
Teropongindonesianews.com
Situbondo – Ketenaran dan popularitas tidak selamanya menjamin kehidupan seorang Trisnawati, legenda seniman Tari Remo Trisnawati yang menjadi Icon tari Remo Jawa Timur yang berasal dari kabupaten Situbondo.

Perempuan paruh baya kelahiran 1 Februari 1965 yang menekuni tari Remo sejak usia 6 tahun yang di warisi kakeknya, sukses membawa Tari Remo menjadi Icon Jawa Timur dengan nama Tari Remo Trisnawati.
Ketenaran Tari Remo Trisnawati tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur saja, melainkan Tari Remo Trisnawati Situbondo ini, juga menjadi Materi Pokok tari khusus di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, sedangkan di ISI Surakarta menjadi materi pilihan untuk tari Remo Trisnawati.

Selama karir Trisnawati, selain pementasan untuk di masyarakat, juga memberi Kontribusi bagi lembaga formal pendidikan seni, terutama tari dan sinden. Sering mahasiswa Universitas Negeri Malang, STKW, ISI Surakarta, Universitas Abdurrahman Saleh Situbondo, dan sekolah ( SD,SMP, SMA), yang belajar langsung ke Trisnawati, entah untuk kepentingan tugas akhir, pengambilan audiovisual, untuk festival dan sebagainya, seperti yang di lansir majalah Penghargaan Seniman Jatim 2015.
Namun kini nasib Trisnawati tidak seberuntung lembaga lembaga pendidikan formal yang sudah mendapat kontribusi dari seorang Trisnawati.

Kondisi yang sangat memilukan dari seorang legenda Tari Remo Trisnawati, yang sampai saat ini masih hidup di rumah kontrakan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari harinya dia juga rela bekerja sebagai buruh cuci, dan ikhlas menjalaninya, sungguh ironis nasib seniman Trisnawati dalam menjalani nasibnya.
Kondisi memilukan Trisnawati yang juga seorang janda ini, mendapat perhatian khusus dari Agus Ariyanto, anggota Asosiasi Seni Budaya Nusantara (ASENDA), yang di dampingi Bapak Hosnatun ( sesepuh seniman Situbondo), P.Sarkawi (tokoh masyarakat), berkunjung ke kediaman Trisnawati dan memberikan Tali Asih berupa bingkisan untuk kebutuhan sehari hari, pada Selasa 24/5/2022.

Dalam keterangan nya, Agus yang mewakili Asenda mengatakan bahwa dirinya sangat sedih dan Geram sekali melihat Kondisi Trisnawati. Lebih lanjut Agus mengatakan bahwa Trisnawati adalah korban kejahatan ekploitasi terhadap Hak Kekayaan Intelektual seorang Trisnawati sebagai pelaku seni, dan semestinya Lembaga lembaga formal pendidikan tersebut bertanggung jawab akan kondisi Trisnawati saat ini, dan pemerintah Jawa Timur harus turun tangan terhadap nasib tragis Trisnawati sebagai Aset Bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Nusantara. Agus juga mengatakan bahwa dirinya akan membawa permasalahan Trisnawati ini ke jajaran Asenda tingkat pusat, pungkas Agus. (BiroTIN Situbondo)






