dan para pekerja meyakini bahwa Mgr. Hendricus Leven, SVD adalah hamba Allah dengan kepekaan dan sensitivitas iman yang kuat dan mendalam akan kehadiran Allah dalam diri sesama terutama orang kecil, seperti ODGJ. Dia adalah hamba Allah dengan keteladanan dan tokoh iman yang telah hidup dalam keabadian. Ia dapat dijadikan pendoa bagi CIJ dan terutama klien (ODGJ) di Panti Santa Dymphna khususnya. Dia telah hidup dalam kebahagiaan dan keabadian”, demikian keyakinan Sr. Lucia, CIJ.
Atas dasar iman akan hal itu, maka Panti Santa Dymphna selalu melakukan Novena bersama kepada hamba Allah, Mgr. Hendricus Leven, SVD, mohon penyembuhan bagi klien (ODGJ) setiap kesempatan selain Santo Vinsensius pelindung yayasan dan Santa Dymphna pelindung panti. Demikian kepada inspirator rumah jiwa, P. Engelbertus Khünne, SVD. Aura dan spiritualitas keberpihakan terhadap orang kecil dan imannya yang mendalam akan kehadiran Allah dalam diri mereka meyakinkan kami bahwa setiap mukjizat penyembuhan yang dialami oleh klien adalah juga berkat doa Mgr. Hendricus Leven, SVD.
Tidak Sekadar Saksi Mata
Panti Santa Dymphna Yayasan Bina Daya Santo Vinsensius Maumere Flores NTT adalah salah satu unit pelayanan sosial Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ). Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah sasaran pelayanan yang dilakukan panti. Berbagai kegiatan pelayanan rehabilitasi diberikan kepada ODGJ. Di antaranya: Kegiatan psiko-spiritual, pendampingan psikologi, pendampingan medis/herbal, sosial, kinestetis, pendampingan/perawatan fisik dan perhatian gizi atau nutrisi. Ketenagaan, sarana prasarana dan fasilitas yang memadai juga turut mendukung terselenggaranya kegiatan rehabilitasi dan kesembuhan klien (ODGJ).
Sejak didirikan, 26 Januari 2004 ada 387 Penyandang Masalah Sosial (PMS) seperti orang dengan kecacatan fisik, yatim-piatu, korban KDRT dan kekerasan seksual, epilepsy dan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) telah dikembalikan ke tengah keluarga, orangtua/wali. Mereka telah kembali dan hidup normal bersama orangtua dan keluarga di kampung halamannya.
Anggota Komunitas Panti Santa Dymphna adalah saksi mata atas peristiwa kesembuhan yang dialami klien (ODGJ). Mereka mengetahui, menyaksikan dan mengikuti secara baik perjalanan dan perkembangan kondisi kesehatan kejiwaan ODGJ dalam seluruh kegiatan pendampingan hingga mereka sembuh. Namun komunitas Panti Santa Dymphna tidak sekadar saksi mata.
“Tetapi sesungguhnya kami tidak sekadar saksi mata atas peristiwa atau mukjizat yang dialami mereka. Kami juga tidak hanya sekadar pekerja yang diutus atau yang memilih Panti Santa Dymphna sebagai ladang berkarya. Di Panti Santa Dymphna, kami semua adalah saksi iman dan mengimani atas penyembuhan yang dialami mereka”, tegas Sr. Lucia, CIJ, Pimpinan Panti Santa Dymphna.
Bahwa mukjizat kesembuhan yang dialami itu tidak semata usaha manusia atau Panti Santa Dymphna. Tapi juga adalah karya dan penyelenggaraan Allah. Dia telah menunjukkan kuat – kuasa dan belaskasihan-Nya secara nyata dalam diri mereka dan kami adalah saksi-saksi iman atas kesembuhan itu”, lanjut Sr. Lucia, CIJ, alumnus Stipas St. Cyrilus Ruteng Manggarai itu.
Seperti Abraham, Sara, Isak, Yakub, Yusuf dan Musa, mereka (seluruh penghuni panti dan pekerja) hidup oleh dan karena iman, harapan dan kasih. CIJ – YASBIDA (pemilik dan penyelenggara) dan para perawat-tenaga psikologi-karyawan/ti (pekerja) percaya pada janji dan penyelenggaraan Allah dalam seluruh karya pelayanan terhadap ODGJ di Panti Santa Dymphna.
Sebagai saksi iman dan mengimanan atas kesembuhan klien, tiga kebajikan utama ini yakni iman, harapan dan terutama kasih adalah dasar dari seluruh karya pelayanan dan segala sesuatu yang diharapkan ketika mengalami tantangan dan kesulitan terutama atas kesembuhan bagi klien (ODGJ) di Panti Santa Dymphna.
Iman menuntun pada harapan, dan keduanya diwujudkan melalui kasih (1 Korintus, 13: 13). Kasih adalah ungkapan tertinggi yang menggerakan tindakan nyata kepada sesama terutama yang menderita (ODGJ) dengan berbagai kegiatan pelayanan. Doa, Novena dan Ekaristi dan kegiatan pelayanan lainnya adalah kegiatan-kegiatan pelayanan sosial yang dipersembahkan dan dilakukan dalam iman dan dengan penuh harapan di atas dasar kasih untuk kesembuhan klien (ODGJ). Doa pagi dan rayakan Ekaristi bersama ODGJ, Doa Kerahiman bersama, Doa Rosario Sore Hari, doa tutup hari pukul 21.000 dilakukan dengan penuh iman. Demikian juga Novena kepada Santo Vinsensius a Paulo, pelindung Yayasan, Santa Dymphna pelindung panti, Novena kepada Mgr. Hendricus Leven, SVD dan P. Engeberltus Khünne, SVD.
Karena itu setiap mukjizat kesembuhan dialami klien adalah buah dari iman, harapan dan hidup dalam belas kasih serta bukti dari penyelenggaraan dan kemurahan Allah yang tidak dilihat (Ibrani, 11:1- 40). Setiap kesembuhan dialami, setiap tantangan dan kesulitan teratasi adalah buah dan bukti dari iman, harapan dan kasih. Kami percaya bahwa melalui Doa, Novena dan Ekaristi dan berbagai kegiatan terapi lainnya, Allah yang tak kelihatan telah menunjukkan belas kasih dan kemurahan-Nya secara nyata dalam diri sesama (para donator) dan teristimewa dalam diri klien yang alami kesembuhan.








